HIPEREALITAS MEDIA SOSIAL DI MASYARAKAT POSTMODERNISME

Faktanya, dengan melihat kondisi realitas sosial saat ini tidak lagi dipahami masyarakat sekadar sebagai objek atau hal-hal yang teramati, tetapi realitas sosial kini sudah menjadi sesuatu hal yang melewati, yang melampaui realitas itu sendiri. Bagaimana tidak, kini segala macam informasi dengan mudah didapatkan hanya dengan mengklik simbol atau tanda yang disukai, maka semua informasi dapat muncul dengan sekejap.

Perkembangan media sosial yang beragam bagaikan sistem kapitalisasi yang membuat candu dan aplikasi berlomba-lomba dalam memberikan fitur terbaiknya agar masyarakat terus menggunakan aplikasi media sosial tersebut. Hingga kemudian memunculkan pertanyaan dalam benak penulis, apakah yang nampak secara virtual memang benar adanya dalam realitas visual yang nyata? Bagaimana mungkin media sosial sangat hiperealitas di masyarakat postmodern ini hingga sulit dibedakan realitasnya? Apakah yang nyata dan maya hari ini?

Banyaknya pemberitaan dan informasi yang tersebar dalam media sosial membuat dunia internet yang selama ini dikatakan hanya sebatas ‘maya’ kini telah berevolusi menjadi sebuah dunia yang nyata di tangan jejaring sosial. Media sosial yang hadir dijembatani oleh cyberspace rupanya telah membentuk perilaku tersendiri. Aplikasi facebook, instagram, whatsapp, google, twitter, tiktok, dan aplikasi lainnya dalam waktu relatif singkat menjadi ruang raksasa yang menampung segala macam informasi yang dibutuhkan.

Ketika media sosial memiliki sejuta manfaat bagi masyarakat, namun di sisi lain menyisakan dilematisasi ketika dihadapkan pada kondisi dan situasi yang sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang bisa dinikmati secara virtual. Nyatanya, kini virtual terasa visual.

Media sosial terus berkembang tanpa henti serta terus memberikan wujud barunya yang pada akhirnya memunculkan realitas baru, yang melampaui alam, sifat, atau tapal batas yang seharusnya tidak dilewati.

Bom informasi di media sosial rupanya menampakkan situasi dimana masyarakat seolah dibombardir dengan berbagai informasi dan tayangan yang terus berganti dan berkembang. Segala imajinasi yang kemudian menjadi sesuatu yang dimaterialisasikan, yang direalisasikan pada akhirnya akan melampaui dirinya sendiri. Alhasil akan menyebabkan kematian realitas itu sendiri.

Jean Baudrillard mengatakan bahwa simulasi dewasa ini telah menggiring masyarakat kontemporer pada sebuah kondisi dimana realitas yang alamiah telah diambil alih oleh model-model simulasi realitas, baik dalam bentuk artifisial maupun superfisial. Masyarakat postmodern hanya berkutat di seputar simulasi dan permainan citra dan tanda. Teknologi simulasi telah menciptakan model-model realitas yang tidak ada referensinya pada realitas yakni hyper real. Inilah sebuah realitas baru yang melampaui kenyataan, yang didalamnya menampilkan suatu hal seakan-akan itu adalah sesuatu, padahal ia bukan sesuatu itu sendiri.

Dunia hiperealitas sesungguhnya adalah dunia perekayasaan, dalam pengertian dunia yang mengalami distorsi realitas melalui hyper sign. Hiperealitas menciptakan satu kondisi yang didalamnya kepalsuan berbaur dengan keaslian, masa lalu berbaur masa kini, fakta yang simpang siur dengan rekayasa, tanda melebur dengan realitas, dan dusta bersenyawa dengan kebenaran.

Kesatuan yang tak terpisahkan antara yang asli dan palsu inilah yang disebut Baudrillard sebagai simulakra, sebuah dunia yang terbangun dari silang sengkarut nilai, fakta, tanda, citra, dan kode. Realitas rupanya tak lagi punya referensi, kecuali simulakra itu sendiri. Melalui simulasi tersebut, tercipta bentuk nyata melalui model-model yang tidak mempunyai asal-usul atau referensi realitasnya, membuat sesuatu yang mulanya supernatural, ilusi, fantasi, dan khayali menjadi tampak nyata.

