Sepotong Senja Dibagi Dua

Tuan menunggu bulan telanjang kaki

puan gelisah merasa risau

luka mengangkang tertibun hujan

tuan memakan senja tiada sisa

berbalik sekali lagi

jangan kau tikam puan dengan rindu

Makassar, 2017


Jalan(g)

Jalan(g) melebur di rahim-rahim kota

wanita bangka berkotek-kotek

adam mencari jalan(g) untuk tidur

lalu pura-pura bisu

meredam malam

Makassar, 2017


Suatu Masa

Suatu masa: jika kau berkenan “Izinkanlah aku menggugurkan imaji tentang kau dan diriku”, harapanku sangatlah sederhana-kau mesti bahagia mesti tidaklah bersamaku, tetap menjadi lelaki tangguh sebelum menjadikanku kekasihmu.

Suatu masa: sebelum aku pergi, akan kupastikan kau adalah lelaki yang pantas, kelak kau kan menemukan wanita yang jauh lebih sempurna dariku. Ketahuilah, saat ini aku sungguh mengharapkan kau menjadi imamku. Pernyataan sebelumnya adalah harapan yang tak aku inginkan. Jika takdir berkata lain, keinginanku hanya sesederhana itu dan ini menyakitakan.

Suatu masa : jika memanglah kita tak bersama, kecuplah keningku sebagai penanda kau tak akan melupakan ku selamanya. Kuharap kau kan mengerti hingga akhir sajak ini bahwa “kekasihmu ini bukanlah pengubah takdir”.

Makassar, 2017


Auliah Wildani Anwar merupakan pengajar muda yang menyukai kopi, sementara tengah menyelesaikan studi pada Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNM.

 


Sumber gambar: travelerindonesiablog.wordpress.com

Estetika Tim