Feature

PENDIDIKAN, TEKAD YANG HIDUP DARI PINGGIRAN TPA

Makassar, Estetika – Di tengah tumpukan sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa Antang, Ani mengais harapan dari sisa-sisa kehidupan demi pendidikan anaknya.

Ani, salah seorang ibu rumah tangga berusia 40 tahun menjalani hidup bersama suaminya yang berusia 43 tahun. Keduanya memulung setiap hari, bukan semata untuk bertahan hidup, melainkan demi mimpi besar agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang layak.

Tinggal di kawasan TPA Tamangapa Antang sejak tahun 1985, Ibu tiga anak ini menjadi saksi transformasi wilayah yang dulunya berupa lahan kosong menjadi tempat pembuangan akhir yang resmi ditetapkan pemerintah pada tahun 1993.

Sejak saat itu, hidup Ani tak pernah lepas dari bau busuk sampah dan kerasnya perjuangan harian. Hidup Ani dihabiskan dengan memulung demi menghidupi keluarganya. Namun begitu, ia dan suaminya tetap bertahan, membesarkan anak-anaknya dengan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Keseharian Ani yang sedang menyortir sampah, kala ditemui di kediamannya, Rabu (7/5). Foto: Nadifah Amaliyah/Estetikapers.

Setiap harinya, mulai pukul tujuh pagi hingga malam, keduanya memulung dari satu tumpukan ke tumpukan lain, menyelesaikan pekerjaan seiring habisnya barang yang layak jual. 

Dari pekerjaan itu, mereka memperoleh penghasilan yang tidak menentu, biasanya hanya antara Rp50.000 hingga Rp70.000 per harinya, tergantung jumlah dan jenis barang yang didapat. 

“Kalau botol plastik, kardus, atau kaleng, lumayan bisa dapat Rp50.000 sampai Rp70.000 sehari. Tapi kadang juga kurang,” tutur Ani.

Meski penghasilannya kecil dan tidak menentu, semangat Ani tidak pernah padam. 

“Cukup saya dan suami saja yang jadi pemulung, anak-anak harus punya masa depan yang lebih baik,” katanya.

Perjuangan Ani dan suaminya pun perlahan mulai membuahkan hasil. Anak sulungnya, Arni, berusia 20 tahun, kini tengah menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar tepatnya pada Program Studi (Prodi) Kesejahteraan Sosial. 

Pendidikan yang ditempuh anak sulungnya itu tanpa bantuan beasiswa, sehingga dirinya harus membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp1.320.000 per semester, Meski begitu, Arni tetap menjalani kuliahnya tanpa pekerjaan sampingan.

Sementara itu, anak keduanya yang berusia 17 tahun  yang sedang duduk di bangku kelas 11 di salah satu sekolah kejuruan di Kota Makassar. 

Dari tumpukan sampah, Ani dan suaminya mengais rezeki yang mereka gunakan untuk menyekolahkan anak-anaknya, satu-satunya harapan agar keluarga itu bisa keluar dari lingkar kemiskinan.

Sementara si bungsu yang masih berusia lima tahun, tumbuh di tengah keterbatasan, mencoba menikmati masa kecilnya di antara suara truk sampah dan bau menyengat yang nyaris tak pernah hilang.

Tapi di balik harapan yang terus dipelihara, hidup di sekitar TPA menyimpan banyak risiko. Kepadatan hunian dan minimnya sanitasi membuat keluarga Ani rentan terhadap penyakit. 

Ani mengenang salah satu momen sulit saat anaknya jatuh sakit akibat demam berdarah.

Kondisi tersebut bukan hal yang mengejutkan, mengingat banyak rumah di kawasan itu dihuni oleh dua kepala keluarga dalam ruang sempit tanpa ventilasi memadai.

Meski hidup serba terbatas, Ani tetap bersyukur karena keluarganya mendapat bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH), yang turut meringankan beban sehari-hari.

Sebagian warga di sekitar belum seberuntung Ani. Banyak dari warga hanya bisa berharap pada bantuan dari yayasan atau donatur, yang kehadirannya tidak bisa diandalkan setiap waktu.

“Kalau ada bantuan dari luar, biasanya tidak semua kebagian. Soalnya warga di sini banyak sekali,” ujarnya.

Meski hidup terus bergulat dengan keterbatasan, Ani tetap teguh memegang keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. Setiap hari, ia mengais sampah agar anak-anaknya bisa terus bersekolah dan mengejar masa depan yang lebih baik.

Ani percaya sepenuhnya bahwa kemiskinan bisa berhenti di dirinya dan tidak boleh membayangi masa depan anak-anaknya.

Reporter: Rizqa Febrialbar

Related posts

MAPPADENDANG, MAMMENCAQ DAN MATTOJANG SEBAGAI BENTUK KESYUKURAN

LPM Estetika FBS UNM
June 14, 2018

KISAH DI BALIK KEBAKARAN BARA-BARAYA

Editor - Ahmad Ardiansyah
August 31, 2022

WISATA RELIGI DI KAMPUNG ADAT AMMATOA

Editor Estetika
June 7, 2021
Exit mobile version