Gowa, Estetika – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Alauddin Makassar menggelar Seminar Nasional yang bertemakan “Strategi Pembangunan dan Tantangan menuju Smart City” yang digelar di Fakultas Economy and Business (Febi), Kamis (21/11).
Kegiatan yang dihadiri oleh 150 peserta yang terdiri dari angkatan 2016, 2017, 2018, Dan 2019 ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan “Celebes Plano Festival”. Seminar ini menghadirkan Firdaus selaku Ikatan Ahli Perencanaan, M. Ridha Rasyid selaku Staf Khusus Penanggung Jawab (PJ) Walikota atau Kepala Bidang Kebijakan Daerah Badan Litbang Kota Makassar, Ananto Yudono selaku Akademisi, Tenriawaru Natsir selaku Dinas Tata Ruang serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan sebagai pemateri.
Perwakilan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan, Muhammad Arifin Iskandar, menjelaskan bahwa beberapa pilar kota yang berkelanjutan dan berdaya saing.
“Ada tiga pilar kota yang berkelanjutan dan berdaya saing, yaitu kota layak yang aman dan nyaman, kota hijau yang berketahanan iklim dan bencana, dan kota cerdas yang berdaya saing dan berbasis teknologi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga menambahkan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan kota berkelanjutan.
“Ada beberapa yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan kota berkelanjutan, yaitu pembangunan ekonomi, pelaksanaan strategi pemasaran sosial, pemerintahan dan kelembagaan, peningkatan kapasitas, pembangunan sosial, pembangunan fisik dan lingkungan, penyiapan data yang akurat, kearifan lokal, dan yang terakhir adalah pembiayaan pembangunan,” tambahnya.
Di sisi lain, Perwakilan Ikatan Ahli Perencanaan, Firdaus, juga menjelaskan beberapa strategi pembangunan Smart City.
“Kepemimpinan terpadu, visi inspiratif yang jelas, satu arah strategi dan tujuan yang jelas, penciptaan model tata kelola yang sesuai dan dapat diterima, penilaian ekonomi untuk menilai dampak dari pembangunan, model regenerasi transportasi dan strategi infrastruktur, pemahaman yang menyeluruh tentang teknologi integrasikan fungsi kota, penggunaan sistem cerdas dengan layanan, infrastruktur, dan bangunan, pemahaman tentang budaya dan adat istiadat setempat, model pendanaan untuk infrastruktur baru,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan, bahwa ada empat gejala Kekosongan dampak dari smart city.
“Non-tempat yang berarti aturan tanpa makna, Globalisasi menghambat kekuasaan Negara, agensi mengatur tanpa batasan wilayah, yang kedua itu non-Benda yang berarti transaksi dengan kartu pembayaran atau non tunai, ketiga non-Orang yang bermakna telemarketer atau Online Shopping dan yang terakhir adalah non-Jasa yang bermakna layanan pekerja diganti teknologi atau mesin,” tambahnya.
Reporter: Alfira Damayanti
