DAMAILAH PALESTINA DAN ISRAEL

Konflik Palestina dan Israel tidak pernah akan selesai jika kemerdekaan tidak diberikan. Suatu bangsa terjajah tidak akan pernah menyerah sebelum mereka mencapai kemerdekaannya. Kita telah belajar dari sejarah penjajahan Indonesia, di mana rakyatnya berjuang sampai titik darah penghabisan.

Sebagai bangsa Palestina tidak mungkin hilang. Mereka terlanjur ada sebagai bangsa dan pasti akan selalu ada. Tidak ada bangsa yang bisa dihilangkan melalui peperangan bahkan geneosida sekalipun. Sebagaimana kaum Yahudi yang pernah dibantai habis-habisan oleh Nazi Jerman. Namun, sebagai bangsa mereka tidak hilang dan tetap ada.

Salah satu cara mendamaikan mereka adalah memberikan kemerdekaan atas tanah mereka masing-masing sesuai dengan yang diakui oleh dunia. Jika tetap bangsa penjajah tetap menolak, maka selama itu konflik akan berlangsung. Yah, lagi-lagi suatu bangsa tidak akan hilang, sekalipun mereka terjajah.

Seharusnya bangsa-bangsa yang pernah terjajah bersatu melepaskan Palestina dan bangsa lain yang terjajah dari penjajahan. Mengapa? Karena mereka sama-sama pernah mengalami pahitnya keterjajahan. Mereka sama dalam kesejarahan yang tidak menguntungkan. Tidak ada bangsa yang merasa bangga dengan keterjajahan mereka. Justru mereka bangga dengan keterlepasan mereka dari penjajahan dengan selalu memperingati hari kemerdekaan, termasuk Indonesia, Israel dan lain-lain.

Tapi, nahasnya justru Israel sebagai bangsa yang pernah terjajah tidak merasakan dan lupa mengingat kesamaan nasib demikian. Justru mereka bangkit menjadi negara penjajah, pembunuh dan pembantai. Israel tampil dengan wajah 180 derajat berbeda, rakus dengan kekuasaan, sebagaimana negara-negara yang pernah menjajahnya.

Israel adalah sebuah negara di Timur Tengah. Setelah perang dunia I, Liga Bangsa-Bangsa (LBB) memberikan persetujuan dijadikannya mandat Britania atas Palestina sebagai negara orang Yahudi. Pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui pembagian wilayah Palestina (Israel pada saat itu) menjadi dua negara. Sebagian untuk diberikan kepada Yahudi dan sebagian diberikan kepada negara Arab Palestina.

Israel memproklamasikan kemerdekaannya pada 14 Mei 1948, dan ini segera diikuti oleh peperangan dengan negara-negara Arab di sekitarnya yang ngotot menolak rencana pembagian ini menjadi dua wilayah. Israel kemudian memenangkan perang ini dan mengukuhkan kemerdekaannya. Akibat perang ini pula, Israel justru berhasil memperluas batas wilayah negaranya melebihi batas wilayah yang ditentukan oleh rencana pembagian sebelumnya.

Sejak saat itu, Israel terus menerus berseteru dengan negara-negara Arab tetangga, menyebabkan peperangan dan kekerasan yang berlanjut sampai saat ini.

Dalam deklarasi kemerdekaan Palestina, negara Palestina digambarkan sebagai negara yang berada di “wilayah Palestina sebelumnya”, tanpa menyebutkan lebih lanjut. Karena itu, beberapa negara yang mengakui negara Palestina merujuk pada pembagian 1967. Dengan demikian, bangsa lain mengakui wilayahnya hanya yang diduduki saat itu oleh Palestina, dan bukan wilayah yang diduduki Israel.

Tidak ada alasan valid kenapa palestina tidak diakui sebagai negara secara umum. Negara yang paling tidak mau mengakui Palestina sebagai negara adalah Israel. Melansi Vox melihat bahwa konflik Palestina-Israel bermula dari bangsa Yahudi ingin mendirikan negara Israel dan bangsa Palestina ingin mendirikan negara Palestina di wilayah yang sama.

Amerika Serikat dan kebanyakan negara-negara barat tidak mengakui Pelastina sebagai negara karena lebih mendukung Israel. Melansir Institute for Policy Studies, ada hubungan erat antara Amerika Serikat dan Israel. Hampir semua Negara barat bersama Amerika Serikat mendukung Israel untuk mendirikan negara.

Palestina berperan penting dalam sejarah kuno dan modern Timur Tengah. Sepanjang sejarah, Palestina pernah dikuasai banyak kelompok, yaitu Assyria, Babylonia, Persia, Yunani, Romawi, Arab, Fatimiyah, Turki Seljuk, Tentara salib, Mesir, Mameluk dan Islamis. Selama 1517–1917, Kekaisaran Ottoman memerintah sebagian besar wilayah itu.

Ketika peran dunia pertama berakhir pada 1918, Inggris mengambil kendali atas Palestina. LBB mengeluarkan mandat. Berapa dokumen yang memberi Inggris tanggung jawab membangun tanah air bangsa Yahudi di Palestina yang mulai berlaku pada 1923, pada 1947 PBB mengajukan rencana membagi dua pelestina, yaitu wilayah independen Yahudi dan wilayah independen Arab dengan Yerusalem sebagai wilayah Internasional.

Perang Arab-Israel 1948 melibatkan Israel dan lima ngara Arab, yaitu Yordania, Irak, Suriah, Mesir, dan Lebanon. Konflik ini menandai dimulainya tahun- tahun penuh kekerasan antara Arab dan Israel dan dalam perjalanannya, Israel banyak mendapat kemenangan atas perang yang berlarut-larut ini.

Konflik ini tidak akan berakhir jika kelas sosial keduanya tidak dihilangkan, yakni kelas sosial atas (penjajah) dan kelas sosial bawah (terjajah). Menurut Karl Marx, konflik selalu berasal dari pertentangan kelas atas dengan kelas bawah. Konflik baru benar-benar bisa dihilangkan ketika tidak ada lagi kelas atas (penjajah) dan kelas bawah (terjajah) dan menuju pada kesetaran kelas atau ketiadaan kelas.

Dalam artian, untuk mencapai kedamaian kedua negara penjajah dan terjajah ini harus dihilangkan atau disetarakan. Jika Marx mengajukan dan mengimbau kepada seluruh buruh untuk bersatu melakukan revolusi sosial demi kesetaraan kelas sehingga dengan ini mampu menciptakan kehidupan yang harmonis. Maka dengan meminjam solusi Marx, negara-negara yang terjajah seharusnya bersatu, solid melawan negara yang penjajah juga dengan jalan revolusi.

Kemenangan kelas yang terjajah akan menajadikan kelas sosial menjadi setara. Pertentangan antara Israel dan Palestina yang didasarkan atas perbedaan kelas sosial yang berbeda ini jika tidak menemukan kesepakatan maka cepat atau lambat negara-negara yang terjajah atau pernah terjajah akan melakukan revolusi melawan Irsrael. Hal demikian karena tidak ada yang bahagia menjadi kelas bawah, yakni kelas yang dijajah atau dieksploitasi.

Penulis: Jamal Mirdad, Mahasiswa Pascasarjana Unhas

Leave a Reply

Skip to toolbar