Rilis, Estetika – Sekitar seratus orang dari kelompok solidaritas bersama buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Industri Pertambangan dan Energi (SBIPE) Kawasan Industri Bantaeng (KIBA) menggelar longmarch atau aksi jalan kaki dari sekretariat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) menuju Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Selasa (14/10) pagi.
Aksi tersebut diawali dengan ritual Songka Bala, tradisi masyarakat Bugis-Makassar untuk memohon perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dari mara bahaya, penyakit, maupun bencana.
Di barisan depan, dua orang pembawa hidangan berjalan bersama pemimpin doa, diikuti massa aksi yang membawa spanduk bertuliskan “Jangan robohkan benteng terakhir keadilan dengan putusan yang tidak berkeadilan bagi buruh” serta sejumlah petaka berisi tuntutan pemenuhan hak-hak buruh KIBA, mulai dari upah lembur, cuti haid dan melahirkan, hingga hak beribadah dan keselamatan kerja.
Sebelumnya, pihak serikat sempat melobi agar ritual Songka Bala dapat dilaksanakan di halaman PN Makassar, namun tidak diizinkan. Massa akhirnya melangsungkan ritual di depan gerbang pengadilan.

Perwakilan dari KontraS Sulawesi Selatan, Cibal, dalam orasinya menjelaskan bahwa pelaksanaan Songka Bala menjadi simbol penolakan terhadap segala hal buruk yang dapat memengaruhi proses peradilan.
“Pelaksanaan Songka Bala ini dimaksudkan untuk mengusir roh jahat dan energi negatif dari PN Makassar agar hakim tidak ‘masuk angin’ dalam memutus perkara buruh,” jelasnya.
Dia menegaskan, hasil sidang terhadap 20 buruh KIBA yang digugat oleh PT Huadi Nickel Alloy di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) akan menjadi penentu nasib ribuan buruh lainnya.
Cibal juga menyinggung adanya praktik kerja 12 jam yang melanggar aturan ketenagakerjaan serta kondisi buruh perempuan yang dipaksa tetap bekerja meski mengalami keguguran.
Sementara itu, perwakilan SBIPE KIBA, Junaedi Hambali, menyampaikan bahwa masyarakat di sekitar kawasan industri telah lama merasakan dampak negatif dari aktivitas perusahaan nikel, seperti debu smelter yang mencemari udara, krisis air bersih, rusaknya area budidaya rumput laut, hingga menurunnya hasil tangkapan nelayan.
Dia menambahkan, pelaksanaan Songka Bala juga menjadi bentuk doa bersama untuk menolak bala dan memohon perlindungan bagi masyarakat terdampak, sekaligus simbol harapan agar majelis hakim di PHI memberikan keputusan yang adil bagi buruh.
“Songka Bala adalah ikhtiar kami untuk menolak segala keburukan, baik bencana bagi masyarakat maupun ketidakadilan bagi buruh,” ujarnya.
Aksi ditutup dengan doa bersama. Pemimpin doa yang juga merupakan buruh kemudian memercikkan air ke arah gerbang PN Makassar sebagai simbol pembersihan dari energi buruk, sebelum menutup ritual dengan memakan hidangan yang dibawa sejak awal longmarch.
Rilis: SBIPE KIBA Bantaeng