Parangtambung, Estetika – Mahasiswa semester lima Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia (Sasindo) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) kelas A Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) telah melakukan sidang sastra di ruangan DH 101 FBS UNM, Jumat (23/11).

Sidang sastra merupakan metode pembelajaran yang diterapkan pada mata kuliah Kritik Sastra yang menggugat tentang Ruang Lingkup Sastra. Kegiatan ini bertujuan untuk menimbang baik buruknya suatu karya sastra dalam melihat karya sastra dari berbagai sudut pandang. Adapun beberapa topik pokok permasalahan adalah Latar belakang perdebatan kritik Ganzheit dengan kritik analitik, Golongan rawamangun, Pengaruh kebudayaan Barat dalam karya sastra Indonesia, Hubungan antara karya sastra dengan dunia nyata yang membatasi imajinasi penulis, serta Pengungkapan kritik feminisme hitam dan feminisme lesbian dalam lingkungan sastra Indonesia.
Nensilianti, selaku Dosen Pengampu, mengungkapkan bahwa cara seperti ini dapat menantang mahasiswa untuk lebih menggali informasi dan mempertahankan gagasannya.
“Cara ini menjadikan setiap mahasiswa memiliki dan memainkan peran masing-masing sehingga mahasiswa dapat lebih tertantang untuk menggali informasi, menyampaikan informasi, dan mempertahankan gagasan mereka sembari menerima serta menghargai gagasan orang lain,” jelasnya.
Selain metode Sidang Sastra, ada beberapa variasi metode pembelajaran yang diterapkan, diantaranya kegiatan menabung, membaca novel, dan membuat sinopsis, serta ada beberapa bentuk diskusi yang diterapkan yaitu diskusi lapak, presentasi beregu di lapangan dengan menggunakan media pop up, serta beberapa variasi pengelompokan dan penugasan, termasuk kegiatan studi visit dan projek penulisan artikel.
Di sisi lain, Nurul Fajrianti, salah seorang mahasiswa Sasindo, mengungkapkan bahwa metode yang telah dibahas dalam kritik sastra ini sebaiknya langsung pada karya sastranya.
“Permasalahan yang telah dibahas kurang tepat karena membahas teori yang sudah ada dan mengangkat tentang latar belakang teori, namun alangkah bagusnya yang disidangkan itu langsung pada karya sastranya serta implementasi teori dalam karya sastra,” pungkas mahasiswa berkacamata ini.
Rilis: Mahasiswa Sasindo 2016 Kelas A