Makassar, Estetika – Himpunan Mahasiswa Teknologi Pendidikan (HIMATEP) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) menyoroti problematika pendidikan Indonesia dalam Seminar Pendidikan Nasional Eduphoria Fest di Convention Hall FIP, Jumat (8/3).
Seminar nasional ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Herman selaku Kaprodi Hukum FIS-H, Eko Prasetyo, Founder Social Movement Institut, dan Dinn Wahyudin, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) membahas mengenai “Problematika Pendidikan: Wajah Murung Pendidikan Indonesia” serta mengupas kebijakan, penyebab, hingga solusi dari masalah-masalah itu.
Isu yang diangkat dalam seminar tersebut berangkat dari keresahan pengurus HIMATEP akan kondisi kampus yang masih dianggap kurang maksimal, seperti masih terjadinya tiga dosa besar pendidikan, kurangnya profesionalisme dosen, serta sarana dan prasarana yang tidak layak.
Suasana saat berlangsungnya Seminar Pendidikan Nasional Eduphoria Fest 2024 di Convention Hall FIP, Jumat (8/3). Foto: Nurul Dwi Anugrah/Estetikapers.
Narasumber Pertama, Herman, dalam materinya mengenai Politik Hukum Sistem Pendidikan di Indonesia, menuturkan bahwa tindak korupsi di dunia pendidikan masih sering terjadi, sebab pemerintah masih menganggap kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pendidikan senilai 20 persen merupakan beban negara.
Namun, faktanya apabila pemerintah mengelola APBN yang berjumlah sekitar 500 hingga 600 triliun tersebut dengan baik, maka akan cukup untuk memperbaiki problematika di dunia pendidikan yang terjadi saat ini.
“Seharusnya anggapan itu menjadi investasi atau belanja modal sebab memiliki manfaat jangka panjang,” tuturnya.
Di sisi lain, Narasumber kedua, Eko Prasetyo dalam pemaparannya mengenai Refleksi Kritis Problematika Pendidikan Indonesia, menjelaskan bahwa tekanan dalam dunia pendidikan di Indonesia makin berat, hal itu dibuktikan oleh hilangnya penguatan karakter dan empati mahasiswa.
“Pendidikan saat ini tidak mengajarkan kita empati dan melahirkan individualis,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa fenomena tersebut disebabkan dunia pendidikan dicampuri oleh politik dan kekuasaan sehingga kualitasnya makin berkurang.
“Kekuasaan dan politik sekarang makin mencampuri pendidikan kita,” jelasnya.
Sementara itu, Narasumber ketiga, Dinn Wahyudin, dalam materinya tentang Literasi Teknologi dalam Dunia Pendidikan, mengatakan problematika terjadi ketika terdapat selisih antara harapan dan fakta.
Ia menekankan bahwa pembelajaran akan lebih transformatif dan bernilai tinggi jika siswa memiliki karakter berbudi luhur, rasa ingin tahu yang tinggi, serta tenaga pendidik yang memanfaatkan teknologi.
“Harus ada inovasi dan jangan berpacu pada regulasi lama, baik antara siswa dan guru,” tekannya.
Reporter: Nurul Dwi Anugrah
