Opini

ANTARA COVID-19 & BUDAYA LOKALITAS YANG TERKIKIS

Dengan diberlakukannya sistem perkuliahan daring, ratusan nada simpatik dari para mahasiswa bergemuruh di media sosial. Selain berpengaruh pada proses akademik, ada banyak kegiatan kelembagaan di kampus yang dengan terpaksa dihentikan bahkan ditunda. Ditambah lagi banyaknya mahasiswa yang tidak mengindahkan imbauan pemerintah dan memilih pulang kampung. Tentu anda tahu rangkaian sebab kejadian ini. Adanya wabah pandemi yang bertransmigrasi ke Indonesia Timur, Corona Virus Desease-19 (Covid-19).

Sebelum kerasnya gempuran wabah Covid-19, di kampus, kami kerap melakukan diskusi seputar budaya lokalitas di era industri 4.0. Menarik benang merah dari regulasi kehidupan kampus, alhasil, lahirlah sebuah konsep “Pappaseng” yang kemudian menjadi tema sebuah kegiatan. Konsep ini adalah sebuah sistem yang kami rancang sebagi media dalam mempertahankan kultur budaya lokalitas Sulawesi Selatan di tengah perkembangan teknologi.

Pappaseng” (Bahasa Bugis, dalam Bahasa Makassar= pappasang) yang berarti pesan. Menurut Dedi Gunawan Saputra (2017), Pappaseng adalah petunjuk, nasihat, dan wejangan dalam menjalani kehidupan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh seseorang agar menjadi manusia yang utuh. Kemudian di dalam buku “Glosarium Petuah Leluhur Bugis” Faisal, dkk. (2019), menerangkan Pappaseng adalah ungkapan yang memberikan pikiran-pikiran positif. Secara khusus dalam segi teks, Pappaseng adalah teks didaktif yang mampu menyugesti jiwa, hati, dan pikiran setiap individu agar dapat mengonstruksi pikiran, ucapan, dan tindakan secara positif.

Jelaslah bahwa tulisan ini bermaksud menyinggung fenomena Covid-19. Antara Pappaseng dan Covid-19 membuat saya jungkir balik, mencoba menghubung-hubungkan antara kedua konsep tersebut. Menurut saya, Pappaseng adalah falsafah hidup masyarakat Sulawesi Selatan dan Covid-19 adalah hidup itu sendiri.

Apabila melihat gambaran siklus peradaban sekarang, maka, mula-mula kita telah merasa nyaman dengan dunia baru, era revolusi industri 4.0. Era ini menawarkan sebuah gaya hidup berbasis internet. Kemudian Covid-19 muncul dan memberi efek pada hampir seluruh tatanan masyarakat, yang pada ini saya mengambil sampel dunia kampus dan kepemerintahan, lalu kita menyadari (harusnya) bahwa puncak hidup sekarang adalah daring. Siklus sederhana ini menunjukan betapa manusia sekarang sangat bersifat konsumtif akan internet. Percaya tidak percaya, mungkin anda yang tengah membaca tulisan ini karena anda memiliki cukup data untuk mengunduh file ini. Ini sangat sederhana dan mematikan. Itulah yang terjadi pada fenomena Covid-19.

Maraknya isu-isu pandemi Covid-19 menjadikan wabah ini sangat disegani. Baru-baru ini, pada Senin lalu (23/3/2020), KOMINFO menerbitkan 305 Isu Hoaks Virus Corona yang ditemukan di media sosial. Yang menarik dalam laporan itu adalah dari hoaks kesatu sampai ke-305 berdurasi waktu 6 Mei 2019-23 Maret 2020. Bayangkan dalam kurun waktu tersebut kita seakan-akan diprogram oleh media sosial. Tidak menutup kemungkinan “acara” hoaks tersebut kemudian merambah dari mulut ke mulut.

Demikianlah sejatinya sifat Covid-19 adalah “memprogram.” Ia melakukan proses program dalam tubuh manusia, menyerang sistem kekebalan tubuh, sebelumnya telah menyerang psikis. Dari sifat itu dan adanya kasus hoaks tersebut, kita menjadi masyarakat yang mengalami “pemprograman” pikiran secara total oleh kehidupan daring.

