Makassar, Estetika – Lantai kampus yang dahulu kerap dia sapu kini menjadi saksi perjalanan panjang menuju gelar doktor. Arpin, putra asal Suruako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, lahir pada 17 Mei 1991. Kini, dia dikenal sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Enrekang, sosok yang membuktikan bahwa kerja keras, doa, dan ketekunan mampu menembus segala keterbatasan.

Sebagai anak keempat dari lima bersaudara dalam keluarga sederhana, Arpin menapaki jalan pendidikan dengan penuh rintangan. Demi bisa melanjutkan kuliah, dia menerima pekerjaan sebagai petugas kebersihan di salah satu kampus di Makassar.

Merantau dari Luwu Timur dengan tekad menuntut ilmu, kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus berani mengambil peran ganda. “Saya bilang, saya mau jadi cleaning service asalkan bisa kuliah,” kenangnya. Berkat dukungan pihak kampus dan kerabat, Arpin menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa sekaligus petugas kebersihan.

Sambil menyapu dan mengepel ruang-ruang kelas, dia menempuh studi di Program Studi Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNM, pada 2010–2015.

Jadwalnya padat dan melelahkan. Jika kuliah pagi, malam sebelumnya dia sudah membersihkan ruangan. Jika kuliah siang, sejak pagi dia bekerja dengan sapu dan kain pel di tangan. Tak ada waktu bersantai seperti mahasiswa lain. Demi berhemat, dia pun memilih tidak tinggal di kos atau asrama, melainkan langsung pulang usai bekerja atau kuliah.

Setelah meraih gelar sarjana pada 2015, Arpin tak berhenti di situ. Dia melanjutkan studi magister meski tanpa beasiswa. Seluruh biaya kuliah dan kebutuhan hidup ditanggung sendiri. Untuk menambah penghasilan, dia bekerja di perpustakaan kampus sebagai staf tambahan.

Di masa itu, bukan hanya fisik yang diuji, tetapi juga keteguhan hati dan konsistensi dalam memperjuangkan cita-cita.

Latar belakang keluarganya turut membentuk semangat itu. Ayahnya, seorang petani, wafat pada 2022, sementara ibunya sudah tak lagi bekerja. Dukungan besar datang dari kakak tertua dan seorang paman yang juga bekerja di kampus. Dari merekalah Arpin mendapat dorongan untuk terus melangkah, tak peduli seberat apa jalan yang ditempuh.

Menariknya, bidang studi yang dia pilih selalu berganti di tiap jenjang pendidikan: Pendidikan Luar Sekolah (S1), Bimbingan dan Konseling (S2), dan Administrasi Publik (S3). Namun baginya, semua tetap saling berkaitan. “Disertasi saya tetap saya hubungkan dengan dunia pendidikan,” ujarnya. Pergantian jurusan itu justru memperkaya cara pandangnya terhadap peran pendidikan dalam pembangunan sosial.

Perjalanan doktoralnya dimulai pada 2021, kali ini dengan dukungan Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI).

Empat tahun kemudian, tepatnya Juli 2025, dia resmi dinyatakan lulus. Selama menempuh studi, dia tetap bekerja sebagai staf administrasi di kampus yang dulu menjadi saksi perjuangannya. Di tempat itulah dia tumbuh, belajar, dan akhirnya menorehkan prestasi tertinggi dalam akademik.

Motivasi terbesar datang dari keluarganya, khususnya seorang kerabat bergelar doktor yang kini telah tiada. “Saat promosi doktornya, saya selalu mendampinginya. Dari situ saya berjanji dalam hati, suatu hari saya juga harus berdiri di sana,” tuturnya dengan nada haru. Janji itu kini telah dia tepati.

Meski kini berstatus dosen di Universitas Muhammadiyah Enrekang, Arpin tak meninggalkan pekerjaan lamanya. “Saya ambil Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) di sana karena menjadi syarat beasiswa, tapi saya tetap bekerja di sini,” katanya. Jabatan akademik tak mengubah sikapnya, tetap sederhana, rendah hati, dan menghargai setiap proses perjuangan yang telah dilalui.

Sebagai akademisi, kapasitasnya tak diragukan. Namun yang membuat kisahnya istimewa bukanlah gelar yang diraih, melainkan ketulusan dalam menjalani setiap fase kehidupan. Kesabaran dan ketekunan menjadi prinsip yang dia genggam erat. “Jangan pernah mengeluh. Kalau kita sungguh-sungguh, pasti ada jalannya,” pesannya kepada mahasiswa.

Disertasinya yang berjudul “Rehabilitasi Sosial dan Implementasinya bagi Penyandang Disabilitas di Kota Makassar” menjadi bukti bahwa mimpi besar selalu bisa terwujud jika dijalani dengan usaha dan doa.

Reporter: Cika Merlinshan & Rizqa Febrialbar