Kabar Kampus

DIALOG KEMAHASISWAAN LK-BIROKRASI FBS UNM, BAHAS KEAMANAN KAMPUS HINGGA MOSI TAK PERCAYA WD III

Parangtambung, Estetika– “Pilihan hanya dua, dialog tanpa aksi, atau aksi tanpa dialog,” tegas Sukardi Weda, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan (WD III) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM).

Perdebatan cukup alot terjadi antara pihak birokrasi FBS UNM dan Lembaga Kemahasiswaan (LK) FBS UNM, sesaat setelah suara sirine peringatan aksi baru saja dibunyikan dan spanduk berisi lima tuntutan dibentangkan di depan Gedung DG FBS UNM, Parangtambung, Makassar, Kamis (12/12), sekitar pukul 10.00 Wita.

LK FBS UNM tengah bersiap melakukan aksi peringatan Hari Hak Asasi Manusia yang jatuh pada Selasa (10/12) lalu. Sempat tertunda akibat kabar duka atas wafatnya salah seorang dosen FBS UNM, Profesor Mansur Akil, pada Rabu (11/12), aksi pun dilaksanakan keesokan harinya.

Baca Juga: PROFESOR MANSUR AKIL WAFAT, FBS BERDUKA

Dalam aksi ini, LK FBS UNM menyuarakan lima tuntutan, yaitu (1) Menuntut pimpinan FBS UNM bertanggungjawab atas keamanan dan konflik yang terjadi di FBS UNM; (2) Wujudukan profesionalisme kinerja WD FBS UNM; (3) Segera selesaikan pembangunan sekretariat LK; (4) Segera merevitalisasi perpustakan FBS UNM; (5) Mosi tidak percaya kepada WD III sebagai WD bidang Kemahasiswaan yang kurang bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas.

Belum juga aksi dimulai, birokrasi FBS UNM terlebih dahulu menuju ke Gazebo FBS UNM dan melarang seluruh mahasiswa menggelar aksi. Sempat terjadi kesalahpahaman perihal aksi yang akan dilaksanakan, birokrasi mengira bahwa aksi tersebut menuntut persoalan larangan berkegiatan malam di kampus.

Suasana saat birokrasi membubarkan aksi di Gazebo, Kamis (12/12). Foto: Alfira Damayanti/Estetikapers.

Setelah kesalahpahaman tersebut diluruskan, Dekan FBS UNM, Syukur Saud, pun menyarankan agar persoalan lima tuntutan tersebut dibicarakan dengan jalan dialog kemahasiswaan di Ruang Senat Lt.2, Gedung Fakultas.

“Tidak elok kalau masih bisa kita bicarakan baik-baik tapi tetap diteriak-teriak ki? Kita sama-sama duduk di atas sana (baca: Ruang Senat Lt.2), kita diskusikan,” ajaknya.

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FBS UNM, Fadil Abdillah, sontak menepis hal tersebut. Menurutnya, kebebasan berekspresi dalam bentuk aksi turun ke jalan diperbolehkan dalam Undang-Undang.

“Bukan tidak mau dialog, masa biar aksi tidak boleh? Sejak kapan? Bagaimana kalau selesai aksi baru dialog? Seperti yang kemarin-kemarin,” tegasnya.

Ambil Jalan Tengah, Dialog Dilaksanakan Setelah Aksi

Kamis (12/12), pukul 11.30 Wita, LK FBS UNM pun melaksanakan aksi peringatan Hari Hak Asasi Manusia dengan menyuarakan lima tuntutan. Massa aksi yang terdiri dari 36 fungsionaris LK FBS UNM ini memulai aksi di Lapangan FBS UNM dan berjalan menuju depan gedung Fakultas FBS UNM dengan menyanyikan Hymne BEM UNM. Tak perlu waktu lama, massa aksi pun diterima pihak birokrasi dan langsung menuju ruang senat Lt. 2 untuk melaksanakan dialog.

Suasana saat berlangsungnya dialog di ruang senat lt. 2, Kamis (12/12). Foto: Alfira Damayanti/Estetikapers.

