Liputan Kota

UNHAS CAREER WOMEN ADAKAN PANEL DISCUSSION BAHAS FEMINISME DAN KESETARAAN GENDER

Makassar, Estetika – Komunitas Unhas Career Women (UCW) mengadakan Panel Discussion dalam rangka UCW’s 1st Anniversary Celebration via Zoom, Sabtu (30/10).

Kegiatan yang mengusung tema “Re-defining Feminism and How Beauty Standard Impacts Women’s Lives” ini dihadiri oleh 63 peserta.

Adapun kegiatan ini menghadirkan Merlisa Wahyuningsih Soepeno selaku Public Policy and Goverment Relations Practitioner sebagai pemantik pertama, Ni Putu Candra Dewi selaku Public Interest Lawyer YLBHI-LBH Bali and Master Student at Ewha Womans University, South Korea sebagai pemantik kedua, dan Pusparida Syahdan selaku Lecturer in International Relations and Teaches Feminism Courses sebagai pemantik ketiga.

Founder Unhas Career Women, Amelia Nurkasih, menjelaskan alasan tema tersebut dipilih untuk memberi pemahaman tentang feminisme dan gerakannya.

“Tema tersebut dipilih karena kami melihat masih banyak yang belum benar-benar memahami feminisme itu apa, gerakannya bagaimana, tujuan sebenarnya apa dan berkaitan erat juga sama beauty standard yang sering dikaitkan ketika bekerja dan berkarir,” jelasnya.

Di sisi lain, pemantik Pertama, Merlisa Wahyuningsih Soepeno, berharap agar ke depannya perempuan dapat diberikan hak dan kesempatan yang sama dengan pria dalam berbagai hal serta lebih terbuka.

“Feminisme adalah konsep kesetaraan gender yang masih dipermasalahkan serta masih menimbulkan pro dan kontra. Saya harap wanita dapat diberikan hak dan kesempatan yang sama dengan pria dalam berbagai hal,” harapnya.

Sementara itu, pemantik kedua, Ni Putu Candra Dewi, mengatakan bahwa sebelum memberi pemahaman tentang feminisme dan kesetraan gender harus dimulai dari diri sendiri.

“Pemahaman antara golongan tua dan muda mengenai feminisme dan kesetaraan gender itu harus dimulai dari diri kita sendiri apalagi saat ini Hallyu Wave atau Korean Wave yang makin marak digemari dan mudah diakses menjadi medium sempurna,” ujarnya.

Selain itu, pemantik Ketiga, Pusparida Syahdan, mengungkapkan bahwa budaya populer lewat media sosial dapat meningkatkan kesadaran tentang feminisme yang terjadi pada perempuan.

“Dengan penyebaran budaya populer lewat platfrom media sosial masyarakat bisa meningkatkan kesadaran atas feminisme yang terjadi pada perempuan saat ini maupun isu ketimpangan gender dan sebagainya,” ungkapnya.

Reporter: Shinta Arnayanti

Related posts

SOROT KEGAGALAN PEMERINTAH DAN DPR, PRI GELAR AKSI PERINGATI HARI BURUH INTERNASIONAL

Editor - Yusyfiyah Adinda Saputri
May 1, 2023

NELAYAN MAKASSAR TUNTUT PEMERINTAH BATALKAN KENAIKAN HARGA BBM

Editor - Rada Dhe Anggel
September 16, 2022

PROGRAM DJARUM BEASISWA PLUS KEMBALI BUKA PENDAFTARAN

Editor Estetika
May 12, 2020
Exit mobile version