Ketika kebanyakan orang, umat muslim tengah mempersiapkan dirinya menyambut hari pertama bulan puasa, kita–saya, dan mungkin juga anda masih saja sibuk memikirkan persoalan duniawi–kerja, kuliah dan organisasi, kekasih pun tinggal ataukah pulang kampung yang tidak begitu penting jika dibandingkan dengan pertanyaan sudahkah kita siap menyambut bulan yang penuh keberkahan ini? Atau sudahkah kita membersihkan pikiran, hati dan juga galeri?
Assalamualaikum, semoga kebahagiaan selalu menyertai kita tanpa syarat dan tak pandang kelas. Pada kesempatan ini saya coba merawikan apa yang mata saya tangkap dan kepala saya olah ketika memasuki bulan suci Ramadan dari tahun ke tahun. Maka jangan salahkan saya yang dangkal perihal agama maupun kepenulisan ini jika terdapat perbedaan perspektif atau pandangan. Dan jikalau dalam proses membacanya anda terganggu dengan bahasa saya yang amburadul, maafkanlah, pun jika ada kata-kata saya yang terkesan menyinggung.
Mari kita mulai…
Senin, 12 April 2021, kurang lebih dua jam sebelum penetapan 1 Ramadan tahun ini, dari arah kontrakan, saya-dan mungkin juga anda dengan perasaan yang tidak bersemangatnya menyambut bulan suci kali ini, mengendarai roda dua kesayangan melintasi perbatasan Gowa-Makassar yang begitu membosankan dan menjengkelkan. Panas, polusi, sampah got di sisi jalan, dan macet. Macet yang hari ini disebebkan oleh para peziarah kubur yang begitu berbondong-bondongnya mengunjungi makam orang tuanya, anaknya, saudaranya, kerabatnya, dan mungkin kekasihnya. Tradisi yang selalu dilaksanakan umat muslim dalam menyambut bulan suci Ramadan entah untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, ataukah untuk menggaet followers di media sosialnya.

Beberapa dari kita-saya, dan mungkin juga anda telah menyiapkan targetan di bulan puasa yang sesaat lagi datang, misal memperbaiki diri, berbuat baik pada sesama dan pada diri, bersih-bersih hati, dan tanpa terkecuali galeri, tarawih yang tak terlewati, hingga membiarkannya pergi dan tak ada buka puasa pun sahur bersama kini. Targetan-targetan yang selalu saja ada dan berulang disetiap tahunnya yang tak tahu apa dan bagaimana indikator keberhasilannya. Eh, ada satu targetan lagi yang selalu kita-saya, dan mungkin juga anda siapkan yaitu, melupakan semua targetan-targetan setelah Ramadan usai. Karena mungkin kita–saya, dan juga anda menganggap Ramadan hanyalah momentum untuk berbuat baik, dan mebersihkan hati. Setelehnya, bukan dan tidak lagi.
Hari pertama puasa kita–saya, dan mungkin juga anda sibuk menahan lapar dan dahaga. Kesibukan yang bakal kita lakoni dua puluh sembilan hari tersisa. Kesibukan ini menjadi kesalahan yang wajar atau lazim dilakukan masyarakat kita. Lalu saya coba menyambung-nyambungkanya dengan mahasiswa perantau, karena jika puasa hanya menahan lapar dan haus saja, maka jangan meremehkannya–mahasiswa perantau–sebab di luar bulan puasa pun mereka melakukannya bahkan telah menjadi tugas sehari-harinya.
Seorang ustaz penuh takzim pernah merawikan demikian: “Puasa itu hukumnya wajib bagi umat muslim sebagamiana dijelaskan dalam Q.S. al-Baqarah ayat 183 yang artinya Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaiamana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Puasa bukan hanya perihal menahan lapar dan dahaga, bukan juga sekedar menahan diri dari perbuatan seks saja tetapi, perihal bagaimana kita mengkorelasikan dengan baik antara otak dan hati–menjauhi hawa nafsu, dan menghindari segala sifat malas–khususnya malas gerak (mager) dengan cara mengkoordinasikan sendi-sendi. Bukan dalam sebulan Ramadan saja, tapi sebelas bulan setelahnya”.
“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun juga” (HR. Tarmidzi). Takwil di atas menjadi dasar bagi banyak umat muslim–pun mungkin nonmuslim intuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan terkhusus meberikan hidangan berbuka puasa kepada mereka yang berpuasa. Momen-momen haru tercipta ketika kita–saya, dan mungkin juga anda mampu melakukannya baik sebagai subjek maupun sebagai objek. Semua akan bernilai di sisi-Nya ketika ikhlas, tanpa adanya paksaan melakukaknya.
Satu lagi yang menjadikannya–Ramadan–berbeda dari bulan-bulan lainnya yaitu, makan dan atau santap sahurnya. Hal yang mengharuskan kita–saya, dan mungkin juga anda pulang ke rumah berkat permintaan orang tua di kampung halaman menjelang hari pertama puasa. Hal yang juga menjadikan kita–saya, dan mungkin juga anda terjaga sepanjang malam menantikannya–sahur, yang sebelum-sebelumnya seringkali kita lakukan di kontrakan kita masing-masing sembari menantikan cakrawala yang legam, lipu nan menakutkan, menjingga mencuri atensi, menjadi maklumat penanda waktu terlelapnya kita–saya, dan mungkin juga anda yang pemalas.
Tak lama lagi ia akan pergi meninggalkan targetan-targetan yang telah dikonsepkan. Dan tak lama lagi sebagian dari kita–saya, dan mungkin juga anda akan berkata dengan nada lirih, ambivalen, nan skeptis “Akan saya pertahankan”. Sebagian lagi akan berdeham dan berdaulat keranjingan atas kepergiannya. Lalu dalam keadaan nista kita–saya, dan mungkin juga anda akan berkata “Akan saya akhiri keseolah-olahan ini”.

Zulhijjah, masih bernafas dengan kata-kata dan hidup bersama sastra.
*) Opini ini adalah tanggungjawab penulis sebagaimana yang tertera. Tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Estetikapers.com