Makassar, Estetika – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Bahasa dan Sastra Indonesia (SASINDO) Dewan Mahasiswa (DEMA) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan Literasi Pena di Ruang DG 105, Jumat (17/12).
Kegiatan yang mengusung tema “Feminisme: Perlawanan Perempuan dalam Sastra” ini menghadirkan Suarni Syam Saguni selaku Dosen FBS UNM sebagai pemateri dan dihadiri oleh 35 mahasiswa FBS UNM.
Pemateri, Suarni Syam Saguni, menjelaskan bahwa feminisme ada pada tahun 1800 an di Barat yang ditandai dengan munculnya kritik kesetaraan politik ekonomi.
“Sejarah feminisme mulai digaungkan pada 1800-an di Barat, Eropa dan Amerika Serikat. Pada saat itu mulai bermunculan kritik-kritik yang dimulai dengan kesetaraan politik-ekonomi. Sedangkan di Indonesia feminisme di Indonesia dimulai pada 1920-an,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjawab salah satu pertanyaan dari peserta, tentang seberapa kuat karya sastra bisa menjadi senjata perlawanan bagi perempuan.
“Karya sastra adalah karya yang punya kekuatan besar, dan dapat mempengaruhi secara rasional dan estetik. Bahkan kekuatan sastra sampai ke jiwa kita yang paling dalam. Sastrawan perempuan yang sempat menggemparkan dunia sastra di Indonesia, seperti Ayu Utami, N.H Dini, Ayu Dewi Lestari dan masih banyak lagi,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu peserta Literasi Pena, Fery Ardinal, mengungkapkan bahwa setelah mengikuti kelas ini ia (Fery Ardinal) sadar jika laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama dan perempuan tidak hanya bisa menjadi ibu rumah tangga tetapi bisa juga menjadi pemimpin yang hebat.
“Setelah mengikuti kelas feminisme ini, saya menjadi lebih sadar bahwa sebenarnya laki-laki dan perempuan itu memiliki derajat yang sama. Perempuan juga memiliki peran dan hak untuk memajukan bangsa ini, bukan hanya rumah tangga saja, dan mampu menjadi pemimpin yang hebat,” ungkapnya.
Reporter: Milka Adriani
