Maka Kita Berjodoh

Aku mencintai sesaat setelah Hawa diberikan kepada Adam
Kutitipkan itu pada leluhur manusia jauh sebelum kita dilahirkan takdir
Kau bisa periksa rahim ibumu, disana Tuhan telah mencangkok namaku di sela tulang rusukmu
Juga pandang garis tanganmu, wajah diriku ikut campur menjadi Wujud
Jika saja sesaat kemudian gerbong kematian singgah,
Aku masih menang sebab lebih awal merasakan Salinan surga di matamu.

Aku tahu Jari manismu telah disiapkan untuk keseluruhan diriku
Melingkar disana
Sesederhana kesaksian Alam raya terhadap simpul merpati
Saling mengikat dalam dekat tak berhimpit jauh tak berantara
Tunggal sukmamu tempat paling jernih jiwaku bercermin
Barangkali versi diriku menjelma dua, diriku separuh serta diriku di dalam dirimu
Kulafazkan sekarang saja : Maka kita Berjodoh

Makassar, 20 Desember 2017


Angkasa Cinta

Saat sampai ke pintu langit ke tujuh, kujelaskan padanya
jalur ini lintasan rinduku mengorbit Ketika pijakan kita berada dibelahan bumi yang berbeda
Setiap Rindu akan mengangkasa mengetuk gerbang langit sebelum jadi doa lalu ke permukaan menujumu
Kuingatkan; teras punggungku adalah Jodoh bagi Rangkulmu maka eratkan, jangan sampai jatuh
Sengaja kuperlambat Laju Terbangku agar kita sedikit lebih lama mengudara
Atmosfer dan Asmara saling bertemu, kedua sifatnya sama-sama menyelubungi.

Di antariksa Raya akan kuperlihatkan tarian bintang-bintang,
Merekalah kejora-kejora replika yang selalu meniru senyummu di bumi.
Lalu kita akan singgah di persimpangan rembulan, ku gelar sajadah Agar kau ikuti takbir tepat di belakangku
Di jeda sujudku dan sujudmu, Sang Maha Cinta telah mengirim Malaikat untuk mengikrarkan kita.
Diantara petak petak bulan, kita akan bermain lego.
Agar kau mengerti, segala sesuatu itu berpasangan meski diujung galaksi sekalipun.
Dan Satu hal yang aku Sadari, binar Matamu lebih Purnama dari Bulan itu sendiri.

Watansoppeng, September 2017.


Aku Mimpi Buruk

Cobalah ajak cucumu generasi akhir menaiki tangga langit lalu Bebas kebawah meneropong penduduk Semesta
Ternyata Jeda antara bising Pantura dengan Amarah adalah Bisu tersepi di keramain
Hingga Malam yang berlubang bersenggama dengan hiburan menjajakan kerlap kerlip birahi
Lihatlah album foto hari pertama di adakannya dunia, ternyata laut dan hutan yang sekarang Hanya tinggal Bangkai
Setiap meja makan tentunya sebagai hasil perjodohan antara kerakusan dan Nafkah keluarga
Ayah, lambungku butuh mencerna Nutrisi bukan limbah keserakahan
Andai saja kursi hanya sebuah ilusi, tentunya pertumpahan darah Tidak akan pernah di arsip dalam dongengan sebelum tidur
Namun sajakku Takkan pernah selesai utuh tanpa darah yang melembagakan kebencian Lakon-lakon Manusia
Apa kabar pula saudaraku yang terbaring di emperan Toko, Apakah dia Sudah makan

Barangkali tiap tiap kita lupa bahwa Masing masing Pernah di titipkan di rahim yg Benar,
Sebab Ego Masih menjadi Pribumi Di setiap sudut bumi.
Cinta hanya pesan pesan langit yg ditimbun dalam setiap kitab,
dalam waktu yang sama Tuhan diperjualbelikan Atas nama kekerasan.
pada Akhirnya kita hanya insan yang Kehilangan Diri di belantara malam,
terlalu banyak mengadopsi diri orang lain Membuat Arah angin tidak lagi memihak.
Cemara yg tumbuh tanpa menubuh mesra dengan Akarnya akan tumbang bersimpuh Hina Bersama Liarnya rumput.
Berkeringat terbangun, Ahhh Aku mimpi Buruk

Makassar, Agustus 2017.


Rostan Yuniardi, lahir di Selayar namun besar di Soppeng. Menurutnya cinta itu memerdekakan bukan membelenggu! Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Makassar angkatan 2015.

Estetika Tim