Fri. Sep 18th, 2020

UKT Undercover, Film Penggerak Kaum Apatis Oleh BEM UNM

Gunung Sari, Estetika¬†– “…Jangan heran kawan-kawan, kelak kita akan melihat dunia pendidikan adalah ajang untuk menunjukkan siapa yang lebih glamor.” Begitulah salah satu ungkapan yang disampaikan di film UKT Undercover oleh salah seorang pemerannya yang berambut gondrong terurai.

Kamis (22/3), di Pelataran Gedung Pinisi UNM, Gunung Sari, Makassar, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan nonton bareng dalam rangka pemutaran perdana film UKT Undercover yang digarap sejak akhir bulan Februari yang lalu.

Awalnya film yang berdurasi tiga puluh menit ini akan ditayangkan di Taman Sulapa Appa Fakultas Psikologi UNM, akan tetapi karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, hujan, akhirnya dipindahkan ke pelataran Gedung Pinisi UNM.

Sekitar pukul 20.00 Wita, satu persatu mahasiswa dari berbagai fakultas yang ada di UNM mulai memadati tempat pemutaran film, selang tiga puluh menit kemudian pemutaran film dimulai.

Suasana penonton yang memadati pelataran Gedung Pinisi UNM dalam rangka Nobar film UKT Undercover, Kamis (22/3). Foto: Syahrul Gunawan/ Estetikapers.

Tujuan awal penggarapan Film ini sebagai dokumen akhir kepengurusan BEM UNM periode 2017/2018 yang mengangkat realitas ketentuan Permendikbud No. 55 Tahun 2013 pasal 1 ayat 3, yakni setiap mahasiswa hanya membayar satu komponen saja, UKT.

UKT merupakan singkatan dari Uang Kuliah Tunggal, yang merupakan nama dari sebuah sistem pembayaran yang saat ini berlaku di seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN), salah satunya ialah Universitas Negeri Makassar (UNM). Ketentuan ini berdasarkan Permendikbud No. 55 Tahun 2013 pasal 1 ayat 3.

Pemberlakuan UKT di UNM sendiri sudah diterapkan sejak lima tahun silam. Sejak 2013 yang lalu sampai sekarang (2018) telah berlaku beberapa regulasi yang mengatur pembayaran UKT, mulai dari Permendikbud No. 55 Tahun 2013, Permendikbud No. 23 Tahun 2014, Permenristekdikti No. 22 tahun 2015, Permenristekdikti No. 39 tahun 2016, dan terakhir Permenristekdikti No. 39 tahun 2017.

“Film ini dibuat sebagai rangkaian sebelum berakhirnya masa pengurusan BEM dan sekaligus dokumentasi dari BEM agar kepengurusan ini dapat dikenang,” Ungkap Muhammad Yusuf Halim Putra, saat diwawancarai setelah pemutaran film.

Selain itu, selaku Sutradara. Ia juga menyampaikan bahwa film ini adalah bentuk penyadaran kepada mahasiswa yang selama ini bersifat apatis.

“Tujuan utama, sebagai penggerak kaum apatis agar sadar tentang masalah UKT, tidak hanya mencela mahasiswa yang turun ke jalanan,” jelasnya.

Ditemui di tempat yang sama, Mudabbir, Presiden BEM UNM periode 2017/2018, menuturkan, pembuatan film ini merupakan dokumentasi pribadi BEM dan untuk menyalurkan semangat dalam berlembaga sehingga visi dan misi BEM dapat tercapai dikepengurusan selanjutnya.

“Sebenarnya film ini dibuat untuk dokumentasi BEM dan agar visi dan misi dari BEM UNM dapat tersampaikan kepengurusan selanjutnya,” tandasnya.

“Untuk pendaan diambil dari kas BEM,” tutupnya saat ditanya masalah sumber dana.

Reporter: Riska Aprilia

Leave a Reply

Skip to toolbar