Makassar, Estetika – Pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp17.713,00 per dolar Amerika Serikat (AS) tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan yang hanya menjadi urusan pemerintah, pelaku usaha, atau pengamat ekonomi. Anggapan bahwa mahasiswa tidak akan merasakan dampaknya karena aktivitas sehari-hari menggunakan rupiah merupakan pandangan yang kurang tepat. Dalam kondisi ekonomi yang semakin terhubung dengan pasar global, pelemahan rupiah pada akhirnya akan menyentuh berbagai aspek kehidupan, termasuk kehidupan mahasiswa.
Selama ini, banyak orang menganggap fluktuasi nilai tukar hanya berpengaruh pada kegiatan ekspor-impor atau investasi. Padahal, berbagai kebutuhan yang digunakan masyarakat, termasuk mahasiswa, memiliki keterkaitan dengan komponen impor. Laptop, telepon seluler, perangkat elektronik, hingga layanan digital yang menunjang perkuliahan merupakan contoh nyata kebutuhan yang harganya dapat terdampak oleh melemahnya nilai tukar rupiah. Ketika biaya impor meningkat, harga barang dan jasa cenderung ikut naik, sehingga beban pengeluaran masyarakat semakin besar.
Mahasiswa menjadi kelompok yang cukup rentan terhadap kondisi tersebut. Di tengah tuntutan akademik yang semakin tinggi, kebutuhan penunjang perkuliahan justru berpotensi menjadi semakin mahal. Bagi sebagian mahasiswa, terutama yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, kenaikan harga kebutuhan pendidikan bukanlah persoalan sepele. Kondisi ini dapat mengurangi kemampuan mereka untuk mengakses berbagai fasilitas yang dibutuhkan dalam proses belajar.
Dampak yang lebih besar dirasakan oleh mahasiswa perantau. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, dan biaya tempat tinggal membuat pengeluaran bulanan terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen semakin memperlihatkan bahwa biaya hidup masyarakat sedang mengalami kenaikan. Sayangnya, peningkatan biaya hidup tersebut tidak selalu diikuti oleh bertambahnya pendapatan keluarga atau uang saku mahasiswa. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa yang harus mengurangi pengeluaran tertentu, menunda kebutuhan akademik, bahkan mencari pekerjaan tambahan agar tetap dapat bertahan.
Persoalan ini tidak boleh dianggap sebagai dampak yang wajar semata. Jika pelemahan rupiah terus berlangsung dan biaya hidup terus meningkat, akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga menengah ke bawah berpotensi semakin terbatas. Pada titik tertentu, persoalan ekonomi dapat berubah menjadi persoalan sosial karena kesempatan memperoleh pendidikan yang layak menjadi semakin tidak merata.
Oleh karena itu, pelemahan rupiah perlu dipahami sebagai isu yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Dampaknya tidak hanya terlihat pada angka-angka ekonomi, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa memenuhi kebutuhan pendidikan dan mempertahankan keberlanjutan studinya. Stabilitas ekonomi bukan hanya penting bagi dunia usaha, melainkan juga bagi jutaan mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan demi masa depan yang lebih baik.
Penulis: Atikah Ameliah Putri
*) Tulisan ini adalah tanggung jawab penulis sebagaimana yang tertera. Tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Estetikapers.com.
