PUKULAN AMBIGU

Bukan lemparan batu
Bukan sayatan pisau
Bukan tamparan pilu
Tapi sebuah pukulan ambigu

Sentuhan asing yang terasa akrab
Membelah dua kubu yang tak pernah terpikir
Seperti melihat pahatan kayu yang saling bertemu
Namun, tak tau apa maksud dari pola-pola itu

Rintihan yang tak bersuara
Perasaan yang menuntun
Ada tamparan yang tak terasa
Apa yang sebenarnya yang diingankan?

Pola pahatan yang bertemu
Titik temu yang tersirat
Menjadi karya yang melankolis
Ditambahkan warna agar empu ini mengerti

Goresan tipis menebalkan diri agar terlihat
Namun, keindahan yang tersirat akan menghilang
Warna putih terus meminta agar terlihat terang
Namun, makna yang tersimpan tidak akan dibaca.

Perih yang terpatri luka
Denyutan yang kunjung dingin
Rasa yang meminta untuk dipahami
Tanpa petunjuk yang hanya menyisakan pukulan ambigu
Pukulan yang terbentuk tanpa permisi

Namaku Liza Fikri, lahir di Sulawesi Barat, Polewali Mandar. Saat ini tengah menjalani pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) di Universitas Negeri Makassar (UNM). Aku lebih suka memperhatikan daripada berbicara, dan menulis adalah cara terbaikku untuk berbicara tanpa suara. Aku menyukai hal-hal sederhana, seperti aroma hujan, cahaya redup, dan cerita yang membuat orang berhenti sejenak sebelum melanjutkan hidupnya.