Esensi Luka Untuk Di

 

Di

Aku adalah luka yang tak sempat dikondisikan dengan musim

Jatuh terlalu dalam dan tersungkur hingga beku

Di

Meski menjadi luka adalah dinamika hidup paling sulit tapi toh aku setia menikmatinya hingga bulan menyebrangi pagi lalu kembali menjemput malam

Di

Masih ada keyakinan pada kegelapan ini

Masih ada jantung yang mengamuk dalam belukar jarak

Masih ada pula waktu yang sejatinya abadi

Maka dari itu Di

Berilah aku seteguk sari mawarmu

Maka kau akan tahu bagaimna wujud luka yang merdeka

 

 

Makassar, 17 Mei 2018

 


Garis bintang

 

Matahari lahir melumat

Mantra-mantra pecah dari dupa

Seruik badik berdendang di padang

Kegaduhan ruah merumpah saling menikam

Asmara bintang kian meruap menghujat semesta

Tapak berdarah adalah puncak pilihan

Garis bintang toh adalah badik penuh drama

Masihkah bintang benar setia

jika tidak badik di selempang siap berdarah pengantar mahkota

Aku yakin sebab tanah pijakan pertama adalah bintang dengan takdir yang tak biasa

 

Sumpang Bitta, maret 2018


Aquila

 

Aquila

Sayap kornea matamu semakin asa

Darah semakin didih

Tapi tidak dengan jantung

 

Sungguh surga

Kau mengatup mahkota Ibu pada jantung

Tanpa seizin waktu

kau pula kerap mencekik adam hingga dada dan matanya sujud tak berkata

 

Aquila

Aku tahu sukmamu sedang tak di rumah

Dia beranjak menapak roh yang tersesat

Pada belantara takdir

 

Tapi ketahuilah Aquilah Kelak di langit merah kau tetap bersayap tinggi dan bercahaya hingga roh benar meyakinimu sebagai peraduan

 

Aquila

Kau adalah bara di jantung Utara

 

Makassar, April 2018


Bahar Rawallangi. Pemuda Tondong Tallasa Kab.Pangkep, Bernama asli Baharuddin Lahir di Bonto, 19 Mei 1997. Melanjutkan studi Strata I Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Makassar (UNM) sampai sekarang. Aktif menulis puisi ketika bergabung di lembaga kesenian Bengkel Sastra JBSI FBS UNM. beralamat Jln. Mannuruki II No. 24 Makassar.

 

Estetika Tim