Kabar Kampus

SEMINAR PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH HADIRKAN PEMROV SULSEL DAN PEMERHATI BUDAYA SULSEL

Gunung Sari, Estetika – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) Dewan Mahasiswa (Dema) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar Seminar Pemertahanan Bahasa Daerah di Ballroom Menara Phinisi UNM, Minggu (8/12).

Kegiatan ini menghadirkan pemateri yang berasal dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Pemerhati Budaya Sulsel, diantaranya adalah Hasan Sijaya dalam materi “Upaya Yang Telah Dilakukan Untuk Mempertahakan Bahasa Daerah di Sulsel”; Faisal dalam materi “Upaya Pelestarian Nilai dan Budaya di Sulsel”; dan Douglas Laskawske membawakan materi “Perspektif Pemateri Terhadap Kebudayaan yang Ada di Sulsel”.

Suasana berlangsungnya pemaparan materi perspektif pemateri terhadap kebudayaan yang ada di Sulawesi Selatan di Ballroom Phinisi UNM, Minggu (8/11). Foto : A. Dian Islamiati/Estetikapers

Kepala Dinas Keperpustakaan dan Kearsipan, Hasan Sijaya, saat memberikan materi menjelaskan bahwa setiap orang Bugis-Makassar harus mengangkat harkat dan martabatnya sendiri dengan melestarikan Bahasa Daerah.

“Hanya orang Bugis-Makassar yang bisa mengangkat harkat dan martabatnya. Jadi, saya tekankan sama pustakawan saya bahwa setiap interaksi dan tingkatkan pegiat literasi kita dengan bahasa lokal. Jika sama orang Bugis, gunakan Bahasa Bugis, begitupun dengan Makassar, Mandar, dll. Di Jepang, semua petunjuk menggunakan Bahasa Jepang, bukan Bahasa Inggris, seolah-olah kita yang dipaksakan paham dengan bahasa mereka. Kenapa kita tidak lakukan seperti itu?,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ia mengungkapkan ada tiga Kantor Layanan Perpustakaan yang bisa dijadikan rumah untuk melakukan kegiatan kelembagaan.

“Kantor Layanan Perpustakaan sudah tiga. Satu layanan umum depan Unismuh, Perpustakaan multimedia di daerah gowa, dan terakhir di sampingnya Hotel Syahid Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak. Anda bisa masuk kapan saja. Bahkan, untuk Jurusan Bahasa Daerah, anda bisa lakukan apa saja, saya siapkan ruangan Multimedia yg kapasitasnya bisa sampai 500 orang itu dan gratis,” ungkapnya.

Di sisi lain, Pemerhati Budaya Sulsel, Douglas Laskawske selaku Narasumber, mengatakan bahwa satu generasi dapat memusnahkan suatu bahasa jika tidak meneruskan memakai bahasa lokalnya sendiri.

“Biar berapa banyak penutur satu Bahasa, hanya butuh 1 generasi untuk menjadikan bahasa itu punah jika tidak pakai. Peliharalah itu, karena dengan cara itu bahasa bisa dilestarikan. Justru saat kita merasa tidak terancam, maka disitu kita dalam keadaan bahaya,” katanya.

Lebih lanjut, Ia juga berpesan kepada seluruh Orang Tua untuk mengajarkan anak-anaknya berbahasa daerah.

“Orang tua adalah barisan pertama sebagai pendidik. Jadi, ajja mumasiri paggurui ana’mu mabahasa Ogi. Ajja makkeda odessa naisseng matu mabahasa Indonesia, masiri-siri matu ko makuliah i. Paggurui maneng i, Ogi, Indonesia, Inggris tambah toi,” pesannya.

Reporter : A. Padauleng & A. Dian Islamiati

Related posts

JADWAL MATA KULIAH JBI BERBENTURAN, LASUNRA: TOLONG BICARAKAN SECARA INTERNAL

Editor Estetika
February 20, 2020

LPM PENALARAN UNM: FOCUS GROUP DISCUSSION PMP-OMK XXI

LPM Estetika FBS UNM
March 4, 2018

TO MANURUNG TAMPILKAN DRAMA DI PENGHUJUNG PAB

LPM Estetika FBS UNM
February 5, 2020
Exit mobile version