Makassar, Estetika – “Saya baru saja pulang dari kelulusan SMA. Begitu sampai rumah, semua sudah terbakar,” ucap seorang pemuda berusia 18 tahun bernama Joko.

Joko merupakan salah seorang pemuda yang rumahnya dilahap api Bara-Baraya pada 30 Maret lalu. Saat itu, ia baru saja merayakan kelulusan SMA-nya ketika disambut oleh rumahnya yang telah habis dilahap api. Tidak ada barang yang tersisa, semuanya ikut terbakar kecuali baju yang ia kenakan kala itu. Ia masih bisa mengingat betul euforia yang ia rasakan kala menyambut kelulusannya.

“Malamnya (sebelum kebakaran) saya tidak tidur. Bahagia sekali, karena besok mau kelulusan. Setelah saya persiapkan baju sekolah, saya lihat terus itu baju sampai pagi,” ujarnya menceritakan kebahagiaan menyambut kelulusannya.

Ia sangat bersyukur bisa lulus dari SMA, sebab pikiran untuk berhenti sekolah selalu saja menghampirinya. Bukan karena ia tidak sanggup menyelesaikan sekolahnya, tapi karena keadaan yang mendesaknya. Kasus sengketa tanah yang terjadi di daerah tempat tinggalnya, membuatnya harus fokus mempertahankan rumahnya, bukan pendidikannya.

“Dulu, tidak ada orang yang disuruh sekolah. Pokoknya fokus untuk lawan,” ungkapnya.

Sayangnya, kebahagiaan yang ia rasakan di kala menyambut kelulusannya tersebut musnah ketika mendapati rumahnya yang tinggal kerangka itu.

“Untung saya sudah lulus, soalnya baju sekolah tidak ada yang diskon,” ujarnya dibarengi tawa getir yang sekaligus menandakan banyaknya kerugian yang mereka alami.

Menurut Wawan, tetangga sekaligus sahabat karib Joko yang ada di lokasi kejadian, tidak ada yang sempat mereka selamatkan selain diri mereka sendiri. Ditambah lagi banyak orang tua dan anak-anak yang harus diselamatkan.

“Rata-rata warga di sini keluar dari rumah cuman bawa baju yang dipakai saat itu,” ujar Wawan.

“Barang-barang tidak ada. Apalagi orang tua juga perlu diselamatkan,” lanjut Joko yang kemudian disetujui Wawan.

Joko sendiri, tinggal bersama 11 orang keluarganya. Rumahnya tidak besar. Bahkan dari pintu, hanya ada satu ruangan yang besarnya sekitar 5×4 meter dan setelahnya ada dapur kecil. Mereka melakukan banyak kegiatan di ruangan pertama, termasuk tidur.

“Begitulah, sekalipun tidak ada tempat untuk tidur, saling bersempit-sempit saja. Pokoknya bangun pagi, saling lihat, ketawa,” ucapnya.

Joko benar-benar terlihat sangat tegar. Menceritakan segalanya dengan santai sesekali tertawa. Ketika ditanya resep ketegarannya, ia kembali tertawa.

“Kalau ramai begini sih bisa terlihat tegar, tapi kalau mau lihat saat rapuhnya kawan-kawan di sini, lihat pas kami sendiri. Pas sendiri, saat itulah kami curhat sana-sini dan menangis,” katanya.

Masalah yang terus datang silih berganti di tanah Bara-Baraya itu, mulai dari sengketa tanah yang belum terlihat usainya hingga api yang menciptakan banyak kerugian, tidak membuat mereka gentar mempertahankan tanah mereka. Meski banyak barang telah hangus terbakar, kenangan-kenangan mereka tidak turut hangus dengan kebakaran yang terjadi. Joko dan Wawan sangat bersemangat menceritakan kala mereka dan teman-temannya dibarengi banyak mahasiswa saling berbagi tawa. Terus bercerita dan bernyanyi bersama hingga harus terhenti karena matahari sudah mulai terbit.

Di gang kecil itu, Joko dan Wawan serta teman-teman lainnnya tumbuh bersama. Menciptakan kenangan bersama, bercerita tentang masalah yang mereka hadapi sembari berdiskusi tentang apa langkah selanjutnya jika mimpi buruk mereka, digusur, menjadi kenyataan. Mereka bahkan membuat organisasi khusus pemuda Bara-Baraya untuk membahas hal-hal tersebut.

Meski organisasinya sedang vakum, beberapa dari mereka masih aktif menghadiri diskusi-diskusi yang diselenggarakan di berbagai kampus sembari membagikan selebaran yang berisikan banyak hal tentang Bara-Baraya. Inilah bentuk upaya yang mereka lakukan untuk memanggil kembali kawan mahasiswa ke Bara-Baraya.

“Organisasi yang anggotanya itu saya, Wawan, dan kawan-kawan seumuran kami. Kita bahas strategi ke depannya sambil panggil kawan-kawan mahasiswa untuk kembali ke Bara-Baraya,” tuturnya.

Jika pada akhirnya mimpi buruk itu terjadi, Joko mengaku tidak terlalu memikirkan dirinya, yang selalu ia pikirkan hanya keluarganya terutama orang tuanya.

“Saya tidak apa-apa. Kan saya masih muda dan bisa berpindah-pindah. Masih bisa nongkrong sana-sini. Di jembatan juga saya bisa. Kalau nantinya digusur yang paling saya pikir itu orang tua saya bagaimana, mereka mau tinggal di mana,” ungkapnya.

Sekalipun masih banyak yang bertahan di tengah puing-puing kebakaran yang terjadi di tanah sengketa itu, beberapa pemilik rumah sudah memutuskan untuk pergi. Mereka yang masih bertahan, sudah merenovasi rumahnya sedikit demi sedikit, tetapi wacana-wacana penggusuran terus menghantui warga dan membuat mereka urung membangun utuh rumah mereka.

“Takutnya, nanti kami digusur padahal sudah dibangun. Kalau saya tidak masalah, tapi orang tua takut, apalagi nenek saya,” ujar Wawan.

Hingga saat ini, lima bulan pasca kejadian, kebakaran yang terjadi secara tiba-tiba setelah sholat ashar itu belum diketahui penyebabnya. Kala itu, polisi hanya memberi garis polisi, tapi tidak menyelidikinya lantaran daerah yang terbakar itu merupakan tanah sengketa. Bahkan pemerintah tidak memberikan bantuan sedikitpun.

“Penyebabnya belum diketahui. Dulu pernah dipasang garis polisi, tapi tidak diselidiki sampai sekarang karna tanah sengketa. Sumbangan dari pemerintah saja, kebutuhan untuk membangun rumah tidak ada,” ungkap Joko.

Penulis: Yusyfiyah Adinda Saputri