Dialog ini dihadiri lima belas pimpinan birokrasi, yaitu Nensilianti selaku pimpinan Komisi Disiplin (Komdis) FBS UNM, Syukur Saud selaku Dekan FBS UNM, Saleh selaku WD II FBS UNM, Sukardi Weda selaku WD III FBS UNM, Azis selaku WD IV FBS UNM, Samtidar selaku Kepala Jurusan (Kajur) Bahasa Inggris, La Sunra selaku Sekretaris Jurusan (Sekjur) Bahasa Inggris, Mayong Maman selaku Kajur Bahasa Indonesia, Usman selaku Kepala Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fatkhul Ulum selaku Kaprodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Murni Mahmud selaku Kaprodi Sastra Inggris, Syamsu Rijal selaku Kaprodi Bahasa Jerman, Misnawaty selaku Kaprodi Bahasa Mandarin, dan Hasnawati selaku Kepala Laboratorium (Kalab) Bahasa Asing.

Mengawali dialog, Presiden FBS UNM, Fadil Abdillah, menegaskan bahwa jalan dialog dilakukan untuk mencari solusi, bukan untuk menyalahkan mahasiswa.

“Kita mau mencari solusi. Kita duduk disini untuk membahas solusi. Setidaknya untuk dekat-dekat ini daripada kita saling menyalahkan teman-teman mahasiswa,” terangnya.

Konflik Kampus, Mensospol BEM Minta Birokrasi Tak Salahkan LK

Beberapa pekan sebelumnya, kampus FBS UNM mengalami konflik antar mahasiswa. Berawal dari kasus penikaman terhadap dua mahasiswa FBS UNM di FBS, Senin (21/10); bentrok antar mahasiswa FBS dan FSD di UNM Parangtambung, Kamis (21/11); dan adanya pengeroyokan oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) terhadap 2 Mahasiswa Baru FBS UNM di Jl. Dg Tata 1, Sabtu (23/11).

Baca Juga: MAHASISWA FBS ALAMI PENIKAMAN HINGGA PENGEROYOKAN, FBS TAK LAGI AMAN?

Menteri Sosial dan Politik (Mensospol) BEM FBS UNM, Muh. Fadel Rachman, pun meminta agar pihak birokrasi tak selalu menyalahkan LK atas setiap konflik yang terjadi.

“Kita selalu mendengar suara-suara dari pimpinan kita yang menyalahkan kita kalau hadir di kampus, kita ke kampus untuk kuliah kan? Tapi jika saat ada konflik, kita disalahkan, kita disuruh mundur. Tapi kalau ada soal persoalan mengenai fasilitas pribadi yang dimiliki mahasiswa, motor dirusak, mobil yang dirusak, pimpinan yang harus bertanggungjawab atas suasana di kampus, bukan malah menyalahkan mahasiswa,” ungkapnya.

Menjawab argumen tersebut, Dekan FBS UNM, Syukur Saud, berdalih bahwa keselamatan mahasiswa merupakan hal utama yang harus dilindungi.

“Kalau ada tawuran seperti itu, saya itu deg-degan, saya itu bagaimana caranya saya bisa melindungi supaya anak saya itu tidak terkena busur, anak saya tidak terkena parang, tidak terkena badik. Saya mau maju, langsung ditarik lagi ‘janganki disitu pak, nah kena ki nanti busur’,” tuturnya.

Ia juga menuturkan bahwa mahasiswa yang membawa senjata tajam ke kampus kerap menjadi masalah yang dibahas.

“Tapi kenapa ini busur, kenapa ini parang, kenapa ini papporo, kenapa ada senjata-senjata tajam ada di kampus. Ini yang saya tidak tahu. Memangnya kami pernah menyerukan kalian untuk bawa panah, papporo? Tidak pernah. Makanya ini pimpinan ini, supaya aman, kita sweeping. Jangan ada papporo, ada panah di kampus. Ternyata di atas rumahnya pak Calli dikumpul semua panah, papporo, badik, bahkan alat pembuat senjata tajam disitu. Sampai Pak Rektor bilang, kenapa ada mahasiswa bawa begituan ke kampus?” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia pun menegaskan bahwa apabila ada mahasiswa yang tersangkut kasus kriminal dalam kampus, pihak kampus tak akan bertanggungjawab memberi jaminan pada kepolisian.