Dalam dunia simulasi, apa yang menjadi dasar realitas justru sering kali adalah citra yang menutupi dan menyelewengkan realitas. Masyarakat di era postmodern semakin tersimulasi dan tertipu dalam citra fiktif dan wacana semu yang secara cepat dan keras menggantikan pengalaman manusia atas realitas itu sendiri. Ketika masyarakat, citra, dan media sosial kini menjadi suatu yang inheren yang mungkin membuat manusia lebih memilih mati daripada hidup namun tak bermedia sosial.

Asumsi penulis menyebutkan bahwasanya masyarakat lebih memilih memoles citra yang diperolehnya melalui filter dalam fitur media sosial yang tampak oleh indera. Akan tetapi, tidak memiliki eksistensi substansial dalam visualnya, dimana kita lebih memilih mengejar yang sama dan sesuai standar kebanyakan orang dibanding menjadi berbeda dan memiliki keunikan.

Realitas yang dihasilkan dalam fitur media sosial baru ini telah mengalahkan realitas yang sesungguhnya dan menjadi model acuan yang baru bagi masyarakat. Alhasil, masyarakat termakan oleh citra dikarenakan lebih meyakinkan daripada fakta. Oleh karena itu, dalam masyarakat, simulasi yang diproduksi bukanlah sesuatu yang benar adanya melainkan citra atau image yang dibangun dengan berbagai cara.

Postmodernisme sebagai suatu tren masa kini dan awal dari suatu era baru yang dibawa oleh maraknya perkembangan media sosial, komunikasi bermediasi, konsumsi yang sifatnya simbolis, dan semakin mampatnya ruang dan waktu. Peran media sosial yang makin signifikan, menurut Baudrillard melahirkan referensialitas diri pada tanda- tanda yang menjadi semakin intensif oleh konsumsi tanda-tanda, dan muncul keteraturan tatanan sosial yang didasarkan pada konsumsi simbolis terhadap media sosial.

Di era postmodernisme, orang umumnya makin sulit membedakan mana realitas sosial yang nampak visualnya secara alami, mana realitas sebatas semu, dan mana pula realitas sosial yang melampaui batas dirinya sendiri akibat kemajuan teknologi informasi, salah satunya media sosial. Kini boleh dikata apapun bisa diciptakan dan direkayasa seperti aslinya. Di era digital, segala sesuatunya seolah-olah siap selalu untuk direproduksi.

Baudrillard menggambarkan kehidupan post-modernisme ini sebagai hiperealitas. Ketika media berhenti menjadi cerminan realitas, akan tetapi justru menjadi realitas atau bahkan lebih nyata dari realitas itu sendiri. Aplikasi media sosial yang semakin populer merupakan contoh yang kebanyakan memberikan kebohongan dan distorsi yang disajikan kepada penggunanya melebihi realitas. Kebohongan distorsi itu adalah hiperealitas. Akibatnya, apa yang nyata disubordinasikan dan akhirnya dilarutkan sama sekali sehingga mustahil membedakan yang nyata dan yang menjadi tontonan.

Suatu pandangan Piliang, di dalam dunia hiperealitas semuanya tidak dapat dibedakan lagi, kabur ataupun dalam kondisi turbulensi. Semuanya bercampur dan tumpang tindih di dalam sebuah jagat ketidakpastian arah dan kegalauan makna. Ia menampilkan sebuah dunia yang lagi tidak lagi bersifat dialektik. Sebaliknya, ia menuju ke arah yang ekstrem. Setiap sifat berkembang ke arah kekuatan superlatif; lebih benar dari benar, lebih indah dari indah, dan lebih nyata dari nyata. Baudrillard menyatakan terjadi kematian sosial dan relasi sosial. Oleh karena semuanya, kini telah diambil alih oleh simulasi sosial dalam bentuk media.

Apakah yang masyarakat dapat lakukan untuk hidup di era postmodernisme pada zaman simulasi hiperealitas terhadap media sosial saat ini? Dengan mengutip kata Wells dalam A Short History of the World menyatakan “Beradaptasi atau musnah? Sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi”.

Sumber:
Suyanto, Bagong. 2013. “Sosiologi Ekonomi: Kapitalisme Dan Konsumsi Di Era Masyarakat Post-Modern.” Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 197–210.

Penulis: Siti Nurhasmiah

Leave a Reply

Skip to toolbar