(Kisah yang tertinggal di antara deru mesin tua dan sunyi malam)
Vespa itu sudah renta. Catnya memudar dimakan waktu, joknya sobek di beberapa sisi, dan setiap kali gas kutarik terlalu kencang, ia akan terbatuk-batuk seperti kakek tua yang sedang terserang masuk angin. Meski begitu, bagiku ia bukan sekadar kendaraan. Vespa itu punya jiwa, setidaknya begitu yang selalu kupercayai. Aku menamainya Obeng—teman setia yang menjadi saksi perjalanan cintaku bersama Rani.
Dulu, waktu pertama kali mengajak Rani naik Obeng, dia tertawa. “Kita bisa sampai tujuan nggak nih? Jangan-jangan aku harus turun dorong motor nanti.”
Aku pura-pura tersinggung. “Eh jangan gitu dong sama Obeng, dia ini vespa legend, loh! Kayak hubungan kita, mungkin nggak mulus, tapi selalu jalan!”
Dia tertawa dan akhirnya naik juga. Vespa tua ini selalu jadi saksi perjalanan kami. Dari jalanan kota yang macet, hujan yang tiba-tiba turun menjatuhi kami hingga basah kuyup, sampai mogok di depan rumahnya dan harus didorong bareng sambil diketawain satpam komplek perumahan.
“Aku kayaknya lebih sering dorong Si Obeng daripada kamu yang ngeboncengin aku,” protesnya suatu hari.
“Tapi selalu sampai tujuan, kan?” jawabku dengan senyum menang.
Rani cuma mendengus, tapi aku tahu dia senang. Dia tidak pernah benar-benar marah, hanya ambekan kecil yang tidak begitu serius, menambah cantik wajahnya. “Tapi tetap aja, harusnya aku yang dibonceng, bukan malah dorong motor tiap minggu.”
Aku terkekeh, menepuk-nepuk setang Obeng dengan penuh sayang. “Ini kan bentuk kerja sama, Ran. Hubungan yang baik itu harus saling bantu, saling dorong.”
Rani mencibir. “Kalau gitu, kapan-kapan gantian deh. Aku yang nyetir, kamu yang dorong.”
Aku langsung menggeleng cepat. “Nggak bisa! Obeng cuma mau sama aku. Dia udah terbiasa dimanjain dengan penuh kasih sayang.”
Rani menahan tawa. “Iya, iya. Sayangnya lebih banyak ke motor daripada ke pacar sendiri.”
Aku menoleh ke arahnya dengan senyum jahil. “Nggak kok. Kamu nomor satu. Obeng ini nomor satu setengah.”
Rani mencubit lenganku pelan. “Huh, dasar Rangga! Liat aja, kalau aku nemu motor yang nggak mogokan, aku tinggalin kalian berdua.”
“Jangan gitu dong! Obeng bisa mogok dan berkarat, tapi cintaku ke kamu nggak akan pernah mogok.”
Rani terkikik. “Ih, kok so sweet? Biasanya nyebelin.”
Aku mengangkat bahu santai. “Lagi promo nih. Besok-besok balik nyebelin lagi.”
Rani tertawa keras, dan di antara suara kendaraan yang berlalu-lalang, aku bersyukur. Meski Obeng sering mogok, hubungan kami tetap terus berjalan.
Pada malam minggu, seperti biasa, aku menjemput Rani di rumahnya. Kali ini, Obeng lebih rewel dari biasanya. Butuh tiga kali tendangan starter sebelum akhirnya dia menyala.
“Kita ke mana?”
“Keliling aja, seperti biasa. Mau makan bakso di tempat langganan?”
“Boleh. Asal jangan mogok di tanjakan lagi, ya,” candanya.
Kami melaju pelan, menikmati angin malam. Jalanan tak terlalu ramai, lampu kota berpendar lembut, dan di antara deru kendaraan lain, suara mesin vespa tua ini terdengar khas, seperti alunan nostalgia yang tak lekang oleh waktu.
Sesampainya di warung bakso langganan, kami duduk di tempat favorit, dekat jendela yang menghadap ke jalan. Aku menatap Rani yang sibuk meniup baksonya, matanya berbinar seperti selalu. Rasanya aneh, ada sesuatu yang berbeda malam ini, tapi aku tak bisa menjelaskannya.
“Aku dapat kabar dari Ayah tadi pagi,” katanya tiba-tiba.
“Kabar apa?”
“Kami harus pindah ke luar provinsi. Mungkin akhir bulan ini.”
Aku terdiam. Sendok di tanganku terasa berat. “Serius?”
Dia mengangguk pelan. “Ayah dipindah tugaskan ke Jakarta. Aku ikut sama mereka.”
Aku tahu betul Makassar dan Jakarta bukan jarak yang bisa ditempuh seminggu sekali. Hal ini pasti sudah dipertimbangkan oleh orang tua Rani.