“Kami sudah digariskan dari atas, mulai daripada Rektor dan seluruh pimpinan fakultas mengatakan kalau ada kriminal dalam kampus, membawa parang, badik di dalam kampus, kemudian didapat oleh polisi, jangan ada diantara kalian yang pergi mengurus untuk membuat jaminan,” ucapnya.

LK FBS UNM Soroti Kinerja Wakil Dekan yang Tak Sesuai Tugas

Sebagaimana telah diketahui, wakil dekan merupakan pelaksana tugas harian dekan. Setiap wakil dekan memiliki tugas dan wewenangnya masing-masing. FBS sendiri memiliki empat wakil dekan, Wakil Dekan Bidang Akademik (WD I), Wakil Dekan Bidang Sarana dan Prasaeana (WD II), Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan (WD III), dan Wakil Dekan Bidang Kerjasama (WD IV).

Mensospol BEM FBS UNM, Muh. Fadel Rachman mengatakan bahwa WD I harusnya mengurusi soal akademisi mahasiswa, bukan malah mengambil alih tugas WD II dan WD III.

“Sebagaimana yang teman-teman diskusikan, dimulai dari WD I selaku pemegang amanah atau yang bertanggung jawab di bidang akademik yang megurusi akademisi mahasiswa itu beralih fungsi mengambil kinerja WD III selaku bidang Kemahasiswaan dan juga beralih mengambil fungsi WD II selaku mengatur sarana dan prasana. Dimana letak tanggung jawabnya sebagai WD I? Harusnya difikirkan dulu soal akademik,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan agar WD I lebih memberikan inovasi terhadap akademik di FBS.

“Semoga bisa disampaikan kepada WD I, mungkin ada baiknya berinovasi mengenai akademik mahasiswa sebelum mengurusi hal yang lain,” harapnya.

Selain menyoroti kerja WD I, LK juga menyoroti kinerja WD III yang dinilai lepas tangan terhadap setiap permasalahan yang ada di kampus FBS UNM. Staf Menteri Pendidikan dan Kebudayaan BEM FBS UNM, Resky Seniawan Gasmin, mengungkapkan bahwa WD III FBS UNM diharapkan dapat menyalurkan aspirasi mahasiswa FBS UNM.

“Kami mau dekat dengan WD III sebagai bidang kemahasiswaan yang selalu menyalurkan aspirasi-aspirasi kami dan kami mau itu. Penilaian teman-teman bukan berdasarkan jabatan sebagai WD III bapak, tapi bagaimana kita bersinergi secara kelembagaan kedepannya. Mungkin harapannya teman-teman, birokrasi lebih peka lagi,” ungkapnya.

Mengenai pernyataan tentang WD yang tak bekerja sesuai tugasnya, Dekan FBS UNM, Syukur Saud, lantas membantah hal tersebut. Ia mengatakan, WD I tak berperan ganda, melainkan hanya memberi saran terhadap WD lainnya.

“Dia (baca: WD I) tidak berfungsi sebagai WD II atau WD III, tapi dia hanya memberikan saran kepada WD II dan WD III,” tukasnya.

WD II FBS UNM, Saleh, juga menambahkan bahwa WD bekerja tak secara individual, melainkan bekerjasama satu sama lain.

“Wakil dekan tidak kerja sendiri-sendiri, dalam banyak hal kita saling membantu satu sama lain. Seperti yang disampaikan oleh dekan, WD I melaporkan kepada kami, kami melaporkan kepada dekan, dan dekan yang melaporkan ke universitas,” ungkapnya.

Selain itu, WD III FBS UNM, Sukardi Weda, memohon maaf apabila kinerjanya tak dinilai dengan baik.

