Mon. Sep 21st, 2020

MAHASISWA UNM KEMBALI LAKUKAN AKSI DEMONSTRASI TOLAK KKN BERBAYAR

Makassar, Estetika Aliansi mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali melakukan aksi tolak Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbayar. Aksi ini berlangsung di depan pelataran Menara Phinisi UNM, pada Rabu (7/2).

Aksi ini merupakan rangkaian dari aksi sebelumnya, Senin (5/2), yang melibatkan ratusan mahasiswa dari sembilan fakultas yang ada di UNM, mulai dari tataran prodi hingga jurusan.

Mahasiswa yang melakukan demonstrasi mulai memadati area depan Menara Phinisi pada pukul 14.00 Wita. Tiap perwakilan dari sembilan fakultas pun menyampaikan orasi di depan massa secara bergantian.

Aliansi mahasiswa saat memadati area depan menara phinisi pada pukul 14.00 Wita, Rabu (7/2). Foto: Eugenia/estetikapers.

Tuntutan aksi yang dilayangkan mahasiswa kepada pihak birokrasi dan Menristekdikti antara lain, cabut SK KKN Berbayar, cabut UU Dikti, dan libatkan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan.

Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) diwakili oleh Dwi Rezki Hardianto, selaku sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), menyampaikan orasinya di depan massa. Ia mengharapkan pihak birokrasi UNM untuk mencabut SK Rektor tentang KKN berbayar.

“Kami (baca: Mahasiswa) mengharapkan agar pihak birokrasi mencabut SK Rektor tentang KKN berbayar ini. Jika tidak, kami para mahasiswa dengan terpaksa meminta Menristekdikti untuk turun dari jabatannya,” tegasnya.

Fathir Imran, salah satu mahasiswa dari FBS UNM juga ikut menyampaikan suaranya di depan massa yang berdemonstrasi. Ia menyayangkan sikap birokrasi yang tidak pernah melibatkan mahasiswa dalam setiap pengambilan keputusan.

“Saya sebagai mahasiswa benar-benar menyayangkan sikap pihak birokrasi Universitas yang tidak pernah melibatkan mahasiswa dalam setiap pengambilan kebijakan, padahal kebijakan yang diambil tersebut memberatkan mahasiswa,” ungkapnya.

Aksi demonstrasi tolak Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbayar menyebabkan kemacetan

Aksi demonstrasi tolak Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbayar yang berlangsung di depan pelataran Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar (UNM) sempat menyebabkan kemacetan di wilayah kota Makassar.

Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh ratusan mahasiswa UNM ini menutup dua jalur lambat dan cepat di Jalan A. P. Pettarani dari arah Utara ke Selatan. Penutupan jalan ini pun menyebabkan kemacetan parah. Pihak kepolisian sempat mendatangi kerumunan mahasiswa dan melakukan negosiasi agar mahasiswa bersedia membuka salah satu jalur sehingga dapat mengurangi kemacetan.

Mahasiswa menutup dua jalur lambat dan cepat di Jalan A. P. Pettarani dari arah Utara ke Selatan, Rabu (7/2). Foto: Eugenia/estetikapers.

Salah satu pihak Kepolisian Daerah (Polda) Makassar menyampaikan permintaannya kepada para perwakilan mahasiswa.

“Begini dinda, jalan benar-benar lumpuh total (baca: macet) mulai dari tello. Jadi bukami satu jalur ini, mulai dari urip sampai tello ini mati (baca: macet),” pintanya.

Dwi Rezki Hardianto, selaku Koordinator Lapangan pada aksi tersebut pun mengajukan penawaran kepada pihak Polda Makassar.

“Kesepakatannya, bisaji dibuka jalur asal rektor bersedia turun menemui kami (baca: mahasiswa),” jelasnya.

Rektor Tidak Dapat Memenuhi Permintaan, Mahasiswa Lakukan Pendudukan

Satu jam bernegosiasi, akhirnya Rektor UNM, Husain Syam memilih menemui mahasiswa yang berdemonstrasi. Ia menyampaikan kepada mahasiswa bahwa tuntutannya akan sulit untuk dipenuhi.

Rektor UNM, Husain Syam, saat berbicara di depan mahasiswa, Rabu (7/2).

“Saya sudah berupaya sedemikian rupa namun tuntutan kalian (baca:mahasiswa) tidak bisa saya penuhi karena peraturan bukan saya yang buat, tapi dari Menristekdikti. Seandainya saya yang buat, saya bisa cabut. Di sini saya tidak punya kewenangan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dosen Fakultas Teknik ini pun menjelaskan bahwa pihak universitas telah mengusahakan berbagai upaya untuk meringankan beban pembayaran KKN tersebut.

“Saya sudah berusaha untuk memberi keringanan dengan menurunkan jumlah pembayarannya seperti jaket dan transportasi saja yang dibayar. Adapun biaya pembekalan dan lain-lain UNM yang tanggung. Jadi itu bukan kewenangan saya untuk mencabut peraturan karena ini dibuat oleh menteri,” jelasnya.

Dengan tidak adanya titik terang dari konsolidasi antara mahasiswa dan pihak universitas, para demonstran pun memilih tetap tinggal di tempat. Hingga berita ini diterbitkan, mahasiswa masih menduduki pelataran Menara Phinisi.

Reporter: Hikmah Hardiyanti

Leave a Reply

Skip to toolbar