“Siapa ini harum sekali, laki-laki itu tidak boleh terlalu harum, seperti bencong kalau begitu.”
Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kalimat seperti itu? Speechless. Bisa-bisanya masih saja ada manusia yang mempunyai pikiran sempit seperti itu.
Beberapa waktu lalu, saya mendengar langsung pernyataan tersebut. Yang membuat lebih miris, kalimat itu diucapkan oleh seorang dosen di depan banyak mahasiswa lainnya. Dosen tersebut bahkan mengulanginya hingga dua kali, seolah ingin menegaskan bahwa laki-laki yang memakai parfum sama saja dengan “bencong.”
Ucapan seperti itu mungkin dianggap sekadar gurauan, tetapi sesungguhnya menyimpan masalah serius. Di era ketika isu kesetaraan gender dan kebebasan berekspresi sudah semakin disuarakan, masih saja ada pandangan sempit tentang bagaimana seharusnya laki-laki tampil dan berperilaku. Bau tubuh yang wangi, pakaian yang rapi, atau perawatan diri yang telaten dianggap mengikis “kelakian”. Padahal, sejak masa lampau, para laki-laki bangsawan dan tokoh spiritual telah mengenal serta merayakan wewangian sebagai bagian dari perawatan dan kehormatan diri. Jadi, mengapa keharuman justru menjadi ancaman bagi maskulinitas?
Kekeliruan Logika dalam Stigma Maskulinitas
Lebih dari itu, menurut saya pernyataan tersebut menunjukkan kekeliruan logika berpikir. Mengapa sesuatu yang netral dan bermanfaat seperti memakai parfum untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan harus dipersempit seolah-olah hanya ada dua pilihan: laki-laki sejati tidak boleh harum, sementara laki-laki yang harum otomatis dianggap “bencong”? Cara berpikir seperti ini adalah bentuk false dilemma, menciptakan pilihan biner yang palsu, padahal kenyataannya ada banyak kemungkinan lain.
Apakah maskulinitas hanya bisa diukur dari bau badan? Apakah seorang laki-laki yang wangi pasti kehilangan identitas kelelakiannya? Dengan logika yang sama, kita bisa saja berlebihan menyimpulkan bahwa perempuan yang tidak memakai parfum berarti lebih “maskulin,” padahal itu tidak masuk akal.
Pernyataan sang dosen tidak hanya diskriminatif, tetapi juga gagal secara rasional karena menyederhanakan persoalan kompleks menjadi dua kutub yang keliru: harum sama dengan “bencong”, tidak harum sama dengan “maskulin”. Padahal, kenyataannya, aroma tubuh tidak ada hubungannya dengan identitas gender maupun seksual.
Merawat Diri Bukan Soal Gender
Pertanyaannya: apakah laki-laki seharusnya tidak memakai parfum dan membiarkan tubuhnya berbau keringat? salahkah seorang laki-laki ingin wangi? Apakah merawat diri lantas menjadi simbol kelemahan? Apakah penampilan rapi dan harum harus selalu dikaitkan dengan stereotip yang merendahkan? Jika seorang perempuan berdandan rapi dan menggunakan parfum dianggap wajar, mengapa ketika laki-laki melakukan hal yang sama, dia justru dipertanyakan “kelelakiannya”?
Padahal, memakai parfum bukanlah soal identitas gender, melainkan soal kebersihan, kenyamanan, dan bahkan bentuk penghargaan terhadap orang lain. Tidak ada yang salah dari laki-laki yang ingin tampil rapi, harum, dan percaya diri.
Sejarah pun membuktikan bahwa perawatan diri bukanlah hal yang asing bagi laki-laki. Para bangsawan Majapahit dan Sriwijaya, misalnya, sudah menggunakan minyak wangi dari cendana, melati, dan rempah dalam keseharian maupun upacara adat. Relief Candi Borobudur dan Prambanan juga memperlihatkan penggunaan bunga harum dalam ritual keagamaan. Di peradaban Mesir Kuno hingga Romawi, parfum digunakan oleh laki-laki maupun perempuan, bukan hanya untuk estetika, tetapi juga simbol status sosial. Artinya, perawatan diri bukanlah “kemayu,” melainkan tradisi panjang yang dihormati berbagai budaya.
Bahkan saat ini, laki-laki yang menggunakan skincare atau makeup semakin diterima. Menurut survei Magdalene pada Juni 2022 lalu menunjukkan bahwa 99,6 persen atau 724 orang dari 727 responden menganggap wajar laki-laki memakai skincare, dan 73,7 persen atau 536 responden setuju bahwa laki-laki menggunakan makeup adalah hal yang lumrah. Menurut saya, skincare dan makeup selama digunakan sewajarnya, apalagi hanya untuk sekadar memakai parfum itu adalah hal normal. Fakta ini membuktikan bahwa masyarakat sudah semakin inklusif. Masalahnya, bentuk hegemonic masculinity masih terus dipertahankan oleh mereka yang berpikiran sempit, mereka yang merasa berhak menentukan bagaimana seharusnya laki-laki bersikap. Akibatnya, ruang ekspresi laki-laki menjadi sempit, dan siapa pun yang tidak sesuai dengan standar maskulinitas mereka segera dicap “tidak maskulin.”
