Makassar, Estetika – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) BECREATIVE Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar Talkshow bertajuk BE TalkXbition dengan tema “Inovative Resolution, Beyond Zero Waste Creativity” di Ruang DH 101, Selasa (27/5).

Menghadirkan pembicara Dika Bangsawan selaku Creative and Campaigner Officer, talkshow ini membahas bagaimana sampah atau bahan mentah menjadi sebuah cuan dalam kampanye digital yang kuat namun tetap menghasilkan secara ekonomis.

Suasana saat berlangsungnya Talkshow bertajuk BE TalkXbition di Ruang DH 101, Selasa (27/5). Foto: Nurul Dwi Anugrah/Estetikapers.

Pemateri, Dika Bangsawan, menjelaskan bahwa produk kerajinan merupakan barang yang dibuat secara manual atau menggunakan bantuan alat sederhana oleh pengrajin dengan menekankan unsur kreativitas, estetika, ekonomi, budaya dan inovatif.

“Produk kerajinan bisa berasal dari bahan alami dan bahan buatan yang biasanya diproduksi dalam jumlah terbatas,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia menyebut bahwa teknik pengolahan bahan mentah yang tepat adalah memerhatikan daya tahan dan keamanan produk, kerapihan, efisiensi, pengemasan, mengenali produk hingga target pasar, membuat identitas brand yang menarik, menggunakan social media untuk promosi, serta membangun kepercayaan pelanggan.

“Terdapat berbagai tahapn atau teknik yang tepat dalam mengolah dan memasarkan sebuah bahan mentah menjadi efektif dan efisien,” ujarnya.

Adapun salah seorang peserta, Anugrah, memberikan pertanyaan, yakni apa tantangan terbesar yang biasanya dihadapi seorang mahasiswa ketika hendak memulai sebuah bisnis di tengah tingginya persaingan?.

“Apa tantangan besar dalam memulai bisnis apalagi sudah banyak produk besar dan persaingan yang tinggi?,” sebutnya.

Menanggapi hal tersebut, Dika menjelaskan bahwa sebuah produk bisa laku di pasaran harus mendapat dukungan dari pihak luar dan tentunya memiliki modal untuk melihat potensi produk yang ingin dibuat.

“Sebuah produk itu perlu mendapat dukungan dari pihak yang terlibat, karena kalau tidak, maka itu hanya sebatas ide dan ada juga tantangan modal guna melihat potensi produk yang ingin dipasarkan,” jelasnya.

Reporter: Mutiara