Kuabadikan kau
Bukan dalam kartu memori yang gagal musnah di tanganku
Atau di balik kepalaku yang batu
Tapi kuabadikan segalamu sebagai manuskrip
Tempat riwayatmu tumpah curah dalam sastra
Lalu menjelma rumah huni selayaknya
Kuanggap huruf-huruf itu diciptakan Tuhan
Untuk kureka narasi di sela-sela malam
Sembari dipeluk hangat bintang-bintang
Di antara angin yang diam-diam menertawakan
Deret-deret kata adalah detak nadiku
Bait-bait paling jujur memangkas habis ingatanku
Seolah kau hidup dalam tinta warna-warni
Di sana, bebas kutulis riwayatmu seratus bab atau melebihi
Maka kau telah abadi dalam manuskripku
Menjadi lakon utama dalam setiap paragrafnya
Dalam ramuan kata-kata sarat makna
Kutitipkan seribu semoga di antara lembarnya
Di lain sempat, kau membacanya seperti menemukan diri sendiri
Sebab kau masih, kau selalu dan selamanya melegenda di sana
Walau tidak sedikit tawa, tangis, luka, dan air mata
Segalamu telah abadi tanpa celah