Makassar, Estetika – Perhimpunan Mahasiswa Sastra Inggris (PRASASTI) Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan Kajian Advokasi di Ruangan DG 102 FBS UNM, Kamis (31/10).
Diskusi yang mengangkat tema “Apa itu Mahasiswa?” ini diadakan untuk mengkaji makna sejati menjadi seorang mahasiswa dan hal yang seharusnya dilakukan di luar perkuliahan, dengan menghadirkan Demisioner Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FBS UNM Periode 2023-2024, Nur Alam sebagai pemantik.

Suasana saat berlangsungnya Kajian Advokasi di Ruangan DG 102, Kamis (31/10). Foto: Siti Nurlaela/Estetikapers.
Pemantik, Nur Alam, mengatakan bahwa kurangnya adaptasi dan ketidakpedulian terhadap relasi di lingkungan kampus mengakibatkan mahasiswa kehilangan identitas diri.
“Mahasiswa kehilangan jati diri dan jauh dari kata ideal karena malu untuk berbaur,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa mahasiswa penting memiliki prinsip yang menjadi pedoman dalam mencapai tujuan.
“Harus memiliki prinsip agar tidak buta dalam perjalanan,” tekannya.
Alam juga menyebut bahwa mahasiswa dibebaskan dalam berpikir karena telah memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan.
“Mahasiswa memiliki kebebasan dalam bepikir karena sudah tau baik dan buruk,” ujarnya.
Di sisi lain, salah seorang peserta, Masni, menuturkan bahwa kritis dalam menghadapi masalah sosial merupakan bentuk pengembangan diri yang harus dimiliki mahasiswa.
“Mengembangkan pemikiran kritis dalam menghadapi masalah sosial itu harus dimiliki tiap orang,” tutur Mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Inggris tersebut.
Kegiatan ini diikuti oleh 60 peserta yang terdiri dari mahasiswa aktif dan berbagai Lembaga Kemahasiswaan (LK) FBS UNM.
Reporter: Siti Nurlaela