“Pemprograman” yang saya maksud adalah hasil dari sebuah usaha yang pastinya tidak turun dari langit atau muncul dari dasar laut begitu saja. Melainkan ulah oknum-oknum manusia itu sendiri. Fenomena Covid-19 yang dikonstruksi ke dalam pola pikir kita melalui internet (kemudian mulut ke mulut) telah melahirkan perasaan-perasaan panik, sedih, gembira, cemas, khawatir, stress, dan marah yang mendalam.

Efek dari ini adalah, seorang anak kecil yang harusnya masih sangat jujur dengan kehidupan, telah dikonstruksi oleh orangtuanya bahwa Covid-19 itu begini dan begitu. Ia tidak lagi melihat dunia dengan apa adanya dan bertingkah laku untuk beberapa hari terakhir ini dengan banyak pertanyaan dan penuh kehati-hatian. Begitupun dengan kita yang merupakan mahasiswa. Pulang kampung adalah tidak lebih dari sebuah rasa takut.

Hal yang ingin saya tegaskan di sini adalah perasaan-perasaan pasca pemrograman tersebut. Contoh kasus, faktor besar tingkat kematian dan penularan yang tinggi pada pandemi Influenza 1918, menurut Marc Siegel, adalah perasaan panik setelah berita tentang pendemi tersebar.

“Panik membuat penyebaran virus semakin cepat dan luas karena saat orang panik, mereka cenderung sedikit sekali melakukan langkah-langkah pencegahan.” (2006, Priyanto 2009; 49)

Bukankah Covid-19 yang melanglang buana dari Negeri Cina sampai bertengger di depan rumah kita adalah berkat daring yang dioperasikan oleh oknum-oknum manusia? Kita renungkan dalam hati saja. Lantas, apa hubungannya dengan Pappaseng?

Mari kita memandang konsep Pappaseng. Pappaseng adalah falsafah hidup masyarakat Sulawesi Selatan yang kehadirannya membawa nasihat atau kritik sosial, yang akan menjadi dasar dalam “memerangi” ganasnya Covid-19. Sistem kerja Pappaseng akan sama persis dengan sifat Covid-19. Memprogram. Yang menjadi pembeda antara dua konsep ini adalah Covid-19 memprogram pikiran, lalu merusak jiwa, sedang Pappaseng memprogram jiwa untuk mengonstruksi pikiran. Selanjutnya, kita hanya perlu benar-benar mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Faisal, dkk. (2019) dalam bukunya memberikan sebuah pertanyaan, “Bagaimana memandang dan memosisikan rumusan-rumusan pikiran positif itu (Pappaseng) pada masa kini?” Nah, disinilah letak ironisnya. Kita tengah digempur habis-habisan oleh peradaban masa kini sementara Pappaseng yang adalah tameng jiwa kita, terlupakan di atas Rakkiang.

Kehidupan daring dan Covid-19 mengarahkan kita untuk mengembalikan fungsi manusia secara penuh sebagai subyek peradaban yang sesungguhnya, bukan objek. Bumi yang kerap kali terpajang di timeline media sosial dengan caption “bumi kami sakit, bumi butuh istirahat, dan lain-lain” sesungguhnya tengah mendambakan atau mungkin tengah mengutus sosok To Manurung.

Di Sulawesi Selatan, kita masih cukup akrab dengan To Manurung, leluhur yang membawa sebuah peradaban baru penuh kesejahteraan. Kita memang hanya mengingat histori tetapi ada nilai yang telah ia wariskan sebagai pedoman hidup, yakni Pappaseng. Haruslah Pappaseng to riolo yang mengalirkan energi-energi positif, kita hadirkan dalam diri kita untuk menghadapi pandemi Covid-19. Bahkan lebih dari itu, Omnibus Law, misalnya.

Kesimpulannya adalah, fenomena daring dan Covid-19, serta rangkuman kedua-duanya yang terjadi hari ini di tanah Bugis-Makassar (bahkan se-Sulawesi) jelas menunjukkan adanya krisis budaya warisan leluhur. Saya sangat bersyukur atas karya Faisal, dkk dalam buku “Glosarium Petuah Leluhur Bugis.” Ia menuliskan “wasiat-wasiat mematikan” bila saya kondisikan dengan keadaan sekarang, juga menjadi pengingat sekaligus semoga mengembalikan histori peradaban di Bugis-Makassar.

