Skip to toolbar

TRILOGI KEPEMIMPINAN JAWA SEBAGAI PEDOMAN BAGI PUCUK PENGGERAK LEMBAGA KEMAHASISWAAN UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Mengamati pergerakan lembaga kemahasiswaan di tataran universitas saat ini, tentunya memunculkan rasa prihatin akibat terjadinya kekosongan kekuasaan (Vacum of Power) dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini berdampak pada berbagai macam hal, salah satunya adalah tidak adanya motor penggerak pergerakan secara umum yang menyatukan mahasiswa antar fakultas se-Universitas Negeri Makassar (UNM). Untuk meminimalisir kerugian yang ditimbulkan, maka terbentuklah aliansi mahasiswa sebagai back-up dalam terselenggaranya pergerakan mahasiswa di tataran universitas. Tetapi, hal ini tampaknya belum maksimal karena realitas yang terjadi aliansi belum mampu merangkul seluruh kepentingan fakultas sehingga dalam pergerakannya masih terdapat fakultas yang memilih untuk tidak bergabung. Selain itu, aliansi yang terbentuk dari keresahan akan padamnya pergerakan akibat kosongnya kekuasaan di tataran universitas masih belum memiliki legalitas yang kuat sehingga tidak mampu mengikat secara maksimal setiap fakultas yang ada di UNM.

Mengacu kepada sejarah, maka kita mendapati bahwa begitu riskannya periode vacum of power . Di Indonesia, sebelum terjadinya kemerdekaan periode vacum of power menyebabkan selisih paham yang berujung pada penculikan golongan tua oleh golongan muda dalam menyikapi upaya kemerdekaan. Begitupun yang menjadi salah satu penyebab runtuhnya Yugoslavia adalah terjadinya periode vacum of power akibat meninggalnya presiden Joseph Broz Tito. Hal tersebut mengakibatkan munculnya ketidakstabilan ekonomi dan juga politik. Presiden Josep Broz Tito merupakan seorang yang dianggap berpengaruh dan mampu membawa Yugoslavia mencapai puncak kejayaan sebelum masa keruntuhannya. Dari hal tersebut, poin penting yang bisa ditarik adalah peran pemimpin merupakan aspek fundamental dalam membangun sebuah peradaban.

Dalam perkembangannya, UNM dengan sembilan mata orangenya menjadi sebuah potensi dan sumber daya yang besar bagi pergerakan mahasiswa. Sinergitas antar setiap fakultas menjadi pintu dalam terbangunnya pergerakan kemahasiswaan yang betul-betul mampu menjawab permasalahan dan tantangan yang ada, khususnya pada saat ini di mana pergerakan lembaga kemahasiswaan tidak sepenuhnya terakomodir dengan baik. Untuk membuka pintu tersebut maka diperlukan pemimpin yang mampu beradaptasi dengan baik terhadap perbedaan yang hadir di masing-masing fakultas. Pemimpin yang bertugas sebagai juru kunci terakomodirnya sembilan mata orange. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menawarkan sebuah konsep kepemimpinan yang bisa diadopsi dalam konsep kepemimpinan pada lembaga kemahasiswaan dalam tataran universitas, dalam hal ini presiden mahasiswa Unversitas Negeri Makassar yang akan terpilih nantinya sehingga mampu untuk menjadi panutan, penengah, penggerak, dan pendorong bagi mahasiswa di Universitas Negeri Makassar.

Pemimpin merupakan tonggak suatu negara dan pengaruh kebijakan bergantung besar pada pemimpin tersebut. Ki Hadjar Dewantara sebagai Tokoh taman siswa sekaligus sebagai Bapak pendidikan, mengemukakan sebuah Trilogi kepemimpinan dengan menggunakan ungkapan jawa yang di mana hal ini juga merupakan representasi dari konsep hasthabrata yang menurut Kartono (1998) dan Suradinata (1997) bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam setiap poin hasthabrata menjadi pedoman bagi pemimpin dalam melakukan pengontrolan dan penjagaan terhadap perilakunya dalam berkehidupan. Trilogi konsep tersebut kita kenal dengan ungkapan Ing Ngarso Sung Tlodho, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani (Marliani & Djadjuli, 2019). Dalam praktiknya, Trilogi kepemimpinan ini menghendaki hadirnya seorang pemimpin yang mampu menempatkan dirinya dan memahami orang-orang yang sedang dipimpinnya sehingga mampu lebih adaptif dan bijaksana dalam setiap kebijakannya untuk mengatasi segala bentuk perbedaan kepentingan yang ada di masing-masing fakultas.

