Sat. Sep 26th, 2020

Wansus: Perkara BLU, Menguntungkan atau Malapetaka?

Makassar, Estetika Karut marut perkara status BLU membuat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Makassar (UNM) dan jajaran aktivis kampus turut menggelar aksi menolak UNM berstatus BLU pada Senin (23/7).

Mengenai hal ini, Reporter Estetika mencoba mencari informasi. Apakah dengan diberlakukannya kelak status BLU, akan menguntungkan atau malah menjadi malapetaka untuk UNM? Awalnya, kami menemui Pembantu Rektor Bidang Sarana dan Prasarana (PR II), Kartajayadi, Jumat (27/7), setelah berbicara. Ia mengarahkan kami untuk menemui Sapto Haryoko, yang bertanggungjawab khusus mengenai segala hal terkait BLU.

Kami sempat tak berhasil menemuinya hari itu dan kembali mencarinya pada Senin (30/7) di menara Phinisi UNM. Setelah menunggu sekitar 6 jam, kami pun dipersilakan menemuinya di ruangannya.
Sapto Haryoko pum memberi penjelasan mengapa UNM musti berstatus BLU.
“Berstatus BLU itu berarti kita ingin mandiri. BLU itu lembaga yang berbasis kinerja. Nah, segala bentuk kinerja pegawai entah itu dosen atau staff, mereka akan dinilai. Jadi, yang tadinya koin akan menjadi poin. Semakin baik kinerjanya maka poinnya akan bertambah. Itu keuntungannya juga,” ujarnya saat diwawancarai Reporter Estetika di Gedung Phinisi UNM.

Selain mewawancarai pihak birokrasi UNM, Reporter Estetika juga mewawancarai Dwi Rezki Hardianto, Presiden BEM UNM yang memberi penjelasan panjang terkait alasannya mengenai penolakannya atas UNM yang hendak berstatus BLU. Berikut kami tampilkan hasil wawancara kami dengan dua narasumber tersebut.

Wawancara Estetika Bersama Sapto Haryoko (Yang Dipercaya Menangani Perkara BLU) di Menara Phinisi UNM

Sebenarnya, seberapa menguntungkan UNM apabila menyandang status sebagai BLU?Seberapa menguntungkannya UNM berstatus BLU? Justru itu sangat menguntungkan. Tidak hanya elemen-elemen pegawai di Universitas, bahkan Mahasiswa pun. Mengingat UNM masih berstatus Satker (Baca: satuan kerja).
Ruang kita itu masih belum jelas dan tidak terbatas juga. Buktinya itu keluhan yang tentang dosen. Ada yang malas dan ada yang rajin. Tapi biar bagaimanapun pendapatan mereka tetap sama. Coba bayangkan ketidakefisienan itu. Mana bisa kita sejahterah? UNM itu diatur oleh Menteri. Segala bentuk progress harus sesuai peraturan Menteri. Hanya kita tidak tahu, hasil dari progress itu dikemanakan? Saya pun sudah berkali-kali menegur dan meminta hasil dari unit usaha kita, tapi sampai sekarang tidak ada. Makanya status BLU ini harus kita capai.

Jadi usaha apa saja yang akan dilakukan UNM untuk mencapai status BLU tersebut?
Untuk mencapainya, ada empat pilar yang harus terpenuhi. Selain itu didukung oleh unit usaha yang kita dirikan. Salah satunya itu yang sudah nyata, seperti Toko ATK yang berada di seberang Jl. A.P Pettarani. Itu progress untuk mencapi BLU. Ada juga tanah di samping kampus ini, yang sekarang menjadi lahan penjualan berbagai macam tanaman, nantinya itu kita mau dirikan SPBU.

Berstatus BLU itu berarti kita ingin mandiri. BLU itu lembaga yang berbasis kinerja. Nah, segala bentuk kinerja pegawai entah itu dosen atau staff, mereka akan dinilai. Jadi, yang tadinya koin akan menjadi poin. Semakin baik kinerjanya maka poinnya akan bertambah. Itu keuntungannya juga.