“Mohon maaf kalau saya salah, mungkin selama ini saya salah berbuat. Tapi hari ini anda mengatakan yang ‘Mosi tidak percaya’ tidak apa-apa. Satu noda dikalahkan tapi seratus kebaikan itu dilupakan, tapi itu tidak apa-apa,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa selama ini ia telah melakukan tugasnya sebagai WD III demi mewujudkan kegiatan belajar-mengajar yang kondusif dan taat aturan.

“Sebagai WD III, saya ingin melakukan yang terbaik untuk kampus kita ini. Setiap ada pelepasan, ada kegiatan saya akan hadiri. Setiap ada aksi, setiap ada tawuran saya selalu ada. Kita mengundang dekan kampus sebelah kita undang untuk berdiskusi, bagaimana baiknya agar kegiatan belajar-mengajar kita bisa berlangsung kondusif. Kita mau kita taat aturan, agar bisa bekerja dengan profesional,” ungkapnya.

Soroti Sarana dan Prasarana, LK Tuntut Revitalisasi Perpustakaan dan Pembangunan Sekretariat LK

Selain menyoroti kerja WD, dalam dialog kali ini, LK FBS UNM juga menagih janji penyelesaian pembangunan sekretariat LK dan menuntut pihak birokrasi untuk merevitalisasi perpustakaan FBS UNM.

Pembangunan sekretariat LK di belakang gedung DG FBS UNM dinilai mandat kembali. Terlihat jalannya pembangunan terhenti sebatas sebatas tiang dan atap. Dekan FBS UNM, Syukur Saud pun menjelaskan pembangunan sekretariat LK tersebut dibangun secara bertahap.

“Jadi sebenarnya saya ini, ingin memuaskan semua orang. Apalagi kalau ananda ingin ini, ingin itu. Kita ini dibatasi oleh orang mengatakan daeng pakulle, daeng pakulle itu uang. Artinya kalau kita ini harus bertahap, yang mana daftar keinginan, mana daftar kebutuhan. Jadi kita saling melihat sisi prioritas kita,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa pembangunan sekretariat LK tersebut hampir selesai.

“Alhamdulillah, sudah sampai di sini. Syukuri dulu apa yang ada, nanti ditambah kalau ada lagi. Tapi In Syaa Allah, kita sudah mau selesai. Doakan saja,” harapnya.

Di sisi lain, Ketua Komdis FBS UNM, Nensilianti, juga menyampaikan bahwa dengan adanya sekretariat LK di kampus, diharapkan tidak menimbulkan permasalahan da konflik di kampus.

“Pertama, sekretariat itu adalah kantor. Tolong memposisikan sekretariat kalian itu sebagai kantor. Kedua, ada alumni yang masih ‘berkantor disitu’. Jangan sampai hal itu tidak bisa kalian kendalikan, dan memicu tim saya dan tim Komdis,” tegasnya.

Mengenai revitalisasi perpustakaan, ia pun menyetujui perihal tersebut. Nensi menyatakan bahwa perpustakaan FBS UNM memang perlu pembenahan.

“Ini juga menjadi catatan pimpinan bahwa perpustakan ini memang perlu segera dibenahi,” ungkapnya.

Mengenai hal tersebut, Dekan FBS UNM, Syukur Saud pun meminta kepada pihak birokrasi untuk menyumbangkan bukunya untuk perpustakaan.

“Tolong minta buku di rumahnya Alm. Prof. Mansur Akil. Beliau menyumbangkan seluruh bukunya. Juga kepada birokrasi yang punya buku, silahkan disumbangkan,” usulnya.

Reporter: Alfira Damayanti & Syahrul Mubaraq

Related posts

PENTAS SENI TAHUNAN LENTERA TUAI DECAK KAGUM DARI PENONTON

LPM Estetika FBS UNM
April 15, 2017

ADAKAN KAJIAN ADVOKASI, PRASASTI KAJI MAKNA KATA MAHASISWA

Editor - Reski Fajria Rasding
November 1, 2024

KONSOLIDASI TERBUKA DISKUSIKAN MASALAH PENCABUTAN SK SKORSING ENAM MAHASISWA FE UNM

LPM Estetika FBS UNM
December 9, 2018
Exit mobile version