Ing Ngarso Sung Tlodho
Ing Ngarso Sung Tlodho memiliki makna di depan sebagai tauladan. Hal ini diperjelas oleh Ki Suratman (1990) bahwa Ing Ngarso Sulng Tlodho menjabarkan sikap pemimpin untuk bisa tampil sebagai contoh dan suri tauladan dihadapan orang-orang yang dipimpinnya (Septiyani T, 2015). Sikap ini tidak terbatas hanya pada seperti apa yang ditampakkan oleh seorang pemimpin kepada rakyatnya atau orang yang dipimpinnya saja, tetapi sikap ini juga melibatkan proses penilaian dan pengamatan masyarakat tentang sejauh mana pemimpin mereka telah menjadi self object yang baik bagi mereka. Ing ngarsa sung tlodho dalam substansinya terepresentasi pada beberapa poin dalam hasthabrata , yakni bintang (sudama) dan api (dahana). Bintang menunjukkan sebuah jiwa kepemimpinan dengan pendirian yang teguh serta mampu menjadi panutan bagi rakyatnya dan api merepresentasikan jiwa dan sikap kepemimpinan yang berwibawa (Sutardjo I, 2014). Dalam konsep ini, pemimpin diharapkan mampu mengembangkan sebuah perbuatan luhur yang menunjukkan sikap yang adil dan mampu menyeimbangkan antara hak dan kewajiban seorang pemimpin. Ketika hal ini terwujud, maka masyarakat atau orang yang dipimpin, dalam hal ini kaitannya dengan mahasiswa maka mereka akan mengikuti apa yang ditunjukkan dan instruksikan oleh pemimpinnya. Hal tersebut kemudian mengarahkan mahasiswa yang akan mampu melakukan hal yang sama dengan apa yang pemimpin lakukan.

Ing Madya Mangun Karsa
Secara definitif, konsep ini berarti di tengah sebagai penyemangat. Dalam lini ini, peran seorang pemimpin adalah memosisikan dirinya sebagai orang yang mampu memotivasi, menggerakkan, menumbuhkan semangat, dan juga mampu menyelami apa yang menjadi kebutuhan rakyatnya. Dalam kaitannya dengan hasthabrata , model ini mencakup tiga karakteristik yaitu matahari (surya), air (tirta), dan bulan (candra). Matahari merepresentasikan sikap sebagai pencerah dan motivator dalam memacu semangat anggota ataupun orang-orang yang dipimpin. Bulan dan air merepresentasikan sebuah sikap yang penuh akan kedamaian, ketentraman, dan senantiasa berbelas kasih kepada sesama secara umum dan spesifiknya kepada orang-orang yang dipimpinnya (Sutardjo, 2014). Konsep ini mengarahkan akan hadirnya seorang pemimpin yang senantiasa meyemangati orang yang dipimpin, menggerakkan mahasiswa untuk senantiasa menegakkan kebenaran dan menyatukan setiap perbedaan melalui semangat damai, tentram, dan berbelas kasih antar satu dengan yang lain.

Tut Wuri Handayani
Secara definitif, konsep ini berarti pemimpin berada di belakang untuk mendorong, memberikan kesempatan kepada rakyat untuk mengaktualisasikan diri dalam mencapai kebutuhan-kebutuhannya. Tut wuri handayani didefinisikan oleh John Maxwell (2006) sebagai seorang yang menjaga kursi pada strata kepemimpinan bagian bawah. Karena menurut Maxwell, bahwa masyarakat itu tidak peduli seberapa banyak hal yang kita ketahui sampai mereka betul-betul tahu bahwa kita sangat memperhatikan mereka. Karena seorang pemimpin tak akan melahirkan sebuah kemajuan dan perubahan tanpa adanya kepedulian kepada negara dan bangsanya (Muaddab, 2018). Melalui konsep ini, terpatri jiwa hasthabrata yang terepresentasi pada tanah (pratala) dan angin (maruta). Tanah merepresentasikan jiwa kepemimpinan yang senantiasa suka menolong dan ikhlas dalam berbuat baik kepada sesama dan angin sebagai refleksi jiwa pemimpin yang merakyat (Sutardjo, 2014). Konsep ini juga mengarahkan agar pemimpin mampu untuk mendorong lahirnya pergerakan-pergerakan baru bagi mahasiswa ketika pergerakan yang ada mulai redup melalui semangat keihlasan dalam menegakkan kebenaran.

Ketiga konsep tersebut mengarahkan pada lahirnya pemimpin yang mampu menempatkan diri dalam segala konteks permasalahan, sehingga pemimpin tersebut mampu untuk lebih peka terhadap kondisi sosial yang ada di masyarakat. Hal tersebut juga menunjang dalam mewujudkan keselarasan yang berkesinambungan di tengah perbedaan antar fakultas yang ada di Universitas Negeri Makassar. Dalam ketiga hal tersebut, pada dasarnya mengalir nilai pancasila yang sarat akan kebaikan dan nilai-nilai moralitas yang mampu mengarahkan pemimpin dalam mengambil keputusan dengan segala kebijaksanaan.

Trilogi kepemimpinan jawa yang terepresentasi dalam poin-poin hasthbrata yang kemudian mengalir di dalamnya nilai-nilai pancasila menjadi konsep kepemimpinan yang ideal. Hal ini sesuai dengan kondisi lembaga kemahasiswaan yang saat ini membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi panutan dalam berperilaku, penggerak dalam bertindak, dan pendorong dalam melahirkan pergerakan di antara perbedaan di tengah kondisi yang ada di saat ini di tataran Lembaga Kemahasiswaan Universitas Negeri Makassar.

Penulis: Moh Fachri Zahdy

Leave a Reply