MITOS DALAM BUDAYA LEMANG DESA LANTANG

Upacara atau pesta adat adalah salah satu tradisi masyarakat tradisional yang masih dianggap memiliki nilai-nilai yang masih cukup relevan bagi kebutuhan masyarakat pendukungnya. Upacara atau pesta adat erat kaitannya dengan ritual-ritual keagamaan atau disebut juga dengan ritus.

Seperti yang kita ketahui, bahwasanya setiap daerah pasti memiliki pesta adat dan budaya tersendiri. Salah satunya di Desa Lantang, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar.
Di setiap tahunnya sehabis panen, masyarakat desa Lantang melaksanakan sebuah acara adat yang biasa di sebut dengan “Aklammang/Lemang”.

Aklammang/Lemang merupakan pembuatan makanan yang dimasak di dalam bambu dengan cara dibakar. Bahan pokoknya berupa beras ketan dan berbagai macam bumbu. Dengan berbahan pokok beras ketan, tentunya tidak mudah untuk mendapatkan bahan pokok tersebut, akan tetapi itu hal yang mudah yang dapat dilakukan oleh masyarakat desa Lantang, dikarenakan masyarakat di desa Lantang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, tentunya mereka telah menyediakan beras ketan hitam berpikul-pikul untuk melaksanakan acara adat Lammang/Lemang setiap satu tahun sekali.

Sumber: Aditya Purnama Irwan

Sejak dulu adat Lammang/Lemang ini telah dilaksanakan secara turun-temurun. Masyarakat desa Lantang percaya bahwa Lemang bukan hanya sekedar budaya ataupun ajang silaturahmi semata, melainkan sebuah penanda rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberi hasil panen yang melimpah kepada mereka. Selain itu beberapa masyarakat juga percaya ketika pesta Lammang/Lemang ini tidak dilaksanakan, maka akan terjadi malapetaka kepada mereka.

Dalam acara adat ini juga terdapat sebuah ritual pemberian sesajen ke dalam sungai yang bernama sungai Lantang. Masyarakat Lantang percaya bahwa di sungai tersebut terdapat makhluk berupa buaya yang merupakan manusia sakti yang dapat berubah wujud menjadi seekor buaya. Dengan adanya kepercayaan takhayul tentu orang-orang yang tidak percaya akan hal seperti itu malah menganggap budaya ini budaya yang bersinggungan dengan agama terkhusus, agama Islam yang mengharamkan hal tersebut. Maka, kita sebagai generasi muda perlu berpikir bagaimana caranya agar tidak menyinggung pihak orang yang menganut kepercayaan tersebut dengan orang-orang yang taat akan kepercayaan agamanya sendiri.

Dari sini, kita perlu meyakinkan seseorang untuk memberikan pandangan pada orang lain yang anti akan takhayul, caranya meyakinkan bahwa adat ini bukan semata-mata untuk menghormati sebuah makhluk bernama buaya tersebut, melainkan budaya ini digunakan untuk tanda bersyukur kepada Tuhan dan sebagai ajang silahturahmi.

Dengan beberapa hal yang melandasi akan pesta adat Lammang/Lemang desa Lantang, maka tentu adat ini perlu di lestarikan agar anak cucu kita dapat menyaksikan dan menikmati keragaman budaya leluhurnya.

Aditya Purnama Irwan, Risnawati, dan Ardilla Payung Langi’, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar

*) Opini ini adalah tanggungjawab penulis sebagaimana tertera. Tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Estetikapers.com

Leave a Reply

Skip to toolbar