Sun. Sep 20th, 2020

KATRIN BANDEL BAHAS ISU AGAMA DAN SEKSUALITAS DALAM SEMINAR KESUSASTRAAN NASIONAL

Makassar, Estetika Hari terakhir Pekan Sastra II, Sabtu (28/10), pukul 9.30 Wita, Seminar Kesustraan Nasional yang merupakan rangkaian acara Pekan Sastra II yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sastra Indonesia (Sasindo) Universitas Negeri Makassar (UNM) sukses dihelat di Balroom Phinisi, Lt 2 Kampus Gunung Sari UNM. Acara ini menjadi kegiatan yang paling ditunggu oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan. Seminar yang mengusung tema “Sastra Sebagai Ruang, Sudut Toleransi, dan Sisi Kemanusiaan” ini menghadirkan Kritikus Sastra Indonesia kelahiran Jerman, Katrin Bandel.

Menariknya dari seminar kali ini,  para peserta dibekali dengan esai yang ditulis langsung oleh sang pemateri sebelum memasuki Ballroom Pinisi Lt.2. Tidak hanya itu, Aru dan Tari Paddupa yang merupakan simbol penghormatan kepada tamu terhormat turut memanjakan mata peserta seminar.

Suasana Peserta Seminar Kesusastraan Nasional Pekan Sastra II, Sabtu (28/10). Foto : Amalia Amir / estetikapers.

Pada seminar tersebut kritikus asal Jerman ini sangat mengapresiasi kegiatan Pekan Sastra II yang diselenggarakan secara mandiri oleh HMPS Sasindo.

“Saya salut sekali karena rasanya kali ini beda, acara ini benar-benar diselenggarakan secara mandiri oleh mahasiswa. Ini mungkin tidak semewah acara konferensi international tapi hal sederhana inilah yang membuat kita semakin bersemangat,” ujarnya.

Di seminar kali ini, Katrin membahas tentang dua topik penting yang sudah lama menjadi perhatiannya dalam menulis kritik-kritik sastra. Ia sedikit berbagi terkait perspektif alternatif tentang Seksualitas dan Agama dalam Sastra Indonesia Kontemporer yang beberapa dekade ini menjadi trending topics. Baginya, istilah trending topics bukanlah jumlah karya yang dominan dengan topik tersebut melainkan merujuk kepada topik yang hangat dibicarakan.

“Dua trend (Seksualitas dan Agama) itu saya maksudkan bukan dalam arti jumlah karya-karya yang berbicara tentang kedua topik itu melainkan topik-topik yang banyak dibahas, karya yang banyak direspon oleh media massa,” jelasnya.

Menurut Katrin Bandel,  fiksi pembebasan seksual mulai muncul di akhir tahun 90an. Novel “Saman” karya Ayu Utami adalah salah satunya.

“Dalam karya Ayu Utami (Saman), fiksi pembebasan seksual dianggap secara impilist menyampaikan bahwa gaya hidup bebas ala barat itu lebih maju dan membahagiakan daripada hidup berdasarkan norma agama. Emansipasi dikaitkan dengan pembebasan seksual. seakan-akan jika ingin jadi feminis harus mendobrak segala moralitas. Orang yang tidak mengikuti trend dalam novel Ayu seakan-akan kolot,” kata Katrin.

Sedangkan untuk agama, Katrin mengambil contoh fiksi Islami, ia merasa ragu untuk menyebutkan fiksi Islami sebagai bagian dari sastra atau bukan. Katrin menilai bahwa fiksi populer yang berlabel “Islami” dapat dipahami sebagai bagian dari politik identitas Islam dan dapat ditandai dengan banyaknya produk khusus yang dapat dikonsumsi dalam rangka mengekspresikan identitas Islam.

“Jadi pasca reformasi, muncul identitas Islam yang cukup me-wah! Contohnya busana muslim yang sangat luas perdaganganya. Hal ini tidak menginterpretasikan muslim apa adanya dan lebih fokus pada pesan dakwahnya,” ujar kritikus yang hobi berenang ini.

Juanda (kiri) memberi kenang-kenangan Katrin Bandel (kanan) dalam seminar kesusastraan nasional Pekan Sastra II HMPS Sasindo, Sabtu (28/10). Foto : Rahmah/estetikapers.

Katrin memberikan alternatif atas kedua permasalahan tersebut. Bagi Katrin, karya-karya yang membawa perspektif berbeda dapat ditemukan dalam novel atau cerpen baik jenis “Pembebasan Seksual” maupun fiksi Islami beberapa diantaranya yakni karya dari Mahwud Ikhwan (Dawuk), Maria Bo Niok dan Kedung Darma (Talembuk)

“Karya dari ketiga penulis itu memiliki setting yang sama, yakni dunia pedesaan di pulau Jawa, tokohnya orang-orang sederhana dan menjadi buruh migran di tanah rantau,” tambahnya.

Pada sesi tanya jawab, dosen FBS UNM, Aslan Abidin turut bertanya. Pria kelahiran Soppeng ini mempertanyakan mengapa fiksi Islami atau fiksi dakwah lebih banyak digemari oleh pembaca.

“Saya pikir memang menariknya, karena fiksi Islami dipahami sebagai politik identitas yang mengekspresikan keislaman dengan cara membeli dan membaca buku semacam itu,” jawab penulis buku Sastra, Perempuan dan Seks ini.

Reporter: Nur Amalia Amir & Nur Rahmah

Leave a Reply

Skip to toolbar