Makassar, Estetika – Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar presentasi gagasan sebagai babak final Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tahun 2025 di Ruang Senat FBS UNM, Senin (26/5).

Sebanyak enam kandidat berkesempatan untuk memaparkan gagasan kreatifnya, yakni:

  1. Kevin Sorongngallo dari Jurusan Pendidikan Bahasa Asing (JPBA): “Digital Detox Weekend” Sebagai Upaya Preventif Dalam Menurunkan Agresivitas Verbal Remaja di Media Sosial.
  2. Muh. Naufal Ashari N. dari Jurusan Bahasa Inggris (JBI): Peningkatan Kompetensi Bahasa Berbasis Trilingual Untuk Pengembangan Karir Narapidana Remaja Dalam Upaya Pencegahan Residivisme di Lapas Narkotika Kota Makassar.
  3. Artika Sari dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI): Krisis Bahasa: Revitalisasi Bahasa Daerah di Tengah Ancaman Kepunahan Melalui Pendidikan, Kebijakan, dan Media.
  4. Alam Nuari dari Prodi Bahasa Inggris D4: Bahasa Sebagai Alat Perlawanan: Studi Linguistik Pada Gerakan Sosial Gen Z di Media Sosial.
  5. Izzah Insyirah Armin dari Prodi Bahasa Inggris Program Sarjana Terapan: Digital Story Telling di Media Sosial: Strategi Kebahasaan dan Teknologi Untuk Mendorong Keberanian Pemuda Menyuarakan Isu Sosial.
  6. Lutfhiyah Salsabillah dari Prodi Bahasa Inggris Program Sarjana Terapan: Membangun Kompetensi Komunikasi Bahasa Inggris Melalui Media Digital Untuk Persiapan Karier Profesional.
Suasana saat berlangsungnya presentasi gagasan kreatif dalam Pilmapres FBS 2025 di Ruang Senat FBS UNM, Senin (26/5). Foto: Mutiara/Estetikapers

Dalam sambutannya, Dekan FBS UNM, Anshari, menjelaskan bahwa Pilmapres bertujuan mengukur keterampilan linguistik mahasiswa dengan menyeimbangkan kemampuan menulis dan berbicara dalam penyampaian gagasan.

“Tidak hanya dinilai dari kemampuan menulis, tetapi juga melihat sejauh mana mereka mampu menyampaikan gagasannya secara lisan,” tuturnya.

Sementara itu, pada sesi presentasi, salah seorang finalis Mawapres Program S1, Kevin Sorongngallo, mengajukan gagasan kreatif berupa Digital Detox Weekend sebagai solusi jeda media sosial selama 48 jam untuk menurunkan agresivitas verbal remaja.

Dia menjelaskan bahwa gerakan ini bertujuan mengurangi paparan konten negatif dan respons impulsif.

Digital Detox Weekend merupakan gerakan ajakan kepada semua remaja pengguna media sosial untuk melakukan jeda selama dua hari,” jelas Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jerman (PBJ) itu.

Di sisi lain, salah seorang finalis Mawapres Program D4, Luthfiyah Salsabillah, mengangkat gagasan kreatif tentang pentingnya pemanfaatan media sosial sebagai sarana pembelajaran bahasa Inggris yang interaktif, dengan memanfaatkan platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube yang sesuai dengan karakter Generasi Z.

“Dengan ikut andil dalam pembuatan konten berbahasa Inggris, mahasiswa tidak hanya belajar tetapi juga aktif terlibat secara kreatif,” jelas Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris Sarjana Terapan itu.

Reporter: Mutiara