Makassar, Estetika – Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) menyuarakan aspirasinya terkait problematika UNM melalui Menjamu Aspirasi (Meja) Demokrasi di Pelataran Menara Pinisi, Senin (15/7).

Belakangan ini, beberapa kebijakan di UNM banyak dikritik oleh Mahasiswa. Terlebih lagi, kwitansi almamater yang dijadikan syarat stempel Nomor Induk Mahasiswa (NIM). Selain itu, beberapa masalah juga diidentifikasi oleh masing-masing perwakilan lembaga atau fakultas yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UNM.

Berangkat dari hal itu, Aliansi Mahasiswa UNM memutuskan untuk mengadakan Meja Demokrasi yang mengusung grand isu “Semua Berhak Suarakan Masalah UNM”.

Selain grand isu tersebut, Aliansi Mahasiswa UNM turut menyuarakan delapan isu turunan, yakni:

1. Hilangkan syarat kuitansi almamater.

2. Terbitkan Surat Keterangan (SK) Peninjauan Uang Kuliah Tunggal (UKT).

3. Cabut Surat Pemberitahuan Kepala Jurusan (Kajur) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

4. Implementasi Amanat Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 30 Tahun 2021.

5. Terbitkan SK Penegasan pemisahan kewajiban wisuda dan ramah tamah.

6. Realisasi penggolongan UKT mahasiswa finansial.

7. Tolak Iuran Pengembangan Institusi (IPI) kedokteran.

8. Tingkatkan kualitas website.

Jenderal Lapangan, Zahran Arya Putra, menuturkan bahwa Meja Demokrasi ini merupakan tempat untuk menyampaikan aspirasi dan hasil kajian seluruh mahasiswa serta mempertanyakan kejelasan terkait tuntutan-tuntutan yang telah diajukan guna mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

Zahran juga menjelaskan bahwa momen ini akan menjadi simbol keberpihakan Rektorat UNM terhadap amanat konstitusi Indonesia.

“Jadilah realistis, tuntut yang tidak mungkin guna wujudkan pendidikan terjangkau, berkualitas, dan berintegritas untuk semua,” tuturnya.

Senada dengan Zahran, salah seorang massa, Nur Alam, mengatakan bahwa Meja Demokrasi sangat mendesak karena banyak tuntutan yang membutuhkan jawaban, termasuk SK Peninjauan UKT.

Ia menyebut mahasiswa memerlukan kepastian mengenai waktu penerbitan SK peninjauan UKT, sementara pembayarannya hanya dibuka hingga 31 Juli mendatang.

“Aksi hari ini sangat urgent, mengingat tuntutan yang membutuhkan jawaban secepatnya,” katanya.

Meja Demokrasi ini diikuti oleh delapan Lembaga Kemahasiswaan (LK), yakni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H), BEM Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (HMPS PE), BEM Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Aliansi Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIKK), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Serikat Peduli Dada Darma (SPD).

KRONOLOGI MEJA DEMOKRASI

Berdasarkan hasil pengamatan Tim Estetika, sejumlah massa awalnya berkumpul di fakultas masing-masing. Massa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNM sendiri mulai memadati kampus sekitar pukul 09.00 WITA. Massa bergerak menuju titik kumpul di Menara Pinisi pada pukul 12.27 WITA, kemudian sampai di titik Meja Demokrasi pada pukul 12.37 WITA.

Suasana saat massa berjalan menuju Pelataran Gedung Pinisi UNM, Senin (15/7). Foto: Miftahul Jannah/Estetikapers.

Pada pukul 13.00 WITA, massa mulai berkumpul di titik Meja Demokrasi, tepatnya di Pelataran Menara Pinisi UNM. Kemudian, Jenderal Lapangan melakukan pembacaan orasi dan dilanjutkan dengan penyampaian masing-masing tuntutan oleh massa.

Suasana saat berlangsungnya Meja Demokrasi di Pelataran Gedung Pinisi UNM, Senin (15/7). Foto: Miftahul Jannah/Estetikapers.

Ratusan massa menyuarakan tuntutan-tuntutan hingga pukul 15.20 WITA, namun tak kunjung mendapatkan respons dari rektor. Akhirnya, massa memutuskan untuk mencoba menerobos masuk ke dalam Gedung Pinisi hingga saling dorong dengan satpam di depan pintu masuk. Namun, massa tetap tidak diperbolehkan masuk.

Pada pukul 15.39, massa melayangkan peringatan pertama sebab masih tidak mendapatkan respons dari rektor. Setelah beberapa menit, tepatnya pada pukul 15.50, penjaga keamanan mengizinkan lima orang perwakilan massa dan satu perwakilan tiap Pers Mahasiswa (Persma) ke ruang rapat pimpinan.

Setelah perwakilan massa naik ke ruang rapat pimpinan, massa ternyata tidak bertemu rektor melainkan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WR III) UNM. WR III UNM mengatakan bahwa rektor tidak dapat ditemui karena sedang lelah dan memiliki tamu.

Pada pukul 16.17 WITA, perwakilan massa keluar dari gedung. Meja Demokrasi digelar tanpa kehadiran rektor pada pukul 16.27. Akhirnya, agenda ini dilaksanakan dengan menyusun kursi dan meja kosong di tengah-tengah massa aksi menyimbolkan hadirnya Rektor UNM.

Salah seorang massa, Dirga, mengatakan bahwa rektor tidak akan menghadiri meja dialog dengan Aliansi Mahasiswa UNM, karena kelelahan.

Ia menyebut, jika rektor tidak dapat menghadiri Meja Demokrasi karena kelelahan, mahasiswa juga kelelahan.

“Kalau capek, kita sama-sama capek,” tuturnya.

Sementara itu, salah seorang massa, Risqullah, menjelaskan bahwa massa aksi tidak bisa hanya mendengarkan satu pihak, sehingga perlu bertemu secara langsung untuk menghindari kesalahpahaman.

“Kita harus bertemu secara langsung, supaya tidak terjadi multi-tafsir,” jelasnya.

Risqullah menyebut bahwa dengan tidak hadirnya rektor pada meja demokrasi ini menandakan semua tuntutan yang disampaikan belum mendapat kejelasan. Ia berharap setelah aksi ini, rektor dapat memberikan tanggapan secara langsung.

“Kami melakukan meja demokrasi ini dengan cara yang baik supaya ada tanggapan langsung dari rektor,” ujarnya.

Pada pukul 17.00 WITA, massa melakukan pernyataan sikap terhadap rektor. Setelah Meja Demokrasi berlangsung selama kurang lebih lima jam, massa membubarkan diri pada pukul 17.06 WITA.

WR III UNM SEBUT AKAN PERTEMUKAN ALIANSI MAHASISWA DENGAN REKTOR UNM.

Menurut keterangan dari Jenderal Lapangan, Zahran, saat perwakilan massa bertemu dengan WR III di ruang rapat pimpinan. Ia menyebut dirinya akan mempertemukan aliansi mahasiswa dengan pihak rektor secara langsung.

“Tadi teman-teman ketemu WR III, beliau juga akan mempertemukan kawan-kawan dengan pihak rektor,” katanya.

Reporter : Miftahul Jannah & Virgita Crustia S.