“Ibu, kau tahu? Hatiku berlubang, tembus hingga punggungku menganga, darahnya menetes dan memenuhi kamarku,” aku menelepon ibuku malam-malam, sebelum mengakhiri segala aktivitasku seharian ini sebagai mahasiswa.

Hidup tanpa hati, barangkali, sangat tidak masuk akal. Aku takut, apa jadinya ketika orang-orang mengetahui aku hidup tanpa hati. Aku meminta agar ibuku segera membelikanku hati lagi, entah yang baru atau dalam bentuk pre-loved. Ternyata ibuku mengeluh, ia mengatakan bahwa harga hati saat ini sedang melambung tinggi di pasaran untuk keluarga kami yang status ekonominya berada di kondisi pas-pasan. Oleh karenanya, aku menitipkan pesan agar ia membelinya di pedagang sayur saja yang biasanya lewat di depan rumah pada pukul tujuh pagi. Aku memintanya dengan segera karena hati itu harus kupakai lagi pekan depan; menghadapi perkuliahan.

Sebagai mahasiswa yang rajin dan yang diharap-harapkan orangtua sebagai orang yang akan mengubah nasib ke arah yang lebih baik, aku mesti tidur. Orangtuaku melarang untuk begadang jika tidak ada alasan mendesak. Selepas menelpon ibuku, aku segera mematikan lampu kamarku dan tidak memedulikan darah yang merembes di kasur dan telah menggenang di lantai kamarku.

Pagi itu, ibu kos berteriak menyebut-nyebut namaku berulangkali ketika melihat darah yang mengalir deras yang setelah diperiksa, ternyata berasal dari celah pintu kamarku –ah sialnya. Aku membatin lantas mengumpatnya dalam diam, mengapa di pagi buta ini mesti teriak-teriak. Telingaku dibuat sakit oleh lengkingan suaranya. Ibu kos bertanya perihal semua ini sementara aku masih setengah sadar.

“Bodohnya kau! membiarkan lantai kamar ini kotor. Apa penyebabnya?” Tanya ibu kos dengan nada yang ditinggikan.

“Oh maaf, bu. Hatiku sementara berlubang sampai tembus ke punggungku. Aku sudah meminta ibuku untuk mencari hati baru di pedagang sayur di kampungku. Jika hati yang kupesan telah tiba, akan segera kubereskan,” jawabku sembari mengusap wajah agar dapat fokus melihat wajah ibu kos yang garang itu.

Ia menatapku lamat-lamat –seperti hendak menerkamku saja– lantas ia memalingkan badan dan meninggalkanku begitu saja sambil mengangkat sedikit dasternya agar tidak terkena noda merah darah yang mengalir deras itu.

Cih, untuk apa membersihkan semua ini? Aku kembali membatin. Pagiku benar-benar dibuat berantakan olehnya.

Sebelum kembali mengunci pintu kamarku, salah seorang tetangga kamarku menarikku keluar. “Ah! Apalagi ini?” ia menarikku dan berdiri menatapku dalam beberapa saat. Ia memerhatikan punggungku yang terus-menerus memuncratkan darah yang begitu deras seakan-akan tidak ada lagi hal yang deras yang dapat menandingi betapa derasnya darah yang keluar dari punggungku itu.

“Pantas saja kau mengumpat daritadi, hatimu ternyata lagi rusak,” ia memecah keheningan yang secara tidak langsung telah kami ciptakan dalam waktu yang singkat.

“Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Di saat-saat seperti ini, kau bisa saja dikatakan sedang tidak memiliki hati, kau mungkin bisa meninju pelipis ibu kos yang menganggu pagimu tadi, kau juga bahkan bisa membunuhnya dan menenggelamkannya dalam genangan darahmu di lantai saat ini,” ia menarik nafas perlahan, “lantas apa yang menyebabkan hatimu luka saat ini?” ia bertanya seperti ibuku, begitu lembut.

“Aku merantau, berkuliah, membawa sepucuk harapan orangtua di kampung,”

“Lalu?” Ia menunggu aku melanjutkan jawabanku.

“Kau tahu, ini bukan yang pertama kali. Setiap pekannya, aku selalu meminta kepada ibu untuk mencarikan hati yang baru. Orang-orang di kampuskulah yang selalu merusaknya,” jelasku.

“Hm, dengan cara apa?”
“Bukannya sebagai mahasiswa baru mesti merasakan itu, ya? Kelompok mereka sering menyebut-nyebut itu di hadapan kami. Kita harus taat tradisi dan budaya yang ada di suatu tempat, loh.” Aku melahap semua pertanyaannya sementara ia hanya mengangguk-angguk dan tidak menyadari setengah dari celananya telah dipenuhi genangan darah yang berasal dari punggungku.