Pappaseng adalah falsafah hidup masyarakat Sulawesi Selatan dan Covid-19 adalah hidup itu sendiri. Disinilah eksistensi kita sebagai manusia yang berbudaya menjadi sedang tak lagi mengenal diri atau lupa diri. Kita perlu kembali menghadirkan Pappaseng sebagai kontrol sosial bahkan menjadi “jaringan” dalam kehidupan daring itu sendiri.

Maka dari itu, bila saja jauh-jauh hari sebelum Covid-19, kita memegang teguh Karéba Pasa (kabar pasar) mungkin saja tidak akan ada pembodohan publik atau hoaks. Fenomena Covid-19 yang hidup sekarang adalah unsur pemberitaan media yang banyak mengandung hoaks lantas menyerang psikologi masyarakat. Dalam hal ini bukan saja unsur media sosial (daring). Bisa saja dari mulut ke mulut (laring). Misalnya, seorang mahasiswa akibat sistem kuliah daring, memilih pulang kampung dengan membawa pengetahuan yang minim akan Covid-19, kemudian menyebarkan informasi di kampung halamannya. Mula-mula kepada orangtuanya atau rekan seperjuangannya waktu SMA, lalu dikonsumsi seluruh masyarakat kampung melalui arisan-arisan warga atau grub-grub WhatsApp.

Permasalahan berlanjut pada pola pencegahan Covid-19 yang sangatlah sederhana. Dengan menjaga kebersihan badan dan rohani. Tetapi masih saja ada yang menjadi korban. Rebba sipatokkong, mali siparappé, malilu sipakainge’, mainge’pi mupaja (rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, lupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertelong barulah berhenti). Pesan ini bila merespon masa sekarang menganjurkan kita untuk bekerja sama-Solidaritas.

“…agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh dalam mengarungi kehidupan. Juga harus tolong menolong ketika menghadapi rintangan, dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalan yang benar. Jika itu dilaksanakan akan terwujud masyarakat yang aman, harmonis, dan sejahtera.” (Faisal, dkk. 2019; 151).

Pesan tersebut bila kita realisasikan dalam “memerangi” Covid-19 akan berdampak positif bagi kita semua. Segala tindakan pencegahan yang dirilis pemerintah adalah hal yang positif. Giliran kita untuk saling mendukung, saling mengingatkan dan mengindahkan segala upaya tersebut. Kita mesti memiliki jiwa besar untuk tetap kokoh menghadapi ancaman Covid-19. Kita harus melepas ikatan di kepala kita bahwa permasalahan Covid-19 adalah hubungan kapitalisme. Bahkan bila perlu kita melepas segala penamaan strata sosial dalam diri kita. Hanya ada satu, yaitu manusia yang luhur.

Terakhir, mungkin untuk kita semua bisa renungkan, maté risantangi (mati disantangi). Bila saatnya kita semua menjadi korban dari Covid-19 dan mati, setidaknya, setelah kita menjaga mulut dan ponsel kita untuk tidak menebar kabar pasar, setidaknya kita mati setelah mengingatkan teman-teman, orangtua, saudara-saudara dan pacar-pacar kita untuk mawas dan isolasi diri. Setidaknya kita mati setelah kita bahu-membahu melawan Covid-19. Dan lebih lagi, semoga tidak ada kematian akibat rasa panik yang berlebihan.

Mengakhiri tulisan ini, maaf bila ada kekeliruan yang kelewatan. Saya hanya mengutip beberapa buah Pappaseng, mencoba menghadirkan konsep Pappaseng sebagai arus sinkronisitas dalam diri setiap kita yang masih bertahan menghadapi deviasi global. Lebih dari itu, anda adalah ahli waris Pappaseng. Mari berbenah. Iyatu cakkaé masuapi naiya essoé.

Once Luliboli. Saya masih mahasiswa aktif program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Makassar. Masih aktif mengikuti perkuliahan daring di grup-grup WhatsApp, dan masih memikirkan Panggung Daeng Pamatte.

*) opini ini adalah tanggungjawab penulis sebagaimana yang tertera. Tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Estetikapers.com

Related posts

PENGGUNAAN RETORIKA DALAM TRADISI SONGKABALA MASYARAKAT MAKASSAR

Editor Estetika
May 27, 2021

KRITIK KEBIJAKAN UANG KULIAH TUNGGAL

LPM Estetika FBS UNM
September 21, 2017

Mobile Legends dan Kesepian-Kesepian Kita

LPM Estetika FBS UNM
March 27, 2018
Exit mobile version