PELUKAN ADIK LEWAT TEGURANNYA

Barobbo, jagung rebus, perkedel, ikan bandeng, dan beberapa makanan pendukung lainnya terpapar di lantai depan dapur. Lantai yang berbeton telanjang lebih tinggi 5 centimeter dari lantai di sekitarnya. Yah, inilah ruang makan lesehan keluarga.

Adik perempuan kelas X (anak ke-3) masih mondok di salah satu pesantren kota Bone. Kakak laki-laki belum datang dari kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) petang itu. Makan malam bersama keluarga, bapak (ayah), mama (ibu), dan adik bungsu serta aku sendiri dilalui dengan keringat basah tanpa keduanya. Indikator tingkat kenikmatan makanan pada desaku dibuktikan oleh keluarnya cairan dari pori-pori tubuh.

Oh, oh. Makanannya, sunggguh lezat. “Masakan ibu dari ke-4 anak ini pasti sangat aku rindukan di tanah perantauan (Makassar) nantinya,” pikirku dalam hati di sela rasa syukur oleh kenikmatan itu.

Tubuhku lantas dibaringkan dengan perlahan di atas kasur tipis seusai makan oleh roh pemberian ilahi yang menjadi pasangannya. Layar monitor TV bercahaya menatap kasur tipis merah yang sedang menahan berat 55 kilogram.

Seorang mahasiswa semester lima dengan berat 55 kilogram itu rupanya baru pulang dari mengenyam pendidikan di tanah rantau (Makassar) beberapa hari yang lalu.

Kak, tidak boleh baring orang e setelah makan, bilang mbe’ mama dulu, ” suara gadis kelas dua SD menegur dengan mental menggurui. Matanya tertuju pada tempat peristirahatanku.

Magaiwe’na bosku (Kenapa bisa tuan)?” tanyaku pelan dengan dialek bugis khas Bone.

Meski usianya belum menumpuk, tapi ia cakap menggunakan dua jenis bahasa, Bugis dan Indonesia.

Eee, ee anu mbe,” imbuhnya kebingungan, serasa tak tahu apa yang ia sendiri akan katakan selanjutnya. Bola matanya tak karuan saat bola mataku membidiknya.

E.., e… ” lanjutnya lagi sambil menggarut kepala bulatnya. Rupanya gadis cantik itu tak ingat dan tak tahu apa yang hendak mau dia utarakan.

Merasa tertantang dengan pertanyaanku, dengan cepat perempuan yang akrab disapa Atiqa itu menyambar mama (ibu) di penghujung suapan-suapan terakhirnya. Sosok pujaan hati ayah yang selalunya paling terakhir makan dalam sesi makan berjamaah bersama keluarga.

Mama, apa di bilang itu dulue e, tidak boleh, tidak boleh tidur setelah makan orang, kulupai mbe’na,” tanyanya dengan cepat. Mimik wajahnya mengharapkan jawaban akan lebih cepat dari pertanyaannya. Matanya menajam, telinganya siap siaga menerima apapun kata yang terpercik dari master chef itu.

Sembari masih mengunyah halus makanan, perempuan asli Bone itu menjawab pertanyaan dari anak gadis bugsunya.

Boro epponggeee na’, matanreto gulaeee (perut bengkak/buncit nak, tinggi juga gulaaa),” jawabnya dengan nada penuh cinta dan kasih sayang.

Senyuman lebar tampak menghiasi wajah tembam si bocah berkulit putih itu. Kebahagiaannya terlukis menyerupai kebahagiaan seorang penjahit yang menemukan jarumnya di bawah tumpukan jerami semalaman.

Belumlah sampai raganya dan berhenti langkah kakinya, mulutnya sudah lepas landas berkata “Boro Epponngee, Awi (sapaanku dalam keluarga), maloppo matu eppotta mbe’ tappa malleppoi. Au magani (bengkak perut’e Awi, besar nanti perutta itu lalu meledak. Au bagaimanami),” ucapnya dengan nada yang menakutkan. Bibir bawahnya turun, kedua bahunya terangkat yang hampir saja menyerempet kedua ujung bawah telinganya.

“Besar memang perut bosku kalau sudahki makan, apa’ (karena) di dalam perut ada makanan,” tutur saya dengan canda namun mengancam kebenaran argumentasinya.

Mentalnya agak melunak. Sang gadis kecil mulai diam. Sepertinya sedang berusaha keras menemukan sesuatu di dalam otaknya yang terbalut tengkorak bulat itu. Bola matanya naik ke atas menatap kekosongan. Alis koreanya terangkat dengan sejajar sehinga dahinya menyempit. Bibir atas bawahnya tetap terkatup sampai beberapa detik.

Dengan kaget, tiba-tiba suaranya memantul dari mulutnya, “Anu juga e kak, tinggi gula juga na bilang mama. Gula itu penyakit, tidak baik, cepat orang meninggal,” ucapannya bersamaan dengan turunnya kedua bola matanya. Bola mata itu lalu menyerempet bola mataku seakan menunggu jawaban pembantah lagi.

Aku putuskan untuk diam, karena ini bukan debat Calon Presiden (Capres) dan Wakil Presiden (Wapres) yang akan ditayangkan esok harinya. Jika saya berucap malam itu, mungkin dan seharusnya wajib dijawab oleh pakar/spesialis kedokteran.

Belum saatnya nalar adinda menyela kerasnya bahasa kimia dan biologi.

Melihat kakaknya diam dengan lama, “Tidak boleh tu mbe tidur kalau orang baru-baru sudah makan, meskipun sebentar,” ungkapnya mengingatkan kembali saat melihat tak ada respon dariku.

Dengan cepat rohku membangunkan ragaku, karena nalar dan rasaku memberikan komando dengan tegas.

Pikir saya sebenarnya sudah tahu dampak negatif tidur usai makan. Menyebabkan ini dan itu serta itu dan ini (resiko sakit stroke, perut buncit, diare, gula/diabetes dll.). Semua ungkapan gadis kecil itu, benar adanya.

Namun karena malam itu terlalu kekenyangan, muarannya sampai menyakitkan perut saat mencoba duduk beberapa menit. Jika terus duduk bertambah sakitnya, jadi akal memutuskan untuk baring sebentar. Jika isi perut tidak lagi memberontak baru kembali duduk.

Kondisi itu sengaja saya rahasiakan untuknya. Kubiarkan ia menang dalam dialog kekeluargaan itu. Semoga engkau tumbuh dengan tetap membela kebanaran sesuai dengan isi hatimu. Namun, hati dan nalarmu harus sesuai, teruslah belajar. Aku simpankan beberapa buku ceritaku di keranjang, jika engkau kehabisan buku bacaan, ambil saja.

Konklusiku mengatakan dari berbagai pengalaman, kebiasaan anak kecil memang selalu mengimitasi (tiru) karakter orang tua dan karakter gurunya. Mungkin ini yang membuat anak kecil menjadi pemberani dalam menegakkan kebenaran.

Ketidaksesuaian pengatahuan anak dari pemberian orang tua atau gurunya terhadap realitas menyebabkan hatinya tersiksa jika ia tidak mengungkapkannya. Apa yang ia dapat dari orang tua atau gurunya adalah pijakan dasar argumentasi sekaligus perilakunya.

Aku tunggu dan rindu teguranmu adik. Tegur kakak-kakakmu jika ia salah, meskipun kau terbungsu saat ini. Kami rindu pelukanmu lewat rimba teguran yang pernah kamu persaksikan untuk kami.

Penulis: Arisnawawi, Pegiat Literasi Edu. Corner

Leave a Reply

Skip to toolbar