Makassar, Estetika – Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi) Dewan Mahasiswa (Dema) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar menghelat Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia (Narasi) di Balroom Phinisi lantai dua pukul 09.30 Wita, Sabtu (17/11) dengan menghadirkan tiga pembicara, yakni Suminto A. Sayuti, Guru besar Fakultas Bahasa dan Seni Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Imam Suyitno, Guru Besar Unversitas Negeri Malang (UM) serta Salam, Guru Besar FBS UNM dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa.

Penyerahan cendramata oleh Himaprodi kepada ketiga Guru Besar bahasa Indonesia (kanan), Sabtu, (17/11). Foto: dokumentasi pribadi Himaprodi PBSI.

Kegiatan ini mengusung tema Bahasa dan Sastra Indonesia Responsif Budaya untuk Penguatan Karakter Bangsa di Era Industri 4.0.

Dalam materi yang dipaparkan oleh Salam, ia mengatakan bahwa mempelajari bahasa sangat penting dalam berpikir.

“Mempelajari bahasa adalah tugas utama manusia, karena dengan bahasa kita dapat berpikir secara rasional dan berusaha menghindari kekeliruan dalam berpikir,” ujarnya.

Sementara Imam Suyitno, pemateri lain dalam kegiatan ini membahas keadaan generasi milenial candu internet.

“Ketika internet menjadi kebutuhan, kecepatan jari-jari, melebih kecepatan otak, terlalu banyak hoaks sering dikirim dan tersebar begitu saja,” ungkapnya.

Terkait materinya, ia juga menyampaikan bahwa efek penggunaan daring dalam bahasa Indonesia terkikis padahal aspek penggunaan bahasa di ruang digital telah diatur dalam pasal 39 UU Republik Indonesia No. 24 Tahun 2009.

“Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi melalui media massa, artinya informasi yang melengkapi keterangan bisnis daring wajib menggunakan bahasa Indonesia bukan bahasa Asing, namun lihatlah kata reseller, endorse, dsb, telah menyebar luas”, tambahnya.

Di sisi lain, Suminto, pemateri terakhir, mengungkapkan bahwa kemajuan bangsa harus maju seiring berkembangnya teknologi.

“Bagaimanapun itu, kemajuan teknologi yang semakin pesat ini, kita harus tetap mempertahankan budaya bangsa Indonesia dan memajukan bangsa dan terus mengembangngkan kemampuan bahasa kita di era Industri 4.0 ini,” tutupnya.

Reporter: Anisa Maulidiah Alam & Rini Amriani