Kabupaten Bantaeng merupakan salah satu wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki sejarah panjang dan kekayaan budaya yang masih dipertahankan hingga saat ini. Daerah ini dikenal dengan julukan Butta Toa yang berarti tanah tua, yang menunjukkan bahwa wilayah ini dianggap memiliki jejak peradaban dan perkembangan masyarakat yang cukup lama dalam sejarah kebudayaan Sulawesi Selatan (Syuhada et al., 2024; AksaraNews, 2020).

Pada masa lampau, wilayah ini dikenal dengan nama Bantayan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa nama tersebut berkaitan dengan kegiatan penyembelihan hewan yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu atau utusan kerajaan yang datang dari wilayah lain (Tribun Makassar, 2019).

Suasana saat berlangsungnya kunjungan di Ballak Tujua ri onto, Selasa (10/3). Foto: Dokumentasi Pribadi.

Seiring berjalannya waktu, nama Bantayan mengalami perubahan menjadi Bhontain, terutama pada masa pengaruh kolonial. Selanjutnya nama tersebut berubah menjadi Bantaeng yang digunakan hingga saat ini (AksaraNews, 2020).

Perubahan nama tersebut menunjukkan adanya perkembangan sejarah yang cukup panjang dalam perjalanan wilayah tersebut. Selain berdasarkan catatan sejarah, asal-usul Bantaeng juga sering dikaitkan dengan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat.

Cerita tersebut berkaitan dengan kisah tujuh kare yang menemukan sosok Tumanurung di wilayah Desa Onto. Kisah tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan yang masih diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat (Syuhada et al., 2024).

Desa Onto merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Bantaeng yang masih mempertahankan berbagai tradisi budaya yang berasal dari masa lampau. Desa ini terletak di kawasan lereng Gunung Lompobattang dan dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki nilai sejarah pentinng.

Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat setempat, Desa Onto sejak dahulu dikenal sebagai tempat berkumpulnya para pemimpin wilayah yang disebut kare. Para kare tersebut memiliki peran penting dalam mengatur kehidupan masyarakat sebelum terbentuknya sistem pemerintahan seperti yang dikenal sekarang.

Selain itu, masyarakat Desa Onto juga mempercayai adanya kisah mengenai Tumanurung, yang dianggap sebagai sosok penting dalam sistem kepemimpinan tradisional masyarakat Bantaeng. Kepercayaan tersebut menjadikan Desa Onto sebagai salah satu tempat yang memiliki nilai sakral bagi masyarakat setempat. Keberadaan berbagai situs budaya seperti Ballak Tujua, Batu Tujua, dan Batu Lonjok semakin memperkuat posisi Desa Onto sebagai salah satu pusat kebudayaan tradisional di Kabupaten Bantaeng.

Ballak Tujua sendiri dikenal sebagai salah satu rumah adat yang memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat Bantaeng (Ansar & Mardiana, 2024). Pada masa lampau, kawasan Ballak Tujua terdiri dari tujuh rumah adat yang dibangun oleh para kare sebagai tempat berkumpul maupun beristirahat.

Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, ketujuh rumah tersebut dibangun dengan posisi yang menghadap ke arah utara. Susunan tersebut dipercaya memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan sistem kepemimpinan tradisional masyarakat Bantaeng. Namun seiring berjalannya waktu, rumah adat yang masih tersisa hingga saat ini hanya satu bangunan.

Bagi masyarakat setempat, Ballak Tujua tidak hanya dipandang sebagai bangunan fisik semata, tetapi juga dianggap sebagai simbol sejarah yang mengingatkan masyarakat pada asal-usul kepemimpinan tradisional di wilayah tersebut.

Di kawasan Ballak Tujua juga terdapat berbagai benda pusaka yang masih dijaga oleh masyarakat. Salah satu pusaka yang cukup dikenal adalah keris, yang memiliki dua bentuk yaitu keris lurus dan keris dengan tujuh lekukan. Keris dengan tujuh lekukan dipercaya melambangkan tujuh kare yang memiliki peran penting dalam sejarah masyarakat Bantaeng.

Salah satu benda pustaka keris di Ballak Tujua ri Onto. Foto: Dokumentasi Pribadi.

Selain keris, terdapat pula pusaka lain seperti tombak, serta berbagai perlengkapan adat seperti songko, bakul, dupa, dan lekok yang biasanya digunakan dalam kegiatan adat tertentu.

Meskipun perkembangan zaman terus berlangsung, beberapa tradisi adat yang berkaitan dengan Ballak Tujua masih tetap dipertahankan oleh masyarakat. Salah satu tradisi yang masih dikenal adalah ritual Anggaru, yaitu bentuk penghormatan yang dilakukan di hadapan Tumanurung. Dalam ritual tersebut, keris digunakan sebagai simbol keberanian serta kesetiaan kepada pemimpin.

Keberadaan tradisi tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh leluhur masih tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat hingga sekarang.

Ballak Tujua ri Onto merupakan salah satu peninggalan budaya yang memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat Kabupaten Bantaeng. Keberadaan rumah adat ini berkaitan erat dengan kisah tujuh kare serta sosok Tumanurung yang dipercaya dalam sejarah masyarakat setempat.

Selain berfungsi sebagai rumah adat, Ballak Tujua juga menjadi simbol identitas budaya masyarakat Bantaeng. Berbagai benda pusaka serta tradisi adat yang masih dipertahankan hingga saat ini menunjukkan bahwa masyarakat masih menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh leluhur mereka. Dengan demikian, Ballak Tujua ri Onto dapat dipandang sebagai salah satu bukti nyata yang menunjukkan bagaimana sejarah dan kebudayaan masyarakat Bantaeng masih tetap terpelihara hingga sekarang.

Penulis: Reski Rahsya Rahman¹, Heni Hardiana², Hasnaeni Rasyid³, Angga dwi satya⁴, Aswati Asri⁵