Makassar, Estetika – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Bahasa dan Sastra Indonesia (SASINDO) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) mengadakan diskusi advokasi di Tribun FBS UNM, Selasa (24/9).
Diskusi yang mengusung tema “Membedah Perbedaan antara Siswa dan Mahasiswa” ini diikuti oleh 41 mahasiswa dengan menghadirkan Nur Alam selaku Presiden BEM FBS sebagai pemantik.
Suasana saat berlangsungnya diskusi advokasi, di Tribun Kampus FBS UNM, Selasa (24/9). Foto: Siti Nurlaela/Estetikapers.
Pemantik, Nur Alam, menuturkan pandangannya terkait kebebasan siswa yang menurutnya masih dibatasi oleh aturan kewajiban mengenakan seragam sekolah.
“Kita selama menjadi siswa sangat dibatasi oleh kewajiban mengenakan seragam sekolah,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sekolah dan kampus adalah sistem kontrol yang membatasi setiap siswa.
“Kita tidak merdeka atas diri kita sendiri, bahkan sekadar baju bisa menjajah diri kita,” kata Presiden BEM FBS itu.
Di sisi lain, salah seorang peserta diskusi, Ratu, menjelaskan bahwa kebebasan siswa terletak pada kemampuan berpikir kritis dan kesadaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
“Meningkatnya kesadaran terkait kualitas pendidikan saat ini dapat menjadikan kita mahasiswa yang merdeka,” jelas Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Angkatan 2023 itu.
Reporter: Siti Nurlaela
