Skip to toolbar

MODALITAS POLITIK DINASTI YASIN LIMPO

Sebelum dibahas jauh lebih dalam mengenai modalitas politik Yasin Limpo, terlebih dahulu perlu dipahami mengenai pengertian dari politik dinasti yang dimaksud sebagai sebuah kekuasaan politik yang dijalankan oleh sekelompok orang yang memiliki hubungan kekerabatan. Dinasti ini merupakan ciri khas dari kerajaan, karena sistem kekuasaan pada masa itu turun-temurun dari orang tua yang terdahulu, lalu kepada sang anak agar kekuasaan yang ada tetap dipegang oleh keluarga atau kelompok tersebut.

Politik Dinasti Yasin Limpo hari Ini, memiliki keterkaitan dengan fenomena local Strongmen atau orang kuat lokal yang ada di Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan (Sulsel). Jika dilihat bersama, kekuasaan Yasin Limpo dilanjutkan oleh putranya yaitu Adnan Purichta Ichsan Yasin Limpo. Yasin Limpo sendiri memiliki pengaruh serta modalitas pada pilkada tersebut, di antaranya modalitas keikutsertaan beliau pada kontestasi Pilkada 2015 sehingga membuat putranya memiliki peluang yang lebih besar untuk terpilih dibandingkan kandidat lainnya. Terpilihnya Adnan Purichta Ichsan Yasin sebagai Bupati Gowa periode 2016-2021 terindikasi berlanjutnya politik family (keluarga) yang memiliki pengaruh kuat (strong family). Ada hal menarik pada pilkada saat Adnan Purichta Ichsan mencalonkan, di mana adanya keikutsertaan dua kandidat dari keluarga yang sama yaitu dari keluarga Yasin Limpo. Bukan hanya Adnan namun juga Tenri Olle Yasin Limpo juga turut mencalonkan diri dalam pilkada tersebut. Keikutsertaan beberapa kandidat berasal dari keluarga yang sama bukanlah hal baru di Indonesia, namun pada umumnya kandidat yang berasal dari keluarga yang sama berkompetisi di wilayah yang berbeda. Oleh sebab itu, pilkada di Gowa menarik pada saat itu, karena terjadi kompetisi di antara dua kandidat yang dari keluarga yang sama dan juga memperebutkan satu kursi. Munculnya realita keluarga politik sendiri ditandai keikutsertaan sang suami, istri, anak serta kerabat lainnya asal petahana pada kancah politik, baik itu Pemilihan Kepala Wilayah (Pilkada), Pemilihan Legislatif (Pileg), atau penempatan jabatan-jabatan krusial lainnya, seperti pada Politik Dinasti Yasin Limpo yang masuk dalam kategori keluarga Politik.

Sesuai dengan judul artikel ini Politik Dinasti Yasin Limpo erat kaitannya dengan modalitas pada pilkada. Pewarisan modalitas tersebut berupa warisan basis massa, warisan birokrasi dan warisan program unggulan merupakan modal yang paling mempunyai efek yang relatif akbar. Modalitas dalam kontestasi pemilihan kepala daerah, diharapkan kandidat menjadi upaya agar dapat memperoleh kemenangan. Pada dasarnya modal dibedakan menjadi empat kategori, di antaranya adalah modal ekonomi (berupa kekayaan, uang, properti), modal kultural (berupa pengetahuan, kualifikasi pendidikan, gelar akademik, serta bahasa), kapital sosial (berbagai jenis rekanan dan jaringan) serta modal simbolik (seperti prestasi, kehormatan serta kharisma).

Modalitas Politik Dinasti Yasin Limpo

Modal Ekonomi
Modal ekonomi ialah akar dari seluruh jenis modal lain. Modal ekonomi dalam hal ini dipandang dari berbagai aspek yang dimiliki oleh calon kepala daerah pada saat Pilkada. Kapital ekonomi yang dimiliki oleh pasangan Adnan Purichta Ichsann YL-Abdul Rauf Malaganni (Adnan-Kio) jika dibandingkan dengan pasangan Tenri Olle Yasin Limpo-Hairil Muin (Pastikan-Mi) ada disparitas yang relatif signifikan. Harta kekayaan Adnan sendiri tergolong sedikit, namun Jika diakumulasi dengan harta kekayaan calon wakilnya maka dihasilkan nilai total harta kekayaan keduanya sejumlah Rp16.153.495.573. Sedangkan nilai total harta kekayaan Tenri Jika diakumulasi dengan calon wakilnya hanya sejumlah Rp7.934.261.984.

Modal Sosial
Keluarga Yasin Limpo adalah keluarga yang dihormati di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Gowa. Ketokohan tersebut mulai dibangun oleh Muhammad Yasin Limpo yang pernah menjadi Pejabat Bupati pada Kabupaten Gowa serta beberapa wilayah lainnya. Kemudian, pengaruh ini dilanjutkan oleh kedua anaknya, Syahrul Yasin Limpo yang menjadi Bupati Gowa dua periode (1994-2002) dan Ichsan Yasin Limpo yang juga dua periode (2005-2015). Dengan rentang waktu yang relatif lama tadi, tentunya keluarga Yasin Limpo telah menanamkan banyak kapital sosial kepada rakyat Kabupaten Gowa sehingga dalam setiap Pilkada selalu dimenangkan keluarga Yasin Limpo. Hal itu tidak terlepas dari hubungan yang telah dibangun antara kedua bupati dengan warga dan menjaganya agar terus berlangsung sepanjang waktu. Modal sosial yang telah ditanamkan Ichsan Yasin Limpo selama menjabat sebagai bupati selama dua periode lalu, dimanfaatkan sang anak. Adnan mengakui secara amanah bahwa modal kemenangannya pada Pilkada Gowa 2015 tidak terlepas berasal kesuksesan ayahnya (Ichsan) selama memimpin Kabupaten Gowa. Basis massa telah matang inilah yang menjadi keunggulan Adnan dibanding Tenri dan calon lainnya.