Aku masih ingat pertama kali orang tua Rani menolak hubunganku. Bagiku, aku sudah cukup baik untuk Rani. Aku bekerja sebagai fotografer lepas, dan meskipun penghasilanku belum stabil, aku punya impian. Aku sedang membangun studio kecil-kecilan, berharap suatu hari bisa membuktikan bahwa aku layak.
Tapi bagi mereka, impian saja tidak cukup.
“Fotografer? Itu pekerjaan yang nggak jelas, Nak,” kata ayahnya suatu hari. “Rani butuh kepastian, bukan angan-angan.”
Rani selalu membelaku, tapi aku bisa merasakan tekanan itu semakin besar. Aku tahu, di lubuk hatinya, dia takut orang tuanya benar.
Lalu datang kabar itu. Ayahnya dipindah tugas ke Jakarta. Mau tak mau, Rani harus ikut.
“Aku bisa nyusul nanti,” janjiku. “Kalau usahaku sudah jalan, kalau aku sudah lebih siap.”
Dia hanya tersenyum tipis, tapi aku tahu ada ragu di matanya.
Malam terakhir sebelum dia pergi, aku datang dengan vespa kesayanganku. “Ayo naik,” kataku.
“Mau ke mana?” tanyanya bingung.
“Nggak tahu, yang penting keliling dulu sebelum kamu pergi,”
Kami melewati jalan-jalan yang biasa kami lalui. Lampu jalan temaram, angin malam sejuk, dan suara mesin vespa yang khas menemani perjalanan sunyi kami.
Saat sampai di tikungan dekat taman favorit kami, aku menarik rem pelan. “Rani…” panggilku.
“Hm?”
“Kamu bakal kangen nggak?” tanyaku pelan, takut mendengar jawabannya.
Dia diam sebentar, lalu mengeratkan pelukannya di pinggangku. “Kalau ada vespa tua yang mogok di jalanan kota, aku pasti langsung ingat kamu dan Obeng.”
Aku tertawa kecil, meski hatiku berat. Aku tahu, besok Rani akan pergi. Tapi aku percaya, selama aku berusaha, aku pasti bisa mengejarnya.
Hari-hari setelahnya, aku seperti kehilangan semangat. Biasanya, setiap sore aku akan sibuk membersihkan Obeng, mengecek oli, atau sekadar mengelap joknya supaya tetap nyaman untuk Rani. Tapi sekarang, semuanya terasa sia-sia.
Tapi aku tahu, aku tidak bisa begini terus. Aku sadar bahwa alasan kepindahan Rani bukan sekadar karena pekerjaan ayahnya. Orangtuanya sedang berusaha untuk menolakku secara halus dengan menjauhkan ku dari Rani. Tapi, aku paham perasaan orangtuanya, siapa juga yang mau menyandingkan anak gadis satu-satunya dengan lelaki yang tidak punya penghasilan tetap sepertiku.
Selama Rani pindah ke Jakarta, komunikasi kami sempat bertahan. Pesan-pesan masih bersahutan, meski makin jarang. Tapi suatu hari, pesanku tak lagi dibalas. Aku terus menunggu, menebak-nebak alasan, berharap mungkin Rani hanya sibuk.
Tapi kemudian nomor Rani tak lagi aktif. Media sosialnya hilang. Seolah ia menghapus seluruh jejaknya sendiri.
Aku sempat mencari. Kukirimkan pesan ke email lama, mencoba menelusuri lewat akun teman-teman SMA, tapi tak satu pun mengarah ke Jakarta. Aku bahkan berusaha menghubungi keluarga Rani yang sedari dahulu memang tidak pernah mengangkat telpon atau sekedar membalas pesanku, tapi lagi-lagi tak bisa dijangkau. Tidak satu pun celah terbuka.
Aku tak berhenti berharap. Tapi waktu terlalu lihai menghapus jejak, Rani benar-benar menghilangkan jejaknya agar tak ditemui olehku.
———
Dulu, pikirku hanya butuh waktu. Hanya butuh usaha lebih keras, membuktikan diriku, lalu suatu hari, mungkin suatu hari, aku bisa datang lagi ke hadapan Rani, kali ini sebagai seseorang yang lebih baik.
Tapi nyatanya, dunia tidak menunggu.
Cinta tidak selalu menunggu.
Dan sekarang, bahkan jika aku berhasil, semua itu sudah tidak ada artinya lagi.
Mataku kembali terpaku pada layar laptop, menatap wajah yang pernah menjadi pelabuhan rinduku. Wajah itu masih berpendar, indah seperti dulu, namun sinarnya kini tak lagi berpulang padaku. Pertemuan singkat dengan Rani setelah sekian tahun ternyata menjadi penutup paling gamblang bagi kisah kami—sebuah akhir yang tak pernah sempat terucap.
Ragu sejenak menghampiriku sebelum akhirnya jemariku yakin menekan tombol delete. Satu per satu, foto-foto prewedding itu menghilang, menyisakan ruang kosong yang sama sunyinya dengan hatiku.
Layar menjadi gelap, dan aku sadar: cinta kami sudah lama berakhir, hanya aku yang masih tinggal di sisanya.
Penulis: Mutiara