Makassar, Estetika – Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan ruang pembinaan penulis muda melalui program Training of Writing and Recruitment (TOWR) 2025 di Gedung DG 106 Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Sabtu (15/11).
Kegiatan ini menghadirkan enam materi inti yang dirancang untuk memperkuat kemampuan peserta dalam berbagai genre dan aspek kepenulisan yakni kisah inspiratif, motivasi menulis, puisi, cerpen, ke-FLP-an dan dakwah menulis, hingga opini.

Pembinaan dibuka oleh Demisioner Ketua FLP Ranting UNM Periode 2008-2009, Ahmad Ali Syahbana, membawakan kisah inspiratif tentang perjalanan FLP Ranting UNM sejak berdiri pada 8 Agustus 2008.
Dia mengajak peserta untuk berani mengembangkan diri dan membangun kenangan bermakna selama menjadi mahasiswa.
“Setidaknya buatlah kenangan indah dan beranilah keluar dari cover,” ujarnya.
Memasuki materi tentang Motivasi Menulis, Penulis, Rachmat Budianto, menguraikan filosofi menulis, tips mengembangkan ide, hingga manfaat menjadikan tulisan sebagai rekam jejak diri. Dia menegaskan bahwa menulis dapat menjadi wadah penyimpanan gagasan yang cepat hilang bila tidak dituangkan.
“Tulisan adalah bank memori karena biasanya ide yang kita pikirkan mudah hilang,” katanya.
Menanggapi pertanyaan peserta terkait peran AI dalam proses menulis. Rachmat menekankan bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan menggantikan proses kreatif sepenuhnya.
“Jadikan AI teman pelengkap, bukan pemenuh kebutuhan,” jelas Demisioner Ketua FLP Ranting UNM 2020-2021 tersebut.
Selanjutnya, Penulis Emerging Writers MIWF 2024, Andi Batara Al Isra, memaparkan keterampilan menulis kreatif melalui puisi. Dia menjelaskan bagaimana puisi bekerja sebagai seni yang mempertemukan naluri dan nalar.
“Puisi itu bagai seni yang nalurinya menyatu dengan nalar,” jelasnya.
Di sisi lain, Jurnalis dan Penulis Fiksi, Regent Aprianto Husen, dalam pemaparannya terkait penulisan cerpen, dia menekankan pentingnya riset dan pendalaman karakter untuk menghasilkan tulisan yang kuat dan autentik.
“Teman-teman tidak akan menjadi diri sendiri tanpa memahami karakter yang ditulis, sehingga perlu melakukan pendalaman melalui riset,” jelasnya.
Selain itu, juga dijelaskan teknik dressing and editing dalam menulis opini oleh Penulis, Nurhaliza Amir. Dia memaparkan struktur, jenis, dan contoh opini dari karya para pengurus sebelumnya untuk lebih mendalami kepenulisan opini.
“Perlunya diperhatikan dari berbagai contoh mulai dari cara penulisan, strukturnya, serta kesesuaian EYD/PUEBI,” papar Anggota Divisi Humas FLP Cabang Makassar 2023-2025 tersebut.
Sementara itu di akhir pemaparan, Ketua FLP Cabang Makassar 2025-2027, A. Nursayyitadul Lutfiah, menekankan bahwa peserta yang memilih bergabung sebaiknya benar-benar datang dengan keinginan mengasah keterampilan, bukan semata memperluas relasi
“FLP akan berfokus pada kesukarelaan dan keikhlasan dalam berkarya,” pungkasnya.
Reporter: Adhe Utami Lestari