Nyaman Dibalut Perbedaan
(Tuhan Kita Satu, Kita Yang Beda)
Mengungkapan rasa nyaman sulit dengan sebuah kalimat
Cintaku mengalir seputih susu
Rindu ini terus berontak ingin ketemu dengan mu
Aku ingin terus bersama dengan diri mu, meskipun kita berbeda
Jumat ibadahku kepada sang kuasa
Minggu hari kau sekeluarga menyembah rasulku
Aku menghargai ia sebagai rasulku
Sedangkan kau menghargai dia sebagai tuhan pelindung bumi
Melangkah kedepan dengan ketidakpastian
Hati ini dihantui dengan rasa menyakitkan
Biarkan ini terjadi dengan ku
Perbedaan kekal ini sangat menyakitkan
Mawar mekar dengan sangat indahnya
Menanti agar dimiliki olehnya
Kurasa hubungan kita ini tidak bisa diteruskan
Aku harus bisa melupakan mu walaupun sangat menyakitkan jiwa raga ini
Kasih doaku kepada mu, semoga kita mendapatkan pasangan yang seiman
Sekedar Angan
Gubrisku pada siulan angin itu…
Menjadi renungan pada kepingan memori yang terdampar
Kasih membenam diantara buaian temaram senja
Hangat, meresap sanubari terdalam
Kisahku tak sampai
Gugur bersama ratusan daun yang menguning
Tenggelam bersama ribuan air menuju hilir
Rengkuhan cinta itu kian habis dimakan senja, pupus sudah
Seperti awan marah
rintik yang tumpah
rona di kedua pipimu yang basah
tersadur seuntai kisah
Mendengar rembulan memanggil mentari
Dan sunyi menari nari
Untuk menyalakan bintang bintang
Di selimuti oleh kenangan
Segitiga mengelilingi daerah ini
Tak ada mentari di musim salju
Bunga mawar menyakiti dirinya
Sepertiga malam membantu untuk keluar
Perjudian akan dimulai sekarang
Siapa yang layak dimiliki sang rumah
Tidak semua bisa diizinkan
Sajak ini saksi bisu cinta kita
Segitiga
Pintu terkunci dengan kepercayaan
Dilapisi dengan pagar kesetiaan
Dia menembus dengan sangat keras
Terbentur kehadiran dirimu yang menetap
Bimbang menghantui pikiran ini
Labirin menjadi tempat yang tenang
Fatamorgana cantik muncul di ufuk timur
Rambu itu masih berjalan dengan baik
Segitiga mengelilingi daerah ini
Tak ada mentari di musim salju
Bunga mawar menyakiti dirinya
Sepertiga malam membantu untuk keluar
Perjudian akan dimulai sekarang
Siapa yang layak dimiliki sang rumah
Tidak semua bisa diizinkan
Sajak ini saksi bisu cinta kita
Jakarta, 4 Januari 2018
Jaka Sukma atau sering dipanggil jake. Mahasiswa disalah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Barat, Universitas Padjadjaran. Mulai senang nulis puisi ketika masuk bangku perkuliahan. Sering menulis puisi bergenre cinta. Sastrawan yang paling dikagumi adalah Sapardi Djoko Damono, Kahlil Gibran, dan Wiji Thukul.