Selain itu, kita ingin UNM itu sejahterah, bukan hanya pihak universitas, tetapi mahasiswanya juga. Keuntungan BLU itu salah satunya lagi meningkatkan layanan pada mahasiswa. Status BLU itu limited yang artinya terbatas. Kalau sekarang kita masih unlimited artinya tidak terbatas. Tidak terbatas itu sebagai contohnya persoalan efisiensi kehadiran dosen. Meskipun tidak hadir, mereka tetap dapat jatah. Dengan BLU otomatis mereka dipantau terus. Ingin jatah harus ada dokumentasi atau bahan bukti mereka melaksanakan tugasnya.

Lalu bagaimana dengan tanggapan mahasiswa bahwa UNM sendiri belum layak untuk menyandang gelar BLU ini, Pak?
Untuk mahasiswa yang mengatakan UNM belum layak, mungkin mindset mereka persis di perguruan swasta. Mengira UKT-nya dijadikan bahan pokok untuk disalahgunakan. UKT mereka tetap kembali ke mereka.
Hanya saja, untuk berbenah kita perlu strategi yang baik. Status UNM ke BLU itu bukan karena UKT. Apalagi mereka takutkan UKT akan semakin mahal. Bahkan menteri pun menegur saya saatpresentasi usul menjadikan UNM itu BLU kalau UKT tidak boleh dinaikkan. Jika UKT itu nominalnya tinggi maka feedback kita dari pemerintah pun tinggi juga.

Wawancara Estetika Bersama Dwi Rezki Hardianto (Presiden BEM UNM) Melalui Pesan Whatsapp

Mengenai BLU, Anda mengatakan, UNM belum berhak menyandang status tersebut. Padahal, beberapa kampus merasa bangga dengan status BLU.
Pertanyaannya, kampus apa saja yang bangga?

Misalnya, Universitas Jambi yang bersyukur atas gelar BLU-nya, dan beberapa universitas juga berlomba menjadikan kampusnya berstatus BLU. Nah, saudara sebagai presiden BEM UNM, mengapa menilai UNM belum layak menyandang status BLU?
Itu kan versi birokrasi. Coba kalau menurut mahasiswa yang telah menganalisisnya secara kritis. Pasti menilai bahwa BLU adalah usaha pemerintah untuk menjadikan kampus sebagai korporasi.

Hal ini adalah usaha korporatisasi pendidikan yang telah bertentangan dengan UUD NKRI tahun 1945. BLU adalah tahapan kedua untuk menuju PTN-BH. Ini adalah bentuk setengah hati negara dalam mengelolah pendidikan.
Ada 3 syarat yang belum terpenuhi, yaitu secara subtantif, administratif dan teknis. Syarat teknis salah satunya adalah keuangan UNM harus sehat. Yang mana di saat ini 12 kasus korupsi belum saja dituntaskan. Lalu pembangunan di mana-mana yang masih mengambang. Apalagi cacatnya demokrasi yang mempengaruhi daya kritis dari mahasiswa.

Jadi kalau misalnya 12 kasus korupsi itu diusut dan tuntutan-tuntutan yang diajukan dipenuhi. Menurut saudara, UNM sudah bisa menyandang gelar BLU?
Yah selesaikan dululah beberapa permasalahan di UNM. Turunkan biaya kuliah dan beberapa tuntutan itu harus terealisasi. Jika tidak. Yah, UNM belum bisa (berstatus BLU).

Kalau sebaliknya, semua tuntutan diabaikan tapi status BLU UNM tetap dipaksakan. Apa yang bakal saudara lakukan?
Kita akan lalui jalur litigasi untuk menggagalkannya. Proses di meja hijau. Karena gerakan ini pasti akan membesar.

Reporter: TIM Estetika

1 thought on “Wansus: Perkara BLU, Menguntungkan atau Malapetaka?

Leave a Reply

Skip to toolbar