Di ujung jalan sebuah kota yang bisa menjelma apa saja, seseorang berjalan dengan selembar kertas putih yang berisikan sebuah tuntutan. Ia berlari tanpa alas kaki, berteriak di tengah jalan dan membuat kota yang tengah menjelma sebagai sunyi bergema oleh suara lantangnya. Orang-orang saling memandang, lalu seolah tak terjadi apa-apa mereka semua kembali sibuk pada hal-hal yang tampaknya tak akan pernah usai.

Setiap harinya kota itu bisa menjadi apa saja. Suatu hari bisa menjadi taman hiburan yang membahagiakan dan suatu hari bisa menjadi penjara yang mengekang. Namun, setiap orang memiliki sesinya masing-masing, sebab jika tak puas atau muak, penghuni kota itu mulai menuntut. Banyak hal kini dikeluhkan, karena orang-orang di kota itu tak pernah cukup dengan hal-hal yang menyenangkan saja. Mereka akan melakukan banyak hal untuk melarikan diri dari kesengsaraan.

Penghuni kota itu menuntut sebuah janji yang terbengkalai, hak yang tak dimiliki, kebijakan yang membelenggu diri, dan ketidakadilan yang menyakiti. Namun, semua berakhir di sebuah tong sampah tanpa mendapat balasan yang pasti. Lalu manusia bersaing tanpa pandang bulu, melupakan beberapa hal yang seharusnya diperbaiki. Hal-hal gila membuat kota itu menjelma sebagai laboratorium raksasa tempat berbagai macam manusia melakukan percobaan untuk memenuhi kebutuhan atau sekedar ingin memuaskan rasa penasaran.

Di hari berikutnya, ada banyak dampak dari percobaan itu. Manusia memiliki banyak penemuan meski memudahkan namun, menyimpan malapetaka yang sepertinya memang berusaha diabaikan hanya untuk kesenangan sesaat yang diharap akan abadi untuk didapatkan. Lalu bencana besar datang tanpa mereka sadari, di sebuah gang kecil, sekumpulan manusia menangis dalam sunyi, sebab sudah beberapa hari mengabaikan lambung yang seharusnya diisi. Sementara di tengah kota, dalam gedung-gedung tinggi yang penuh kenikmatan, sekolompok orang tertawa melewati malam yang gemerlap.

Tong sampah seminggu ini sudah dipenuhi berbagai kertas-kertas yang berisi tuntutan. Setiap harinya selalu ada menusia yang menuntut dan petugas kebersihan kota itu sudah mulai kewalahan dengan tugasnya yang semakin bertambah. Bagaimana tidak, semua orang seolah sedang antre untuk menuntut setiap harinya. Walau demikian petugas kebersihan tak punya pilihan lain selain membereskan. Kota itu menjelma sebuah tong sampah besar yang menampung tuntutan. Penghuni kota sudah mulai terganggu dengan keberadaan kertas-kertas itu. Lalu, setiap orang menulis keluhan atas ketidaknyamanan.

Di pagi buta seseorang berteriak dengan suara lantang, membawa beberapa kertas putih dengan tulisan yang dirangkai semalaman.

“Tuhan, berikan kami keadilan!”

Seseorang di tengah jalan sedang menuntut kepada Tuhan. Ia berlari tanpa alas kaki dan menggemakan suaranya melalui pantulan gedung-gedung tinggai pencakar langit.
Beberapa orang masih memilih kesibukannya, sebagian yang lain mencoba mencari tahu dan memandangi sosok yang kini sedang menuntut.

“Tuhan berikan kami keadilan, mengapa orang-orang itu bisa mendapatkan banyak hal, mengapa hanya kelompok mereka yang kau buat berjaya?”

“Hei, kenapa kau menuntut hal seperti itu kepada Tuhan?” Tanya salah seorang.

“Aku menuntut keadilannya, aku melihat banyak orang berusaha keras tetapi, Tuhan tak memberikan kesejahteraan, aku melihat banyak orang yang tulus tetapi, mendapatkan penindasan, sementara orang-orang yang melakukan tindakan kotor justru mendapatkan kebahagiaan.”

“Kau seyakin itu bahwa Tuhan tak adil?”

“Benar, aku sangat yakin. Ada hal yang tak adil sedang terjadi.”

“Tuhan aku sudah bekerja keras, kenapa keberhasilan hanya milik orang lain, kenapa tidak kau bagikan saja pada setiap orang Tuhan?”

Lalu seseorang lagi melangkah ke tengah jalan dengan sebuah kertas lalu berteriak lantang “Tuhan berikan kami kebebasan, ada banyak aturan yang merendahkan kemanusiaan, kami tak tahan dengan belenggu keterbatasan yang menyesakkan.”

“Kau seyakin itu menuntut kebebasan? Apa kau telah benar-benar paham tentang kebebasan? Siapa yang memberimu jaminan bahwa dengan kebebasan kau akan mendapatkan kebahagiaan?” Tanya seorang lagi.

“Aku hanya ingin bebas, yang penting cukup untuk membuatku bahagia.”

“Tuhan, kau bisa melakukan apa saja, mengapa tak cukup kau ciptakan orang baik saja di dunia ini?” Ujar salah seorang lagi.

Lalu, kota itu seketika gelap tanpa cahaya. Sepersekian detik kembali dalam keadaan semula. Namun, setiap penghuni kota itu adalah orang berjaya. Semua mendapatkan hal dengan kuantitas yang sama rata. Mereka berlomba memenuhi kebutuhan. Namun, jual-beli tak memungkinkan, sebab masing-masing orang punya kuasa untuk membeli banyak hal.

Setiap orang menjadi dermawan namun, tak ada orang yang mau menerima. Mereka ingin makanan cepat saji tetapi, semua manusia adalah penikmat. Seseorang menjadi muak, dan menuntut kembali kepada Tuhan.

“Tuhan, aku merasa memiliki segalanya, aku melihat orang-orang kini memiliki segalanya dengan porsi yang sama, ini memuakkan Tuhan.”

Lalu sepersekian detik dunia kembali dilanda kegelapan. Sepersekian detik kembali ke keadaan semula. Tak ada aturan dan manusia memiliki kebebasan. Ada banyak hal yang mengerikan terjadi. Manusia tampak serakah dengan kebebasan. Kesenangan di atas segalanya, mereka memenuhi kepuasan dengan melakukan hal-hal gila, hingga pada suatu titik, kenikmatan yang berusaha mereka kejar itu menjadi sebuah bencana. Mereka mulai tak tahan dan kembali menuntut kepada Tuhan.

“Tuhan, kebebasan ini tidak tepat, manusia menjadi sangat serakah, tak ada moral untuk memenuhi kebahagian itu. Dunia ini terlalu banyak kebebasan, kurasa kami hanya tak paham, dan memang butuh batasan yang kau maksud.”

Penulis: Rewfl