Makassar, Estetika – Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Dewan Mahasiswa (DEMA) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan Diskusi Linguistik (Diksi) mengenai Etika Berkomunikasi Dengan Dosen via daring, Makassar (3/10).

Foto: Muh. Wardiham Anwar/LPM Estetika.
Diskusi yang digelar melalui Zoom ini menghadirkan Usman selaku Ketua Prodi (Kaprodi) PBSI FBS UNM dan Saenal Masri selaku Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) sebagai pemateri.
Kaprodi PBSI FBS UNM, Usman, mengatakan bahwa etika dalam berkomunikasi yang baik ke dosen itu penting.
“Sebagai mahasiswa, dalam berkomunikasi perlu ki kehati-hatian, khususnya kepada dosen. Yang akan menentukan bagaimana kehidupan perkuliahan anda ke depannya. Pikirkan situasi dan kondisi saat komunikasi ke dosen, karena dosen juga manusia, jangan baper. Kalau bisa buat memang konsep pesan di note biar tidak salah-salah,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Maperwa FBS UNM, Saenal Masri, mengungkapkan bahwa etika berkomunikasi ke dosen dianggap perlu khususnya via daring saat ini.
“Komunikasi dengan etika ke dosen via daring terutama pesan chat sangat berbeda teman-teman saat berkomunikasi langsung. Dan teman-teman memang harus mengenal rambu-rambu atau batasan dalam berkomunikasi, bagaimana memilih diksi yang tepat sesuai maksud, terutama kita mahasiswa bahasa. Maka dengan hadirnya kegiatan ini dapat atasi hal tersebut,” terangnya.
Lebih lanjut, ia juga menyebutkan beberapa pengalamannya yang membuat ia sekarang lebih teliti dalam mengirim pesan ke dosen.
“Saya punya pengalaman pernah dikoreksi pesan oleh dosen kita bukan hanya sekali. Karena memang karakter dosen yang berbeda-beda. Sehingga kita memang perlu banyak belajar. Setelahnya, saya jadi lebih sering baca lima kali pesan saya dan minta pendapat ke senior saat menghubungi dosen,” tutupnya.
Reporter: AM 1 Estetika