Tana Toraja, Estetika Mendung pagi hari mengiringi keberangkatan mahasiswa Sastra Indonesia (SASINDO) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) menuju Tana Toraja untuk melaksanakan study tour, Senin (11/12). Sebanyak 76 mahasiswa yang memprogram mata kuliah Masyarakat dan Kesenian Indonesia berkumpul di lapangan Parkir Samping Gedung DH FBS UNM untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Perjalanan dimulai dari Kampus UNM Parangtambung sekitar pukul 10.45 WITA, dengan menggunakan tiga bus UNM. Andi Agussalim AJ, selaku dosen mata kuliah juga menjadi pendamping dalam kegiatan yang dilaksanakan selama empat hari tersebut, Senin-Kamis (11-14/12).

Menjajal Terjalnya Jalanan Dengan Mobil Truk

Pukul 21.00 Wita, rombongan memasuki salah satu desa terpencil di Toraja Utara, Desa Serre Topai. Penat sudah terang sekali tergambar di wajah peserta, akhirnya rombongan memutuskan untuk rehat di salah satu kediaman mahasiswa angkatan 2017, Arlin.

Setelah pemberitahuan jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan di keesokan hari, Andi Agussalim AJ, pendamping kegiatam memutuskan untuk melanjutkan perjalanan keesokan paginya.

“Baiklah anak-anakku, silahkan istirahat Malam ini dengan sebaik mungkin. Kegiatan kita akan dimulai besok pada pukul 09.00 Wita,” ujarnya.

Selasa (12/12), pukul 09.00 WITA, peserta sudah siap untuk melanjutkan perjalananya dengan menggunakan transportasi yang berbeda. Dikarenakan kondisi jalanan yang berkelok dan terjal, peserta diharuskan untuk menumpangi tiga truk berukuran sedang yang disediakan. Perjalanan ke lokasi tujuan memakan waktu sekitar 1 jam 45 menit. Sorak-sorai dan kegembiraan menikmati suasana alam dan perkotaan Tana Toraja sangat dinikmati oleh para peserta.

Rambu Solo, Upacara Kematian Tana Toraja

Salasa menjelang siang (12/12), rombongan peserta tiba di Desa Putinanga untuk mengikuti serangkaian tradisi upacara Rambu Solo. Rombongan berjalan beriringan dengan membawa bingkisan bunga duka memasukki Aula Tongkonan yang berbentuk sulapa appa. Pembacaan tanda terima kasih dan turut berduka disampaikan dan diiringi dengan Tarian Mapairo.

Tari Mapairo yang dipersembahkan untuk penyambutan tamu dalam upacara Rambu Solo, Selasa (12/12). Foto: St. Fatimah/estetikapers.

Di dalam aula, rombongan juga disambut dengan Tari Mabadong yang merupakan tarian melingkar. Beberapa pelayan duka menghidangkan Minuman dan Makanan yang diseduhkan selama lima menit setelah itu Gong dipukul. Tak lama, suara gong kedua terdengar, bertanda penyambutan tamu telah selesai.

Peserta study tour saat berada di dalam aula tongkonan sulapa appa, Toraja, Selasa (12/17). Foto: St. Fatimah/estetikapers.

Rambu solo merupakan upacara kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di tempat peristirahatan. Puncak dari upacara rambu solo di laksanakan setelah berminggu-minggu hingga bertahun-tahun setelah meninggal.

Salah satu prosesi Rambu Solo, tamu diwajibkan berbaria rapi sebelum memasuki aula tongkonan sulapa appa. Foto: St. Fatimah/estetikapers.

Sayangnya, peserta hanya dapat mengikuti ritual penyambutan tamu. Maryam Tandung, keluarga duka mengungkapkan bahwa ritual puncak dari upacara Rambu Solo inu akan dilaksanakan sebulan kemudian.

“Ritual puncaknya akan dilaksanakan sebulan setelah upcara penyambutan. Yang sekarang ini hanyalah awal dari ritual puncaknya. Gunanya mengumpulkan persembahan serah terimah berupa hadiah dari keluarga ataupun kerabat yang turut berduka, seperti memberi beberapa ekor babi dan kerbau sebagai sumbangsih,” terangnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa setelah prosesi tersebut ialah prosesi mengingat kebaikan yang telah meninggal.

“Kemudian kami catat untuk data mengingat kebaikan mereka dan harus kami balas atau bisa disebut itu adalah utang,” ungkap anak dari yang meninggal itu.

Reporter: St. Fatimah