Makassar, Estetika – Grab bersama Narasi kembali menghadirkan Generasi Campus Roadshow 2025 di JK Arenatorium Universitas Hasanuddin (Unhas), Selasa (4/11) lalu.

Kegiatan ini mengusung tema “Passion dan Action: Eksplorasi Potensi Diri” sebagai ruang bagi generasi muda untuk mengenali, menumbuhkan, dan mengekspresikan passion mereka menjadi aksi nyata.

Antusiasme peserta tampak memenuhi seluruh ruangan JK Arenatorium. Audiens dari berbagai kalangan memadati setiap baris kursi dan tribun. Bahkan, sebagian di antaranya rela duduk di lantai karena tempat duduk yang tersedia tidak mencukupi. Suasana riuh dan penuh semangat itu dipandu oleh presenter Timothy Marbun yang membuat acara semakin hidup.

Suasana saat berlangsungnya kegiatan Generasi Campus Roadshow di JK Arenatorium Unhas, Selasa (4/11) lalu. Foto: Mutiara/Estetikapers.

Chief Executive Officer (CEO) Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menjelaskan bahwa Generasi Campus Roadshow lahir dari semangat Grab untuk menciptakan ruang yang aman dan positif bagi anak muda Indonesia agar dapat menyalurkan kreativitas dan ide-idenya. Dia menilai penting bagi generasi muda untuk berani menggali potensi diri dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

“Kami ingin mengajak adik-adik semua untuk bisa menggali potensi diri masing-masing dan berani mewujudkannya sehingga memberikan dampak positif, baik untuk diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah figur inspiratif sebagai main icons dalam sesi utama Dialog Generasi, antara lain jurnalis dan pendiri media Narasi Najwa Shihab, Aktor Nicholas Saputra, dan penulis dan sutradara Raditya Dika, namun berhalangan hadir karena sedang dirawat. Sementara itu, segmen Creativity on Stage turut menampilkan content creator dan sutradara film Kristo Immanuel sebagai representasi generasi muda yang menyalurkan passion-nya lewat karya kreatif.

Sebagai pembuka, Kristo membawakan tema “Mengejar Passion Walau Kemampuan Paspasan.” Dia menuturkan bahwa perjalanan kariernya mengajarkannya tiga hal penting, yaitu menggali turunan passion, berani mencoba hal baru, dan memperluas pertemanan dengan tulus.

Menurutnya, tidak semua hal yang disukai berarti passion sejati karena terkadang seseorang hanya terdorong oleh rasa takut tertinggal (FOMO).

“Kalau kemampuan kita pas-pasan dalam satu hal, bisa jadi itu bukan passion kita, tapi cuma sesuatu yang kita kerjakan karena FOMO. Jadi gali turunan passion kamu dan cari yang bisa membawa kamu menuju goal,” jelasnya.

Kristo juga menekankan pentingnya keberanian mencoba hal-hal baru karena dari sanalah peluang sering muncul. Dia mencontohkan pengalamannya menulis naskah, mencoba stand up comedy, hingga menjadi co-director sebelum akhirnya berhasil menyutradarai film sendiri.

Dia menambahkan, pertemanan yang tulus justru lebih berharga daripada relasi yang bersifat formal.

“Tambah teman, bukan relasi. Karena dari pertemanan yang tulus, bisa saja lahir peluang menuju tujuan kita,” tambah Kristo.

Dalam sesi berikutnya, Nicholas Saputra, mengatakan bahwa menemukan passion merupakan proses panjang yang lahir dari keberanian mencoba berbagai hal.

Dia mengaku sempat menjajal banyak bidang, mulai dari kuliah arsitektur hingga menjadi presenter, sebelum akhirnya menemukan gairah hidupnya di dunia film.

“Kalau sesuatu yang kita kerjakan malah membuat kita kehabisan tenaga, berarti itu bukan passion, karena passion ibarat “bensin” yang membuat seseorang terus bersemangat mengerjakannya,” ujar laki-laki usia 41 tahun tersebut.

Menurut Nicholas, kepolosan dan rasa tidak tahu justru menjadi pemicu keberanian untuk bereksperimen dan menemukan diri. Dia menilai bahwa pengalaman dan ketidaktahuan sering kali membuka jalan menuju hal-hal baru yang bermakna.

“Jangan kecilkan rasa ketidaktahuan itu. Kadang karena kita tidak tahu, justru kita berani mencoba,” katanya.

Sementara itu, Najwa Shihab, mengajak mahasiswa untuk tidak membiarkan kampus menjadi “penjara intelektual”. Dia menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi laboratorium kehidupan.

Najwa menilai, pengalaman non-akademik justru menjadi modal penting untuk bertahan di dunia kerja.

“Jangan hanya mengejar IPK. Saya merasa yang saya pelajari di luar kelas justru lebih penting untuk menambah keterampilan hidup saya setelah lulus,” tuturnya.

Lebih lanjut, Najwa menjelaskan bahwa passion bukanlah hal yang tetap, melainkan dapat berubah seiring waktu. Dia mendorong generasi muda untuk terus bereksperimen dengan hal-hal baru dan tidak berkecil hati jika belum bekerja sesuai passion.

“Mungkin saja passion kita berubah 10 atau 30 tahun mendatang. Jadi jangan kecil hati kalau sekarang belum bisa bekerja sesuai passion,” tuturnya.

Najwa juga membagikan kiat sederhana dalam mengeksplorasi diri, mulai dari mengganti rutinitas kecil, mengikuti kegiatan sosial, hingga mencoba hal-hal yang menggeser perspektif dari zona nyaman.

“Cobalah hal-hal yang bisa mengubah kebiasaan, seperti yang biasa naik motor pribadi, sesekali coba naik Grab. Dari situ tubuh dan pikiran kita akan bereaksi berbeda,” jelasnya.

Selain itu, Najwa menyarankan untuk membuat jurnal kegagalan sebagai bahan refleksi diri. Dia menilai, mencatat kegagalan bukan untuk meratapi nasib, melainkan untuk melihat sejauh mana diri telah berkembang.

“Selain daftar keberhasilan, buat juga jurnal kegagalan. Bukan untuk meratapi, tapi untuk melihat seberapa jauh kita tumbuh,” tambahnya.

Sebagai penutup, Najwa Shihab menyampaikan prinsip hidup yang selalu dia pegang, yakni keseimbangan antara usaha dan keikhlasan. Dia menegaskan bahwa setiap orang perlu berjuang semampunya untuk mencapai apa yang diinginkan, namun tetap menerima dengan lapang hati apa pun hasil yang sudah ditetapkan.

“Kejar terus apa yang diinginkan semampunya. Tapi kalau sudah ada ketetapan Tuhan, terima dengan ikhlas dan jadikan itu waktu untuk mendekatkan diri kepada-Nya,” pungkas perempuan kelahiran tahun 1977 tersebut.

Reporter: Mutiara