“Baiklah. Semoga setelah ini, kau segera mendapat hati yang baru lagi. Kau tahu, kadang, orang-orang begitu enggan memakai hati yang baru lagi selepas hati mereka yang lama dirusak. Mereka hanya menggantungnya di ruang tamu atau di atas tempat tidur lantas hanya dipandang sebagai pajangan,” ia berucap demikian lantas meninggalkanku dan masuk ke kamarnya. Kulihat genangan darahku ikut masuk dan memenuhi setiap sudut terendah yang berada di kamarnya, membasahi karpetnya, membasahi tumpukkan buku di rak paling bawah, juga menghanyutkan sepatu-sepatu.

Selepas kejadian itu, hari-hari berlalu sementara genangan darah semakin memenuhi segala sudut kota, menyesakkan pejalan kaki karena mesti menjaga pakaiannya agar tetap bersih. Aku menanti-nanti kabar ibuku. Kabar terakhir, katanya ia telah mendapatkan hati baru, harganya dua puluh ribu. Ia mendapatkannya di salah satu penjual sayur langganan yang biasanya lewat di depan rumah. Kata si penjual, saat ini hati sedang langka mengingat harga hati sangat tidak manusiawi. Ia menjual dengan harga murah dan membual bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang masih manusiawi dalam menjamu manusia lainnya. Sungguh humanis sekali bapak ini. Aku menanti-nanti, menunggu-nunggu. Kata ibuku, ia telah mengirimnya melalui kapal laut dan akan tiba dua hari lagi, hari Sabtu.

Memiliki hati yang berlubang sungguh menyakitkan, menyesakkan. Aku semakin tidak sabar untuk segera menggantinya dengan yang baru. Walau tidak bermerek, setidaknya ia berwarna merah.

Hari Sabtu telah tiba, aku segera ke gudang tempat hatiku berlabuh. Aku menemukannya. Terbungkus plastik transparan dan dipenuhi es batu di sekelilingnya sehingga masih terlihat segar. Aku segera mengambilnya dan tidak memedulikan genangan darahku yang ternyata sudah tumpah ruah memenuhi laut pelabuhan. Aku mengambilnya dan menandatangani selembar dua lembar berkas di petugas jasa pengiriman paket lantas pulang memboyong hati baru yang telah dibelikan ibuku itu.

Aku segera masuk ke kamar dan mengunci pintu. Aku membuka bungkusan hati itu dan meletakkannya di wadah plastik. Aku menelepon ibuku bahwa hati yang kupesan beberapa hari lalu telah sampai dalam keadaan segar dan tidak rusak sedikit pun. Sebelum memasang hati yang baru, aku bertanya pada diriku sendiri bagaimana agar tidak lagi merasakan hati yang sakit? Ah sial, mengapa di saat-saat seperti ini aku mesti memiliki pikiran seperti itu.

Pada waktu menjelang malam, aku belum memasang hati yang baru itu dan membiarkannya dikerubungi semut, sesekali dihinggapi lalat. Aku hanya berharap agar suatu saat, aku tidak lagi merasakan hati yang sakit seperti apa yang kurasakan saat ini, darah tumpah ruah, orang-orang mulai lelah dan memilih menggunakan perahu karet dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari akibat genangan darahku yang semakin meninggi. Di Minggu pagi, saat kuputar lagu Time to Say Good Bye punya Andrea Bocelli, aku melepas hati yang rusak dari tubuhku dan menggantungnya di dekat pintu kamar, sementara hati yang baru kuikat dan kugantungkan di atas tempat tidurku, darahnya menetes-netes, aku melihatnya setiap kali membuka mata sesekali tetesannya kadang membasahi bola mataku. Saat ini aku benar-benar menjadi manusia yang hidup tanpa hati.

Aku menjalani kehidupan kampusku tanpa membawa hati lagi, atau orang bilang aku adalah manusia yang tidak punya hati. Aku menjadi beringas. Aku merusak hati yang lain yang dimiliki orang-orang di bawahku. Aku merasa puas lantas aku bahagia. Setiap kali ibuku mengirimkan hati, aku selalu menggantungnya di setiap sudut kamarku, bahkan di beberapa tiang lampu merah di persimpangan jalan menuju kampusku. Sungguh, kehidupan seperti ini sangat membuatku bahagia. Apa yang dikatakan tetangga kamarku sungguh benar. Kami mesti melepas hati dan membuangnya untuk memperoleh kebahagiaan –dan puncak kekuatan.

Empat tahun berlangsung, kamarku sesak oleh tumpukkan hati. Aku mengajak teman-teman kampusku yang tidak memiliki hati agar segera ke kamarku, kusodorkan setiap orang mengambil lima buah hati lantas dibakar dan dimakan, barangkali enak.

Penulis: Rananta Radmila Nayaka