Adnan secara tegas mengakui bahwa kemenangannya ialah faktor keberhasilan Ichsan menjadi bupati sebelumnya. Jaringan birokrasi yang masih ditentukan Ichsan, menjadikan relasi Adnan luas dan membantu kelancaran proses pencalonan juga mobilisasi dukungan melalui birokrasi sampai ke tingkat desa. Sikap birokrasi yang segan terhadap Ichsan tentu saja ditimbulkan sebab lamanya hubungan yang telah dijalin. Kepala daerah dalam membangun kepatuhan birokrasi adalah dengan menciptakan ketakutan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dapat dimutasi dan dicopot jabatannya melalui keputusan atau kebijakan ketua wilayah tadi. Politisasi birokrasi sebagai salah satu taktik Adnan untuk memenangkan Pilkada dengan melakukan pengerahan birokrasi ke ranah politik. Tenri pula memiliki jenis kapital sosial yang dipergunakannya untuk meraih suara dalam Pilkada tahun 2015. Berbeda dengan Adnan yang memaksimalkan basis massa serta dukungan birokrasi, Tenri lebih mengharapkan agama warga secara pribadi. Tim sukses Tenri menyatakan bahwa Tenri memiliki daya tarik yang bisa memikat rakyat secara eksklusif dan hal itu dimaksimalkan menggunakan kampanye terbuka.

Sebagaimana Adnan, Tenri juga sebenarnya memakai korelasi menjadi kapital sosial. Namun, tidak sinkron dengan Adnan yang didukung secara penuh oleh Ichsan dan dinyatakan secara terbuka sedangkan anggota keluarga lainnya tidak secara terbuka membagikan dukungannya kepada Tenri (Dewi dan Haris Yasin Limpo). Tenri sebenarnya mendapatkan dukungan asal Syahrul, Irman serta Tenri nomor Yasin Limpo. Namun, lagi-lagi semuanya tidak membagikan dukungannya secara terang-terangan. Sebagai akibatnya, dukungan anggota keluarga Yasin Limpo terhadap Tenri bukan menjadi modal sosial yang konkret serta berdampak pada dukungan bunyi baginya.

Modal Kultural
Di Sulawesi Selatan, kultur kekeluargaan adalah faktor determinan pada kontestasi politik baik Pilkada dan Pileg. Kenyataan keluarga politik baik pada taraf provinsi maupun kabupaten atau kota begitu nyata serta meluas. Di beberapa daerah Sulawesi Selatan terlihat pemimpinnya mengikutsertakan anggota keluarga lainnya pada global politik, tidak hanya menjadi pemimpin wilayah tetapi juga sebagai anggota legislatif. Keadaan ini memperkuat potensi untuk melanjutkan kekuasaan menjadi semakin terbuka lebar.

Adanya harapan masyarakat untuk memilih balik elite-elite politik berasal keluarga yang sama dinilai sang Rasyid (1991) menjadi akibat asal karakteristik warga Sulawesi Selatan menghargai korelasi relasi. Kultur kekerabatan itu juga yang menjadi kapital politik keluarga Yasin Limpo pada Pilkada Kabupaten Gowa pada tahun 2015, baik bagi Adnan maupun Tenri. Kultur rakyat di Sulawesi Selatan sebagai salah satu faktor penyebab terbentuknya family politik.

Keikutsertaan anggota keluarga lainnya pada kancah politik untuk melanjutkan kekuasaan sebelumnya juga didukung oleh sikap rakyat yang menyampaikan lampu hijau. Tentu, selain asal sikap warga tersebut, kesempatan ini juga dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para anggota keluarga untuk terlibat dalam dunia politik. Kultur korelasi pada budaya rakyat Sulawesi Selatan dimanfaatkan oleh keluarga politik termasuk keluarga Yasin Limpo untuk dikonversi sebagai kapital kultural.

Modal Politik
Kedua kandidat yang berasal dari keluarga Yasin Limpo baik Adnan juga Tenri tercatat menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Kedua, diri dari keanggotaan DPRD sebagai kondisi agar dapat mencalonkan menjadi ketua wilayah pada Pilkada Kabupaten Gowa. Terlihat bahwa keduanya memiliki kapital politik dan telah melalui proses pemilihan umum yang mengharuskan mereka untuk menggunakan calon-calon wakil DPRD asal partai-partai lainnya. Pengalaman beserta aktivitas mereka sebagai anggota dewan daerah, sebagai kapital politik kedua kandidat untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat biasa hingga elit. Hal itu telah dilakukan pada saat masih menjadi anggota DPRD. Hasil pada saat Pilkada, keduanya sudah kaya akan pengalaman politik dan aspek lain asal modal politik. Bukan hanya aspek pengalaman politik, keduanya juga memiliki aspek lain yang berasal dari kapital politik yaitu survei elektabilitas. Survei elektabilitas umumnya dijadikan sebagai bahan acuan untuk memilih pilihan, baik itu partai politik juga masyarakat terhadap kandidat. Pada penelitian ini, tersaji dua survei terhadap lima pasangan calon ketua daerah yaitu, dilakukan sang Jaringan Suara Indonesia (JSI) dan Bulat Berita Umum Indonesia (LSI).

Penulis: Maulani Safitri, Mahasiswi Ilmu Politik, UIN Alauddin Makassar.

Leave a Reply