BEM FBS UNM ADAKAN DISKUSI PELECEHAN SEKSUAL, PEMANTIK: RELASI KUASA ADALAH ALASANNYA

Parangtambung, Estetika – Kementerian Riset, Teknologi dan Kajian Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan Diskusi Kasus Pelecehan Seksual di bawah Pohon Aristoteles, Jumat (15/10).

Kegiatan yang mengusung tema “Menilik Kasus Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan” ini menghadirkan tiga pemateri, yaitu Andi Nurkhafifah selaku Komite Anti Kekerasan Seksual Universitas Hasanuddin, Melisa Ervina Anwar selaku Staf Divisi Hak Perempuan, Anak dan Disabilitas YLBHI – LBH Makassar, serta Novi Yanti Pratiwi selaku Psikolog Klinis Pusat Layanan Psikologi UNM.

Pemantik pertama, Andi Nurkhafifah, menjelaskan bahwa budaya partiarki dan relasi kuasa dapat mempengaruhi terjadi kekerasan seksual.

“Salah satu yang mempengaruhi kekerasan seksual bisa terjadi, yaitu pelekatan budaya partiarki yang melekat ditatanan masyarakat dan relasi kuasa yang mana satu pihak merasa lebih berkuasa terhadap pihak lainnya sehingga ia merasa lebih berhak dan berpower melakukan kekerasan seksual dengan menganggap pihak lain lemah,” jelasnya.

Di sisi lain, pemantik kedua, Melisa Ervina, mengungkapkan bahwa korban pelecehan seksual membutuhkan sebuah sistem dan bagaimana kita bisa menjadi sistem yang baik untuk korban.

“Yang dibutuhkan oleh korban ialah sebuah sistem. Yang pertama percaya kepada korban, kemudian ketika korban menceritakan kejadiannya bersikap tenang dan jangan ambil tindakan gegabah, setelah itu berikan dia ruang berekspresi dan yang terakhir adalah proses pemulihan dengan menyarankan kepada korban untuk menjalani asesmen psikologi,” ungkapnya.

Sementara itu, pemantik ketiga, Novi Yanti Pratiwi, mengatakan bahwa banyak masalah yang muncul pasca mengalami pelecehan seksual.

“Yang pertama traumatic sexualization yaitu individu mengembangkan perilaku atipikal. Kedua, betrayal individu sulit menumbuhkan kembali kepercayaan pada orang lain serta memiliki kecurigaan yang berlebihan. Ketiga, stigmatization yaitu individu merasa buruk dan menyalakan dirinya sendiri, dan yang keempat adalah powerlessness yaitu individu merasa tidak berdaya dan depresi,” ujarnya.

Reporter: Uswatun Hasanah dan Cindy Miwi Lestari

Leave a Reply

Skip to toolbar