Parangtambung, Estetika – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan Dialog Suara Mahasiswa di kampus FBS UNM dan via Zoom, Minggu (29/8).
Dialog yang mengusung tema “Menyoal Kebebasan Akademik dalam Paradigma Kampus Merdeka” ini menghadirkan Presiden BEM Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Farhan dan Presiden BEM FBS UNM, Amastasha sebagai pemateri.
Pemateri pertama, Amastasha mengatakan bahwa program kampus merdeka ini dapat meminimalisir gerakan mahasiswa dalam menyampaikan kritik.
“Sebenarnya dampak dari kampus merdeka ini yaitu banyak membatasi gerakan kebebasan mahasiswa dalam menyampaikan kritik, karena beberapa program kampus merdeka sasarannya adalah mahasiswa semester lima atau enam yang sedang aktif dalam kelembagaan,” katanya.
Sementara itu, pemateri kedua, Muhammad Farhan, menjelaskan bahwa luaran yang dihasilkan oleh kampus merdeka adalah dunia kerja dan bidang industri.
“Saya mencoba memahami pemikiran pak Nadiem bahwa output yang dihasilkan oleh kampus merdeka adalah dunia kerja dan bidang industri. Sebagaimana kita ketahui bahwa industri bisa melakukan eksploitasi dan persepektif lingkungan tidak pernah mengizinkan eksploitasi besar-besaran dalam dunia industri, sehingga ada kontradiksi dengan pemikiran tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa program ini tidak sepenuhnya ditolak dan diterima karena masih menimbulkan pro kontra.
“Program kampus merdeka ini bukanlah program yang sepenuhnya ditolak atau diterima, tetapi perlu dikritisi terkait dengan kebebasan berpendapat mahasiswa yang belum bisa diwujudkan seutuhnya oleh program ini,” lanjutnya.
Reporter: Mildawati dan Aulia Ulva
