Makassar, Estetika — Mahasiswa Program Studi (Prodi) Gizi Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar Seminar Nasional Gizi 2025 yang dihadiri 600 peserta di Ballroom lantai 3 Menara Pinisi UNM, Selasa (21/10).
Seminar yang mengusung tema “Tantangan Gizi dan Aktivitas Fisik di Era Digital: Mewujudkan Generasi yang Sehat, Aktif, dan Adaptif” ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai tantangan gizi dan aktivitas fisik di era digital untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pola hidup sehat.
Adapun narasumber dalam seminar ini, yakni Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin, Veni Hadju dan praktisi kesehatan, binaragawan sekaligus pemilik Rai Institute, Ade Rai.
Dalam pemaparannya, Veni Hadju menyebut tiga masalah gizi yang umum terjadi, yakni kekurangan gizi seperti stunting dan wasting, kekurangan zat gizi mikro seperti kelaparan tersembunyi (hidden hunger), serta kelebihan gizi seperti overweight dan obesitas.
“Tiga masalah gizi yang umum terjadi adalah kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, da kelebihan gizi,” ujarnya
Untuk mengatasi masalah kekurangan gizi, Veni membagikan sejumlah kiat hidup sehat. Dia menekankan pentingnya meningkatkan asupan serat, rutin mengonsumsi berbagai jenis buah dan sayur, serta memilih makanan dan minuman berkadar polifenol tinggi.
Selain itu, dia juga menyarankan untuk menghindari kebiasaan ngemil, mengonsumsi makanan fermentasi, menjauhi pemanis buatan, dan tidak menggunakan antibiotik atau obat-obatan tanpa kebutuhan medis.
“Dalam buku-buku karya Winarno yang pernah saya baca, ada beberapa cara dalam menjaga pola makan jika anda ingin hidup sehat,” jelas Guru Besar FKM UNHAS itu.
Sementara itu, Ade Rai menyoroti bahwa sebagian besar penyakit disebabkan oleh perilaku yang kurang sehat. Dia menyebutkan sejumlah kebiasaan yang dapat memicu penyakit, seperti konsumsi karbohidrat berlebih yang membuat cepat lapar, sering mengonsumsi makanan olahan, kekurangan protein, penumpukan lemak di organ tubuh, hingga kebiasaan mengonsumsi gula, garam, tepung, dan lemak berlebihan.
Dia juga menambahkan bahwa kurang bergerak, tidak pernah melakukan latihan beban, ketergantungan obat, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, serta kurang tidur atau stres turut memperburuk kondisi kesehatan.
“Sebagian besar, 95 persen penyebab sakit berasal dari perilaku kita sendiri,” tuturnya.
Ade Rai turut menjelaskan bahwa urutan konsumsi makanan juga berpengaruh terhadap lonjakan gula darah. Jika karbohidrat dikonsumsi di akhir, kadar gula darah dapat menurun hingga 30 persen dibandingkan ketika dikonsumsi di awal.
“Urutan konsumsi makanan yang ideal adalah protein atau lemak terlebih dahulu, kemudian sayur, dan terakhir karbohidrat,” jelas laki-laki usia 56 tahun itu.
Reporter: Riska
