Makassar, Estetika – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Fakultas Bahasa dan Satra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan Bincang Budaya dalam PBSD Kajian Rutin Intelektual dan Religiusitas (Kritis) via Zoom App & Live Youtube, Minggu (30/8).
Kajian yang mengusung tema “Eksistensi Budaya 3S Bugis-Makassar di Era Milenial” ini dihadiri sebanyak 27 peserta, dan menghadirkan Abd. Rauf Baso selaku Ketua Umum Sanggar Seni Budaya Panjariang Ri Butta Panranga Kabupaten Gowa sebagai pemateri.
Di Sulawesi Selatan, tepatnya Suku Bugis Makassar, 3S merupakan singkatan dari Sipakatau, Sipakainge’, Sipakalebbi’/Sipakalebbiri’ adalah tiga ikatan dan satu kesatuan yang tak bisa lepas.

Pemateri, Abd. Rauf Baso, menjelaskan bahwa Indonesia adalah bangsa yang sangat besar, salah satu yang membuat bangsa ini besar adalah keragaman suku, etnis, adat istiadat, dan budayanya.
“Tak sempurna menurut saya, apabila nilai-nilai yang ada hanya satu nilai yang kita terapkan di dalam keseharian kita,” ujarnya.
Abd. Rauf Baso memaparkan bahwa implementasi Budaya Sipakatau adalah sikap saling menghargai sesama manusia yang merupakan ciptaan Tuhan.
“Memanusiakan manusia itu harus. Tanpa ini saya rasa tidak akan ada hubungan sosial yang terjalin dengan baik, tanpa kita memandang manusia sebagai manusia yang pantas kita hargai, dan hanya memandang diri kita sendiri,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa perlu adanya keterikatan antara Budaya Sipakatau dengan Sipakainge‘ dan Sipakalebbi’/Sipakalebbiri‘.
“Sipakatau yaitu memuliakan manusia harus duduk berdampingan dengan sipakainge‘ dan sipakalebbi’/sipakalebbiri‘,” jelasnya.
Reporter: AM 7 ESTETIKA