Rilis, EstetikaBiennale Jogja meluncurkan Buku 10 Tahun Biennale Jogja Khatulistiwa: Praktik Geopolitik dan Dekolonisasi di Ruang Seminar LPPM Universitas Sanata Dharma, Jumat (6/1).

Peluncuran Buku 10 Tahun Biennale Jogja Khatulistiwa juga diwarnai dengan diskusi bersama Alia Swastika selaku Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Sunardi selaku Pengajar Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Hartmantyo Pradigto Utomo selaku Studio Malya dan Peneliti serta Saraswati N selaku Penulis Buku 10 Tahun Biennale Jogja Khatulistiwa.

Suasana saat berlangsungnya peluncuran Buku 10 Tahun Biennale Jogja Khatulistiwa: Praktik Geopolitik dan Dekolonasi.

Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Alia Swatika, menjelaskan bahwa Biennale terbuka bagi para penulis muda dan melalui karya ini, ia ingin mengembangkan ruang di masyarakat.

“Kita ingin menunjukkan bahwa karya, proses, dan diskusi selama seri Khatulistiwa ini bisa menumbuhkan ruang di masyarakat. Kita membuka diri pada penulis muda yang mungkin tidak terlalu sering bekerja dalam konteks akademis untuk bekerja dengan arsip Biennale Jogja,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Biennale telah melakukan diskusi dengan para peserta dalam semua aspek.

“Kita juga berdiskusi dengan para peserta program apa yang bagi mereka penting untuk dibicarakan. Misalnya, ada praktik-praktik yang penting seperti residensi,” lanjutnya.

Sementara itu, Editor Buku 10 Tahun Biennale Jogja Khatulistiwa, Hartmantyo Pradigto Utomo, menambahkan bahwa salah satu program Biennale memberikan akses bagi orang yang berfokus pada bidang seni dan sastra untuk memantik gagasan mereka.

“Program educational turn oleh Biennale Jogja Equator mampu menjadi kanal bagi para penulis muda untuk memantik kesadaran subjektif dan kapasitas reflektifnya pada gagasan dan praktek kesenian,” tambahnya.

Saat berlangsungnya diskusi, salah seorang mahasiswa melontarkan pertanyaan kepada Penulis Buku 10 Tahun Biennale Jogja Khatulistiwa, Saraswati N, tentang bagaimana ia meramu fragmen pertanyaan atau wawancara dengan tiga seniman perempuan dan melakukan proses untuk membahasnya.

Menjawab hal itu, Saraswati N menuturkan bahwa ia meramunya dengan menggunakan bahasa non-akademis dan banyak memasukkan bahasa hingga rasa yang cukup personal agar tidak terkesan kaku.

“Melakukan pencarian literatur hingga mengubah bahasa video atau wawancara dengan bahasa yang lebih membumi,” tuturnya.

Diketahui dalam waktu 10 tahun ini, Saras mencoba membaca dan memilih seniman perempuan yang akan dijadikan sebagai wacana pembahasan dalam buku. Misal dalam karya Citra Sasmita, ia berusaha mengcounter apa yg tertulis di perkawinan menggunakan metafora – ia mengubah dengan perempuan yang terkesan galak yang biasa ditulis antagonis bisa di garda terdepan.

Rilis: Biennale Jogja