Luka yang Ditimbulkan oleh Toxic Masculinity
Statement sang dosen ini menanamkan pesan berbahaya: bahwa laki-laki harus selalu “maskulin” dengan standar kaku. Bentuk toxic masculinity atau cara pandang sempit yang membatasi bagaimana laki-laki bersikap, berperan, atau berpenampilan ini memaksa laki-laki untuk menolak kelembutan, menekan emosi, dan menghindari perawatan diri karena dianggap melemahkan. Padahal, maskulinitas itu beragam, dan setiap orang berhak memilih bagaimana dia merawat dirinya tanpa perlu dihakimi.
Ucapan merendahkan semacam itu berbahaya jika dibiarkan. Seorang dosen, dengan latar belakang pendidikan yang seharusnya lebih luas, seharusnya mampu membedakan mana nasihat dan mana celaan. Tidak pantas seorang pendidik menghakimi mahasiswanya dengan menyebut mereka “bencong” hanya karena melakukan hal yang kini sudah sangat wajar dalam keseharian laki-laki modern, bahkan wajar semenjak dulu. Pernyataan semacam itu bukan hanya mempermalukan mahasiswa di ruang publik, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan mental korban, membuat mereka merasa berbeda atau menyimpang dari norma.
Mari kita melihat lebih jauh dan dalam, toxic masculinity tidak hanya melukai perasaan sesaat, melainkan juga dapat menimbulkan tekanan batin berkepanjangan. Penelitian Ramdani, dkk. (2022) yang berjudul “Realitas Toxic Masculinity Di Masyarakat” serta Simanungkalit & Hardjo (2025) yang berjudul “Analisis Regresi Linier Sederhana Mengenai Pengaruh Toxic Masculinity Terhadap Depresi Pada Mahasiswa” menunjukkan bahwa laki-laki yang menerima label negatif kerap mempertanyakan dirinya sendiri: apakah dia benar-benar salah, atau sekadar menjadi korban stigma. Dari sinilah muncul rasa takut, cemas, bahkan keinginan untuk menarik diri dari lingkungan. Dalam kondisi tertentu, tekanan psikologis ini dapat memengaruhi kesehatan fisik, mulai dari hilang nafsu makan, penurunan berat badan, hingga hilangnya energi untuk beraktivitas. Tidak jarang, situasi semacam ini berakhir pada trauma jangka panjang.
Mungkin ada yang berpikir bahwa kasus sang dosen ini hanyalah hal kecil. “Ah, tidak mungkin sampai depresi hanya karena dipanggil begitu,” begitu anggapan sebagian orang. Namun, justru ketika hal-hal kecil seperti ini terus dimaklumi atas nama candaan, stigma itu akan berulang dan mengakar. Kita tidak pernah tahu bagaimana seseorang menanggungnya: apakah dia benar-benar bisa menertawakannya, atau justru menyimpan luka dan menutupinya dengan tawa palsu.
Kalau Pendidik Ikut Mencemooh, Siapa Lagi yang Bisa Mendidik?
Seorang pendidik seharusnya menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan cara pandang, bukan malah melestarikan stigma yang jelas-jelas salah. Dunia sudah banyak berubah, standar gender sudah semakin cair, dan pendidikan seharusnya mendorong kebebasan berekspresi yang sehat, bukan membatasi dengan cemoohan. Dan kalau ekspresi sekecil ini saja ditertawakan, bagaimana mungkin kita berharap kampus bisa benar-benar menjadi rumah bagi kebebasan berpikir?
Maka mari kita bertanya lagi: bagaimana sebenarnya laki-laki seharusnya berperilaku? Jawabannya sederhana, “sebagaimana manusia seutuhnya”. Mereka boleh rapi, boleh wangi, boleh merawat diri, dan itu tidak menjadikan mereka kurang “laki-laki”. Justru sebaliknya, merawat diri adalah bentuk tanggung jawab personal yang patut dihargai.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita menolak candaan-candaan yang sebenarnya beracun, membongkar logika yang keliru, dan menggantinya dengan cara pandang yang lebih sehat dan inklusif. Sebab, dunia yang adil dan setara hanya bisa tercipta jika setiap orang diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa takut dicemooh, dan dibatasi stigma.
Penulis: Mutiara
*) Tulisan ini adalah tanggung jawab penulis sebagaimana yang tertera. Tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Estetikapers.com.